← Beranda

Menguak Manfaat Buah Pir untuk Mengatasi Batuk, Sesak, dan Ketergantungan Alkohol

Mangestuti AgilSabtu, 6 Januari 2024 | 18.27 WIB
MUJARAB: Buah pir yang telah dikukus dengan jahe punya khasiat untuk saluran napas seperti sesak, demam, dan rasa haus akibat minuman beralkohol. (Angger .

 

Popularitas buah pir sebagai obat batuk belakangan ini meningkat di Indonesia. Cara penyiapannya adalah mengukus daging buah bersama jahe dan langsung dimakan. Manfaat pada saluran napas ini ternyata tercatat dalam berbagai buku pengobatan tradisional Tiongkok. Farmakope Tiongkok terbitan 220 Masehi mengungkapkan bahwan buah pir dipakai untuk mengatasi demam, menekan batuk, dan mengatasi haus.

---

BUAH pir dikonsumsi sejak ribuan tahun lalu. Pemakaiannya secara turun-temurun untuk kesehatan sudah didukung hasil penelitian ilmiah, yang membuktikan perannya dalam mengatasi gangguan kesehatan. Terutama menjauhkan orang dari kerusakan fungsi organ tubuh, yang mengakibatkan tekanan darah, kadar gula darah, kolesterol tinggi, obesitas, dan kanker. Kerusakan pada organ tubuh seperti itu erat berkaitan dengan kesehatan sel.

Khasiat buar pir dalam menjaga kesehatan bahkan dipromosikan sebagai salah satu bahan alam untuk mencegah infeksi Covid-19 terhadap orang dengan penyakit bawaan. Ini bisa dikaitkan dengan info pada ensiklopedia farmakope kuno Tiongkok tentang karakter buah pir seperti ”mendinginkan”, berasa manis, dan bersifat aman. Karakter inilah yang mendasari pemakaiannya untuk mengatasi sesak dada dan napas pendek.

Karakter buah pir juga mampu dalam ”mendinginkan” organ jantung dan mengatasi lendir di saluran napas. Info ini diperjelas melalui sebuah buku kuno Korea yang menguraikan khasiat buah dalam mengatasi gangguan fungsi saluran napas seperti sesak, demam, serta rasa haus akibat minuman beralkohol.

Nama ilmiah marga tanaman ini adalah Pyrus, dari keluarga Rosaceae, dengan berbagai variasi jenis. Dalam bahasa Inggris, pir dinamakan pear. Tanaman ini diketahui berasal dari daerah pegunungan di bagian barat daya Tiongkok ribuan tahun lalu serta kini tersebar di Asia, Eropa, dan Afrika. Pir Eropa atau disebut juga pir Barat sering kali disebut dengan nama Pyrus communis. Pir Asia disebut Pyrus pyrifolia. Di antaranya, pir Tiongkok, Jepang, dan Korea. Pir ini punya ciri dan kualitas khusus seperti bentuk dan kandungan zat bioaktif.

Kandungan utama buah adalah air sekitar 80 persen, serat, gula, dan fruktosa. Kandungan zat bioaktif adalah golongan polifenol, flavonoid, terpenoid, dan glukosida yang tersebar pada daun, biji, daging buah, dan kulit. Senyawa yang menyusun kandungan itu, antara lain, arbutin, oleanolic acid, ursolic acid, chlorogenic acid, epicatechin, dan rutin.

Kaya Nutrisi

Popularitas buah pir meningkat, terutama karena rasa dan kekayaan nutrisi kandungannya. Selain pir dikonsumsi dalam keadaan segar, dari buahnya sudah dihasilkan produk komersial seperti selai, jus, jeli, dan lain-lain. Tiongkok adalah salah satu negara penghasil buah pir terbesar dunia. Terdapat sekitar 2.000 jenis kultivar tanaman pir dengan beberapa jenis asli dari Tiongkok.

Kajian ilmiah membuktikan bahwa terdapat perbedaan bentuk, rasa, jenis kulit, bau, dan kandungan buah yang berasal dari lokasi penanaman berbeda. Peneliti Tiongkok mempelajari kandungan tiga jenis buah dari area tanam berbeda di negara tersebut. Penelitian itu berhasil mendeteksi ratusan zat kandungan. Di antaranya, 68 jenis karbohidrat, 50 polifenol, 21 asam amino, dan 20 vitamin. Penelitian ini memperkuat pendapat bahwa lokasi budi daya menentukan jenis kandungan buah. Misalnya, jenis karbohidrat dan asam organik menentukan rasa manis dan asam.

Yang menarik adalah terdeteksinya kandungan vitamin B3 ( β-nicotinamide mononucleotide), vitamin K4 (acetomenaphthone), dan vitamin B5 (pantetheine) yang kadarnya berbeda antarbuah. Vitamin B3 dapat diubah menjadi zat yang diperlukan untuk menjaga viabilitas sel, yaitu berperan pada upaya pencegahan penuaan dini.

Khasiat sebagai Pemutih Kulit

Mencerahkan kulit adalah bagian penting dalam dunia kosmetologi selain upaya mengatasi kerutan dan memperlambat penuaan. Buah pir sudah diketahui mengandung zat pemutih kulit bernama arbutin. Degradasi zat itu menghasilkan senyawa hidrokuinon yang memang dipakai sebagai skin bleaching agent atau agen pencerah kulit.

Melalui studi diketahui mekanisme kerjanya, yaitu menghambat enzim tirosinase. Ini adalah enzim yang berperan dalam menghasilkan pigmen, termasuk melanin, yang mengakibatkan kulit berwarna gelap. Selain arbutin, ada zat protocatechuic acid pada kulit buah dan berkhasiat sebagai pemutih. Cara kerjanya, menghambat pembentukan melanin melalui uji dengan hewan coba.

Dalam artikel ulasan yang ditulis peneliti Israel dan Korea disebutkan, terdapat arbutin pada kulit buah pir Korea dengan kadar lebih tinggi ketimbang pir dari negara Asia lain. Hasil ini memberikan harapan besarnya potensi pengembangan kulit buah pir sebagai sumber alami zat pencerah kulit.

Ketergantungan Alkohol

Buah pir secara turun-temurun memang sudah dipakai untuk membantu mengatasi efek ketergantungan akibat minuman beralkohol. Penelitian ilmiah pun sudah dilakukan untuk mempelajari khasiat dan mekanisme kerjanya. Uji dilakukan pada hewan coba yang dibuat mengalami keracunan alkohol dan diamati efek pemberian buah pir Korea terhadap kadar enzim liver yang berperan dalam proses detoks alkohol.

Hasilnya, terjadi percepatan penurunan kadar alkohol dalam darah tikus dibanding tikus normal. Penurunan ini membuktikan aktivitas zat kandungan buah yang bersinergi bersama enzim liver dalam proses metabolisme dan pembuangan alkohol dari dalam tubuh melalui liver. Hasil penelitian sekaligus menyimpulkan bahwa efek ketergantungan alkohol dapat dikendalikan melalui konsumsi buah pir Korea sebelum menenggak minuman beralkohol. (*)

CARA PEMANFAATAN

  • Buah pir dinyatakan aman dikonsumsi asal tidak berlebihan.
  • Cobalah mengonsumsi jenis buah dari lokasi yang berbeda dan amati pengaruhnya pada tubuh.
  • Ibu hamil perlu hati-hati saat mengonsumsi buah pir.

*) PROF DR APT MANGESTUTI AGIL MS, Guru besar botani farmasi dan farmakognosi Fakultas Farmasi Universitas Airlangga

Youtube: Kanal Kesehatan Prof Mangestuti

EDITOR: Dhimas Ginanjar