← Beranda

Melawan Ruang Tunggu Kematian dengan Daya Hidup

ISBEDY STIAWAN ZSSabtu, 8 April 2023 | 22.00 WIB
COVER BUKU

Buku Ruang Tunggu: Puisi-Puisi 2018–2022 karya Handry TM ini menjadi catatan sekaligus kenangan ihwal perjalanan penyair dalam empat tahun menanggung sakit karena gagal ginjal.

antara kekal dan fana

kematian tak harus

dekat jaraknya

INI puisi pertama dalam kumpulan puisi 2018–2022 karya Handry TM. Puisi-puisi penyair Indonesia asal Semarang yang ditulis empat tahun terakhir ini disusun menjadi empat bagian: ”Embun” berjumlah 65 puisi, ”Pisau” (21 puisi), ”Tanah” (28 puisi), ”Airmata” (26 puisi). Kata pengantar ditulis Yudhistira ANM Massardi.

Bait terakhir puisi ”Arteriovenous Shunt” ini mengentakkan saya; bahwa penyair yang ketika menulis puisi ini bolak-balik ke rumah sakit untuk cuci darah menyadari ”kematian tak harus dekat jaraknya” sebab memang tak lagi berjarak!

Selengkapnya, puisi ”Arteriovenous Shunt” tersebut demikian:

darah mengalir dari pembuluh

mencari jalan keluar, karena darah

tak mengandung ruh atau jiwa,

keluar-masuk secara mekanik,

dari tubuh ke mesin, kembali lagi

pembuluh vena

 

dua celah saling bertaut,

menawarkan hidup dengan alat

yang kita sendiri tak tahu

di manakah letak sumber

hidup ini

 

doa-doa tergumam

aku atau kaukah yang terlebih

dahulu menghadapnya?

 

antara kekal dan fana

kematian tak harus

dekat jaraknya

 

Pada bagian pertama (subjudul ”Embun”), saya dapat meyakini di antaranya ditulis Handry dalam keadaan sakit gagal ginjal dan harus bolak-balik ke rumah sakit untuk mencuci darah. Ia sudah akrab pada ruang medis; juga orang-orang yang sama penyakitnya. Tidak heran buku ini didedikasikan penyairnya kepada ”para penderita gagal ginjal”.

Handry TM kelahiran 23 September 1963 dan wafat pada 24 Februari 2023. Ia menulis prosa, puisi, dan karya jurnalistik. Dia pernah berkhidmat di Suara Merdeka sebagai jurnalis.

Karya-karya prosanya –cerpen dan novel– telah tersiar di berbagai media massa cetak dan buku. Begitu pula puisi-puisinya tersebar di pelbagai media, buku tunggal, dan antologi bersama.

Saya pernah seperjalanan dengan Handry ke Ubud atau muhibah sastra ke Sabah, Malaysia, sebelum ia dinyatakan sakit. Sejak itu ia tak lagi ”pelesir” ke mana-mana. Namun, kami tetap berkomunikasi melalui jaringan pribadi.

Ternyata semasa di ”ruang tunggu” justru penyair ini makin produktif. Bahkan memenangi lomba cipta puisi esai se-Asia Tenggara, menerbitkan buku prosa dan puisi, dan terlibat di sejumlah antologi bersama.

Buku puisi Ruang Tunggu terbitan Kosa Kata Kita bekerja sama dengan Rumah Kertas 2023 ini bukti bahwa ”sakit” tak membunuh kreativitas. Handry ingin melawan ruang tunggu kematian dengan cara menyalakan daya hidup. Ya, ”daya hidup/adalah keberanian/mulia!” (”Quotes”, 179).

Puisi ”Quotes” yang ditulis tangan ini seakan sebagai keriangan penyair Handry yang sedang berada di ruang tunggu, dari penantian tak pasti/sekarang atau entah nanti/kita harus kembali// (”Selekas Ini”, 4).

