← Beranda

Kurikulum Program Pendidikan Vokasi UI Mengacu pada Kebutuhan Industri, Lulusannya Langsung Punya Sertifikasi

Sabik Aji TaufanSelasa, 9 Mei 2023 | 23.52 WIB
Direktur Program Pendidikan Vokasi UI, Padang Wicaksono. (Istimewa)

JawaPos.com - Seiring berjalannya waktu, pendidikan vokasi semakin menarik minat anak-anak muda Indonesia. Pemerintah juga melakukan berbagai upaya agar vokasi bisa semakin berkembang. Dengan begitu, mampu menghasilkan lulusan yang siap bersaing di industri dalam maupun luar negeri.

Universitas Indonesia (UI) menjadi salah satu pionir pengembangan pendidikan vokasi. Kampus dengan almamater berwarna kuning itu, kini sudah memiliki 15 program studi (prodi) di Program Pendidikan Vokasi. Terdiri dari 9 program Ahli Madya (D3) dan 6 program Sarjana Terapan (D4).

Sebelum bergabung, pendidikan diploma di UI diselenggarakan oleh beberapa fakultas. Lalu sejak 2008, program diploma bergabung ke dalam Program Pendidikan Vokasi. Meski baru berdiri pada tahun 2008, mahasiswa Vokasi UI telah banyak menghasilkan inovasi. Seperti Prodi Administrasi Perpajakan bersama mahasiswanya yang mendirikan Klinik Pajak.

Klinik Pajak ini setiap tahunnya melayani pengisian SPT untuk dosen dan karyawan UI maupun masyarakat umum. Padahal pelayanan ini biasa dilakukan oleh lulusan S1 yang sudah memiliki pengalaman bekerja di Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan. Namun, dapat ditangani oleh mahasiswa Vokasi UI tingkat 2.

"Kita kalau dari komposisi, 30 persen teori, 70 persen praktik. Kita mendesain mahasiswa berbasis empiris, mengenali dunia kerja. Oleh karena itu, kita membuat program yang lebih banyak berinteraksi dengan dunia kerja," kata Direktur Program Pendidikan Vokasi UI, Padang Wicaksono saat berbincang dengan JawaPos.com

Vokasi UI juga memiliki 3 teaching factory (TEFA) yang sudah berjalan dan 6 TEFA lainnya yang sedang dalam proses. TEFA yang sudah berjalan yaitu VWC, VCOOP, dan Klinik Pajak. Sarana ini dapat digunakan oleh mahasiswa untuk mengasah keterampilan kerja. Tak hanya menjadi tempat magang mahasiswa, TEFA tersebut juga mampu memberikan pelayanan kepada masyarakat umum untuk berbagai kebutuhan.

Padang memastikan, kapasitas mahasiswa Vokasi UI sudah teruji. Bahkan bisa bersaing di dunia industri dalam maupun luar negeri. Sejak tahun lalu, mahasiswa Vokasi UI juga banyak yang telah dikirim ke luar negeri seperti Inggris, Skotlandia, Hungaria, Jerman, Australia, Korea Selatan, dan Taiwan melalui program Indonesian International Student Mobility Awards Edisi Vokasi (IISMAeVO) Kemendikbudristek. Vokasi UI juga rutin mengikuti event pengembangan keahlian siswa lainnya.

Salah satu mahasiswa yang menjalani magang di negara Inggris, mampu memperbaiki Standar Operasional Prosedur (SOP) yang diterapkan oleh perusahaan-perusahaan besar. Belum lagi mahasiswa yang direkrut sebelum lulus oleh berbagai perusahaan dan jumlahnya sangat banyak.

"Kita bicara (lulusan) siap pakai, mampu menyelesaikan masalah yang ada di masyarakat," imbuhnya.

Vokasi UI juga menjadi satu-satunya kampus yang menerapkan sistem pada saat lulus, mahasiswanya telah dibekali dengan sertifikat kompetensi, tidak hanya ijazah. Sertifikat kompetensi ini melambangkan kemampuan lulusan tersebut di dunia industri, sedangkan ijazah adalah pengakuan secara intelektual.

