’’LIGUE 1 harus berterima kasih kepada Ibra (Zlatan Ibrahimovic, Red). Sebab, setelah Ibra pergi, Ligue 1 tahu cara berkompetisi,’’ kata Jose Mourinho sehari sebelum perayaan Natal 2016. Pernyataan Mourinho yang kini menjadi bos Ibra di Manchester United itu merujuk pada konfigurasi papan atas Ligue 1 musim ini. Paris Saint-Germain (PSG) yang selalu menyegel singgasana klasemen di pertengahan, bahkan hingga akhir musim, kini harus terseok-seok di peringkat ketiga.
Kepergian Ibra plus pergantian posisi entraineur dari Laurent Blanc ke Unai Emery memang efektif menggerogoti kedigdayaan klub kaya asal ibu kota Prancis tersebut. Ketiadaan Ibra lah yang paling terasa.
PSG merasakan betul tuah Ibra yang selalu sukses membawa klub menjadi jawara di liga (tapi babak-belur di Eropa). Selama empat musim Ibra membela Les Parisiens, empat musim berturut-turut pula PSG merajai Ligue 1. Situasi itu membuat status 19 kontestan lain tak lebih dari sekadar pelengkap kompetisi.
Dominasi tersebut membuat Ligue 1 menjadi liga yang membosankan dan tak kompetitif. Ya, bagaimana bisa disebut kompetitif jika gap antara juara dan runner-up Ligue 1 musim lalu mencapai 31 poin? Kondisi itu juga membuat Ligue 1 terasa kering dari sisi publikasi. Boring. Ya, siapa yang tak bosan kalau lead pemberitaan di media seputar Ligue 1 selalu berbunyi ’’PSG memantapkan posisi di papan atas klasemen Ligue 1... bla...bla...bla...''
Tapi, bandingkan dengan kondisi sekarang. Saat kompetisi baru berjalan 19 pekan, PSG sudah menelan empat kekalahan. Padahal, musim lalu mereka hanya dua kali keok hingga akhir musim. OGC Nice bersama Mario Balotelli telah merusak kemapanan PSG.
************************
LIGUE 1 memang membutuhkan sosok yang bisa mengangkat pamor kompetisi setelah Ibra memutuskan hengkang ke Old Trafford. Namun, tak pernah ada yang menyangka sosok yang mereka butuhkan itu adalah Mario Balotelli. Bahkan, ketika Nice memutuskan untuk merekrutnya menjelang penutupan bursa transfer musim panas lalu, banyak yang menganggap mereka sedang melakukan perjudian. Gambling? Bisa jadi. Sebab, saat tengah menapaki usia emas (26 tahun), karir Balotelli justru berada di titik yang paling rendah.
Bahkan, nyaris tak ada klub yang bersedia memakai tenaganya. Balotelli memang sempat kembali ke Liverpool setelah masa peminjamannya di AC Milan berakhir. Namun, Juergen Klopp sebagai tactician Liverpool langsung mengirim sinyal merah. ’’Tak ada tempat buat Balotelli!’’ tegas Klopp menjelang bergulirnya musim 2016–2017. Klopp membuktikan ucapannya. Alih-alih di laga kompetitif, Balotelli bahkan tak pernah diturunkan saat Liverpool menjalani pramusim.
Nice pun datang sebagai dewa penyelamat. Tim yang 57 tahun tak pernah menyandang status juara kompetisi itu memang berambisi memutus dominasi PSG. Nah, Balotelli adalah sosok yang diharapkan bisa mendobrak dinding status quo.
Harapan tersebut mulai menuai kenyataan. Setidaknya, Balotelli sudah menemukan tempat yang nyaman di Allianz Riviera (markas Nice). Tolok ukurnya pun sangat mudah. Balotelli sudah menjauh dari yang namanya kontroversi.
Yang lebih sering muncul justru cerita kebangkitan pemain yang terkenal dengan selebrasi Why Always Me itu. Ya, sembilan gol dalam 13 penampilan sudah bisa menjadi gambaran bagaimana suasana hati Balotelli saat ini. Produktivitas tersebut jauh melampaui jumlah golnya selama semusim masa peminjamannya di AC Milan. Di sana dia hanya mengoleksi tiga gol dalam 23 penampilan.
Kehadiran Balotelli juga mendongkrak lini bisnis Nice. Terutama dari penjualan jersey. Laporan yang ditulis Football Italia menunjukkan fakta yang mengejutkan. Setiap enam menit, rata-rata ada satu jersey Balotelli yang terjual. Fakta itu membuat manajemen Nice berani mematok target penjualan 15 ribu jersey pada akhir musim nanti. Tujuh hingga delapan ribu di antaranya adalah jersey nomor 9 milik Balotelli.
********************
STADE Allianz Riviera memang tak semegah Stade de France (Saint-Denis) atau Stade Velodrome (Marseille). Stadion yang menjadi kandang OGC Nice itu hanya memiliki kapasitas 35.624 tempat duduk.
Namun, Allianz Riviera mempunyai keistimewaan yang tak dimiliki stadion lainnya di Prancis. Keistimewaan tersebut adalah Musee National du Sport. Museum olahraga nasional yang baru berumur dua tahun itu diklaim memiliki koleksi terlengkap di dunia. Total, ada 45 ribu koleksi dan 400 ribu dokumen sejarah olahraga yang tersimpan di sana.
’’Sayang, koleksi bersejarah dari klub lokal (Nice, Red) sendiri sangat minim di sini,’’ ungkap Thomas Fanari, staf komunikasi Musee National du Sport, saat menerima kedatangan Jawa Pos di Euro 2016.
Minim. Sebab, hanya empat trofi Ligue 1 yang dikoleksi Les Aiglons, julukan Nice. Itu pun sudah lebih dari setengah abad yang lalu. Tak heran jika pengelola museum seolah minder menampilkan koleksi lokal. Empat trofi Ligue 1 yang pernah diraih Nice pada 1951, 1952, 1956, dan 1959 ditempatkan di sebuah sudut yang jarang dilewati pengunjung.
Pamor deretan trofi itu masih kalah oleh memorabilia para jawara reli Paris-Dakar, Tour de France, dan tenis Roland Garros. ’’Itulah faktanya. Sudah lebih dari 50 tahun (tidak meraih trofi, Red). Semoga mereka (Nice, Red) tidak lupa cara menjadi juara,’’ ujar Thomas. (*)
*Wartawan Jawa Pos