Banyak puisi Handry TM bicara maut atau setidaknya tengah menanti antara maut dan sehat di tempat bernama ruang tunggu. Di ruang tunggu itu pula sang penyair menyaksikan serekan di situ yang lebih dahulu berpulang/pergi. Dan, diam-diam Handry merasakan ”... entah nanti/kita harus kembali”.

Betapa pedih nasib orang-orang yang berada di ruang tunggu. Saya merasakan sangat dekat, bahkan seperti mengalami, dan berada di ruang tunggu itu pula.

Intuisi dan imajinasi penyair ini begitu tajam. Ia mengendus daya hidup sekaligus ”betapa sendiri/di alam yang terus berganti” (halaman 5) untuk ”entah nanti kita harus kembali” (halaman 4).

Kembali kepada Ilahi itu pasti. Seperti dijanjikan Tuhan bahwa setiap yang bernyawa pasti mati. Tetapi, dalam perjalanan menuju kematian, seseorang bisa mengisinya dengan kebajikan dan kreativitas. Kedua ini yang akan tercatat dan dikenang.

Buku Ruang Tunggu: Puisi-Puisi 2018–2022 karya Handry TM ini menjadi catatan sekaligus kenangan ihwal perjalanan penyair dalam empat tahun menanggung sakit karena gagal ginjal.

Handry TM wafat pada 24 Februari 2023 pada usia 60 tahun. Ternyata ia mempunyai puisi bertajuk ”Februari” (halaman 24). Membaca puisi ini, saya merinding. Seakan ajal sudah tak lagi ada jarak!

Simaklah puisi ”Februari” Handry ini.

februari masih membasah, lihatlah dari jendela

aspal menghitam lembab, hujan berserat-serat

jatuh di ujung daun, di jalan khatib sulaiman

taksi merambat dari bandara kota

menuju hotal yang tak kita terka, tuhan menitip

alamat agar kita sampai

 

malam pun tua, udara membeku

kuingat kau saat hilang barisan, sebelum

menuju kota biru

 

kulepas sepatu, taksi berlalu, kulepas kaus kaki

sambil bersandar di kursi berwarna gelap itu

di manakah kau?

 

februari masih membasah, titik embun berpecahan

menempel pucuk rumput di tepi jalan panjang

kota padang

 Baca Juga: Kian Lenyapnya Sakralitas Tanah dan Ruang Hidup di Madura

Bagi Handry, ruang tunggu adalah juga ketakpastian. Apa yang ditunggu? Tak ayal dalam penungguan itu, penyair pun sempat protes –atau setidaknya mengusik– bahwa ternyata Tuhan tidak menepati//”adakah yang ingkar dari sebuah/ruang tunggu?” (puisi ”Ruang Tunggu 1”, halaman 159).

Ya, sememangnya kita tidak pernah ragu pada kekuasaan-Nya. Pada kepastian-Nya. Begitu pula penyair Handry TM. Seperti sudah ditulisnya dalam puisi ”Selekas Ini” (halaman 4) yang saya nukil di atas:

tuhan telah membawamu/dari penantian tak pasti/sekarang atau entah nanti/kita harus kembali//selamat jalan

Selamat jalan tuan penyair. Kelak kami menyusul: harus kembali! (*)

---

  • Judul: Ruang Tunggu: Puisi-Puisi 2018–2022
  • Penulis: Handry TM
  • Penerbit: Kosa Kata Kita-Rumah Kertas Lukisan sampul: Sitok Srengenge
  • Terbit: 2023
  • Tebal: xviii + 181 halaman
  • ISBN: 978-623-6425-96-1

---

*) ISBEDY STIAWAN ZS, Sastrawan Indonesia bermukim di Lampung. Ia menulis puisi, cerpen, esai, dan karya jurnalistik. Buku puisi terbarunya Nuwo Badik dari Percakapan dan Perjalanan, Ketika Aku Pulang, Masuk ke Tubuh Anak-Anak, dan lain-lain.

 

 

EDITOR: Ilham Safutra