"Sertifikasi sudah terkandung di dalam kurikulum dari tingkat 1 sampai lulus, makanya sebagian besar dosen kita merupakan asesor juga. Dosen kita punya degree, kita punya juga asesor, sudah embedded. Mulai awal-awal kita cari bentuk, sudah lulus sudah sertifikasi," ungkap Padang.

Lebih lanjut, Padang menuturkan, dalam merancang kurikulum, Vokasi UI mengacu kepada Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI). Vokasi UI tidak hanya mengejar kemampuan intelektual, melainkan kompetensi keahlian dunia industri juga sangat dikedepankan.

Direktur Program Pendidikan Vokasi UI, Padang Wicaksono. (istimewa)
Direktur Program Pendidikan Vokasi UI, Padang Wicaksono. (istimewa)

Pengembangan kurikulum pun selalu melibatkan pihak lain. Termasuk dunia industri. Langkah ini dilakukan agar terbentuk keselarasan antara materi pembelajaran dengan kebutuhan industri.

Dengan sistem seperti ini, membuat mahasiswa Vokasi UI bisa laris menjadi buruan perusahaan besar. Lulusannya bahkan diklaim tersalurkan 100 persen ke perusahaan-perusahaan di Jabodetabek maupun luar negeri. "Masa tunggu kita 0 bulan, ya (persentasenya) 100 persen," ujar Padang.

Program studi di Vokasi UI terbagi dalam tiga departemen yaitu Departemen Kesehatan Terapan, Departemen Sosial Humaniora Terapan, dan Departemen Administrasi dan Bisnis Terapan. Adapun prodi yang saat ini tengah naik daun seperti Produksi Media, Akuntansi, Manajemen Bisnis Pariwisata, dan Bisnis Kreatif.

Meskipun telah memiliki sistem yang bagus, Vokasi UI tak berpuas diri begitu saja. Fakultas tengah memikirkan skema agar mahasiswa bisa lulus dalam kurun waktu 2,5 tahun untuk D3. Tapi kelulusan ini bukan dengan sistem semester pendek. Melainkan memanfaatkan libur panjang pada periode bulan Juni sampai September untuk digunakan magang di luar program magang biasanya atau membuat suatu program.

"Kalau 3 bulan ini sudah bisa perform, semester besoknya ngapain kuliah, cukup nulis TA (tugas akhir), lah kenapa nggak kita lulusin. Kita ingin mahasiswa atau vokasi menjadi pionir, ingin mengatakan ke masyarakat, bahwa gelar bukan menjadi satu-satunya yang terpenting bagi lulusan, sekarang kompetensi itu paling penting," tegas Padang.

Kendati demikian, cara tersebut masih dalam tahap penggodokan. Pasalnya ada ketentuan administrasi untuk kelulusan mahasiswa. Selain itu, dalam satu semester juga dibatasi maksimal 24 SKS.

"Salah satu jalan, ini baru rencana sih, semester berikutnya kita kasih beasiswa. SPP-nya gratis, kan dia TA-nya selesai, tapi karena aturan administrasi kan (belum lulus). Sekarang yang penting itu bisa apa kan, mungkin lama-lama gelar hanya untuk membanggakan orang tua, tapi yang penting itu kan bisa apa," kata Padang.

Keunggulan vokasi di UI lainnya yakni calon mahasiswanya tidak dibatasi umur. Dengan catatan minimal lulusan SMA/SMK/sederajat. Kategori Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) juga bisa mengikuti pendidikan vokasi. Adapula program afirmasi dengan beberapa pemerintah daerah.

Tersedia beberapa jalur masuk Vokasi UI, baik jalur undangan (dengan seleksi nilai rapor) maupun jalur tes tertulis, seperti SNBP, SNBT-UTBK, PPKB, dan SIMAK UI. Sedangkan kuota penerimaan Vokasi UI per tahun yakni 1500 orang, atau 100 orang per prodi. Dari 100 orang tersebut terbagi menjadi dua. Yakni 50 persen untuk seleksi masuk nasional, dan 50 persen seleksi jalur mandiri.

EDITOR: Mohamad Nur Asikin