JawaPos.com - Banjir bandang atau yang biasa masyarakat Sumatera Barat (Sumbar) sebut dengan istilah galodo, menghantam kawasan Jembatan Kembar, Padangpanjang, menyisakan duka mendalam.
Dua orang perantau yang baru tiba dari Malaysia, Asrul Nizam, 30, dan pamannya, Muliadi, 57, dilaporkan hilang terseret dahsyatnya arus air.
Keduanya diketahui sedang dalam perjalanan pulang kampung menuju Korong Kampung Jawi-Jawi Balaibaik, Kecamatan IV Koto Aur Malintang, Padangpariaman.
Niat hati ingin melepas rindu dengan sang nenek di kampung halaman, namun takdir berkata lain. Hingga kini, keluarga masih menanti kabar baik dari tim SAR gabungan.
Kronologi Perjalanan Berujung Duka
Informasi hilangnya kedua korban disampaikan oleh Yetri, 38, adik kandung Muliadi sekaligus bibi dari Nizam. Menurut Yetri, Muliadi memang rutin pulang dari Malaysia setiap lima bulan sekali. Kali ini, ia pulang bersama keponakannya, Nizam, yang rindu ingin bertemu neneknya.
Perjalanan mereka dimulai pada Rabu (26/11) dari Malaysia melalui jalur laut dan tiba di Dumai pada sore harinya. Mereka kemudian melanjutkan perjalanan darat menggunakan jasa travel.
Mobil yang mereka tumpangi diperkirakan tiba di kawasan Jembatan Kembar, Padangpanjang, sekitar pukul 00.00 WIB, Kamis (27/11).
Nahas, saat itu perjalanan terhenti karena adanya longsor di sekitar lokasi, tak lama sebelum galodo menerjang.
Tertidur Pulas Saat Galodo Datang
Detik-detik mencekam itu terungkap dari kesaksian Ani, karyawan ibu Nizam yang kebetulan menumpang mobil travel yang sama. Ani dan suaminya berhasil menyelamatkan diri setelah menyadari bahaya yang mengancam.
Namun, nasib berbeda dialami Muliadi dan Nizam. Berdasarkan keterangan Ani, saat air bah datang menyapu kendaraan mereka, paman dan keponakan tersebut dikabarkan masih tertidur lelap di dalam mobil.
Kabar ini tentu menjadi pukulan berat bagi keluarga. Yetri baru mengetahui kejadian tersebut pada Kamis pagi sekitar pukul 08.00 WIB, di tengah kondisi kampung yang gelap gulita akibat listrik padam dan sinyal yang terputus total.
Pesan Terakhir dan Harapan Keluarga
Istri Muliadi sempat menerima pesan terakhir dari suaminya pada Kamis pagi pukul 07.00 WIB. Namun, saat dihubungi kembali pada pukul 13.00 WIB, ponsel Muliadi sudah tidak aktif.
Kepastian mengenai nasib keduanya semakin jelas ketika tetangga mengabarkan pada malam harinya bahwa travel yang ditumpangi korban hilang terseret arus.
Kini, keluarga besar telah menyebar ke berbagai titik pencarian, mulai dari lokasi kejadian di Jembatan Kembar, RSUD Padangpanjang, Kayutanam, hingga RS Bhayangkara Padang.
Kondisi ini sempat disembunyikan dari sang nenek karena khawatir akan kesehatannya. Namun, ramainya warga yang datang melayat membuat sang nenek akhirnya tahu. Kondisi kesehatannya pun kini dilaporkan terus menurun.
Di tengah ketidakpastian, Yetri menyampaikan permohonan kepada pihak terkait. "Kami berharap pemerintah terus melanjutkan pencarian agar kakak dan keponakan saya dapat ditemukan," ungkap Yetri.