JawaPos.com–Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus memperkuat mitigasi dan kesiapsiagaan menghadapi bencana hidrometeorologi di wilayahnya. Sebab, potensi bencana masih mengintai seiring dengan masih berlangsungnya musim hujan.
Berdasar perkiraan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), kondisi cuaca ekstrem tersebut masih berpotensi hingga 8 Maret.
Penjabat Gubernur Jawa Tengah Nana Sudjana tetap mengimbau kepada seluruh pihak untuk terus memitigasi dan memetakan daerah rawan bencana alam. Masyarakat yang ada di wilayah rawan bencana diminta untuk terus memantau kondisi cuaca dan meningkatkan kewaspadaan.
”Saya harapkan masyarakat mengikuti perkiraan dari BMKG. Itu yang pertama harus kita ikuti,” kata Nana beberapa waktu lalu.
Pasalnya, potensi bencana masih berpotensi terjadi seiring belum berakhirnya musim hujan. Berdasar data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jateng, dari 1 Januari – 1 Maret, tercatat ada sebanyak 93 kejadian bencana. Dari jumlah itu, mayoritas didominasi bencana hidrometerologi seperti cuaca ekstrem, banjir, dan tanah longsor.
Atas kejadian itu, berdampak pada sejumlah warga meninggal dunia, rusaknya rumah warga, fasilitas umum, perkantoran, hingga jembatan. Total kerugian material akibat kerusakan itu diperkirakan mencapai Rp 5,6 miliar.
Berbagai upaya telah dilakukan Pemprov Jateng untuk mengantisipasi maupun menanggulangi bencana di wilayahnya, mulai dari pemetaan, pemantauan, penyebaran informasi, penyuluhan, pemasangan early warning system (EWS), gelar kesiapsiagaan bencana, menyediakan tempat evakuasi, hingga bantuan-bantuan untuk mengungsi, dan sebagainya.
Kepala Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah Imam Maskur mengatakan, anggaran Pemprov Jateng 2024 untuk seksi perlindungan sosial korban bencana alam (PSKBA) sebesar Rp 1.509.000.000. Terdiri atas bantuan permakanan, kelompok rentan, sandang, layanan dukungan psikososial, dan tempat pengungsian.
”Anggaran bidang perlindungan jaminan sosial untuk kebencanaan sudah ada,” kata Imam Maskur.
Tercatat, per 1 Maret, Dinas Sosial telah menyalurkan bantuan perlindungan sosial korban bencana alam (PSKBA) senilai total Rp 322.779.000. Dana tersebut bersumber dari APBD Provinsi Jawa Tengah tahun anggaran 2024.
Selain itu, ada bantuan untuk antisipasi kebencanaan dari Kementerian Sosial. Dana yang bersumber dari APBN 2024 tersebut per 29 Februari sudah tersalurkan sebanyak Rp 2.157.407.100.
”Dinsos itu menyalurkannya (anggaran) dari APBD Provinsi Jateng ditambah dari Kemensos. Kabupaten/kota juga ada alokasi APBD tersendiri untuk penyiapan barang kali ada terjadi bencana,” imbuh Imam.
Bantuan PSKBA dari Dinsos Provinsi Jateng dan Kemensos itu disalurkan ke beberapa daerah. Meliputi Kabupaten Banjarnegara, Grobogan, Brebes, Jepara, Tegal, Wonosobo, Demak, Wonogiri, Temanggung, Cilacap, Kudus, Pemalang, dan Kota Surakarta. Bantuan tersebut disalurkan dalam berbagai bentuk. Mulai dari permakanan, pakaian, selimut, sarung, tikar, terpal, matras, tenda, dan perlengkapan darurat lainnya.
Penyaluran bantuan yang bersifat preventif juga sudah diberikan ke kabupaten/kota. Hal itu dilakukan sebagai antisipasi apabila terjadi bencana. Pun demikian, pemerintah daerah bisa langsung mem-back up sendiri bantuan.
”Kalau seandainya terjadi kekurangan, mereka nanti mengajukan lagi kepada kami,” imbuh Imam.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga menganggarkan untuk penanganan bencana pada 2024 melalui BPBD Jateng sebanyak Rp 17,8 miliar. Untuk mengatasi bencana alam, Pemprov Jateng juga menganggarkan untuk dana tak terduga selama 2024 sebanyak Rp 25 miliar.
Meskipun demikian, antisipasi terhadap bencana hidrometeorologi juga perlu dilakukan masyarakat, khususnya yang tinggal di daerah rawan dan banjir. Masyarakat di wilayah tersebut perlu waspada dan melakukan antisipasi bila terjadi hujan dengan intensitas tinggi dan terjadi secara terus menerus.
Salah seorang warga Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Demak, Abdur Rosyid mengaku, saat ini masih mengungsi karena rumahnya terendam banjir. Bantuan pemerintah berupa makanan dinilai sudah mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari.