← Beranda

Florence Pugh Bangga Ternyata Lumayan Jago Menendang di Black Widow

Dhimas GinanjarMinggu, 11 Juli 2021 | 21.30 WIB
DUO BLACK WIDOW: Natasha Romanoff (Scarlett Johansson, kiri) dan Yelena Belova (Florence Pugh). (Marvel Studios)
JawaPos.com - Semula film Black Widow dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai Rabu lalu (7/7). Namun, pandemi yang tak kunjung mereda membuat pemerintah menetapkan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat. Bioskop pun tutup. Sembari menunggu pembukaan bioskop lagi (yang tentu ketika menonton tetap harus menerapkan prokes ketat), mari ngobrol dengan Florence Pugh. Dalam film produksi Marvel Studios itu, dia berperan sebagai Yelena Belova, seorang Black Widow sama seperti Natasha Romanoff (Scarlett Johansson). Berikut wawancara dengannya dalam jumpa pers virtual yang diikuti Jawa Pos.

---

Bagaimana rasanya menjadi bagian dari jagat film Marvel?

It’s a huge deal! Siapa pun yang memasuki franchise besar seperti Marvel atau lainnya, pasti merasa seperti itu.

Yelena adalah salah satu tokoh sentral di komik Black Widow. Ketika memerankannya, apakah berpegang pada gambaran di komiknya?

Ya, saya sadar fans bakal membandingkan Yelena di komik dan film. Itu hal yang wajar dan pasti akan ada. Saya berusaha mendalami Yelena sebagai karakter, bukan semata meniru. Jadi, bakal sangat berbeda. Saya sangat mengapresiasi kalian yang suka dengan Yelena versi saya.

Seperti apa rasanya bekerja sama dengan Scarlett Johansson?

Luar biasa, seperti yang kalian bayangkan. Dia sangat kocak dan seru. Scarlett adalah seorang yang sangat paham dengan apa yang dilakukannya. Saya harus bisa mengimbanginya dengan segala kelebihannya.

Seberapa sulit memerankan adegan laga di film ini?

Tentu saja, kita dituntut sangat aktif, bugar, dan sanggup melakukan adegan laga di film ini. Bagian terbaiknya, para stunt mau mengajari siapa pun yang ingin melakukan sendiri adegan action-nya. Buat seseorang yang semasa kecil sering memanjat pohon dan jumpalitan, hal seperti itu tentu saja menakjubkan.

Ada hal yang mengejutkan selama syuting?

Ternyata saya lumayan jago high kick dan menendang! Menyenangkan banget rasanya saat tahu ternyata kita nggak jelek-jelek juga melakukan hal yang belum pernah dicoba sebelumnya.

Di komik, Yelena dikisahkan menjadi Black Widow selanjutnya. Begitu juga di film?

Jujur, saya tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan ini. Ada banyak Black Widow, tidak cuma satu atau dua. Mungkin orang lupa bahwa Black Widow adalah sebuah program. Tentu saja, saya yakin akan banyak cerita setelah (film) ini. Yang bisa saya bilang saat ini, (syuting Black Widow) adalah pengalaman keren. Saya tidak tahu ada apa lagi nanti.

Penayangan film ini ditunda sampai dua tahun. Bagaimana menjaga rahasia film ini?

Sebagai orang yang doyan ngobrol, kurasa saya termasuk orang yang bisa menjaga rahasia. Saya selalu membelokkan obrolan kalau ada yang menyebut Marvel, Black Widow, dan apa pun terkait film ini. Dan sejak awal, Black Widow memang penuh rahasia. Saya bahkan tidak mendapat naskah lengkap, cuma cuplikan dialogku. Cate (Shortland) pun nggak bisa berkata banyak. Dia meyakinkan saya hanya dengan bilang ”Film ini bakal epik! Percayalah padaku!”

CERITA DARI BALIK LAYAR

ROB INCH, KOORDINATOR STUNT

- Biker dan pemeran stunt Sarah Lezito direkrut setelah tim produksi menonton video YouTube-nya ketika beraksi di motor. Stunt Lezito bisa disaksikan di scene pengejaran di Budapest.

- Johansson diizinkan melakukan hampir seluruh adegan stunt-nya karena memiliki pengalaman panjang di film action dan Marvel.

ERIC PEARSON, PENULIS NASKAH FINAL

- Jika harus menggambarkan genre film, Black Widow adalah gabungan film action dengan gaya spionase plus unsur thriller sekaligus drama keluarga yang dark.

Baca Juga: Pemkot Surabaya Siapkan Vaksinasi untuk 130 Ribu Anak

CHARLES WOOD, PRODUCTION DESIGNER

- Set paling sulit sekaligus termahal di Black Widow adalah pesawat. Tim produksi membeli empat helikopter besar pabrikan Rusia, yang eksterior dan interiornya –hingga tombol di panel kontrol– dibuat identik satu sama lain.
EDITOR: Dhimas Ginanjar