JawaPos.com - Kehadiran warga yang mengatur lalu lintas atau disebut Pak Ogah kerap mendapat tanggapan berbeda masyarakat Jakarta. Banyak yang menyebut kehadiran mereka justru menambah kemacetan. Alasannya, Pak Ogah hanya mengatur lalu lintas yang mau memberikan uang. Hal itu memperparah kemacetan.
JawaPos.com menemui seorang Pak Ogah di Jl. Tambak, Pegangsaan, Menteng, Jakarta Pusat, tepatnya di depan RSIA Tambak, Rabu malam (26/7). Pak Ogah yang tidak mau menyebutkan namanya itu tidak mau banyak menceritakan pekerjaannya.
Tampak, kebiasaan Pak Ogah pilih-pilih dalam membantu pengendara. Hal itu membuat rekayasa lalu lintas di Jakarta tambah kacau. Mereka hanya memberikan jalan untuk kendaraan yang membayar saja, khususnya mobil.
Menurutnya, tukang parkir jalanan telah mengetahui pengendara mana saja yang akan memberikan upah. Kemudian Pak Ogah dengan sigap membantu pengendara tersebut.
"Ya yang buka kaca (mobil) itu yang pasti mau ngasih duit jadi saya samperin bantu puter balik, kalo enggak ya saya awe-awe (lambaikan tangan) aja teriak 'terus -terus'," jujur dia.
Di beberapa titik kemacetan di Jakarta, bahkan hampir di seluruh wilayah di Ibukota terdapat campur tangan Pak Ogah. Hal tersebut dibenarkan oleh salah satu petugas Dinas Perhubungan (Dishub), Faisal Permadi, yang sudah cukup sering menangani kasus Pak Ogah.
"Semua daerah banyak. Paling parah di Selatan itu Manggarai, dan di Utara," ujar Faisal kepada JawaPos.com saat bertugas di Monas, Jakarta Pusat, Rabu (26/7).
Pengamat Transportasi Ellen Tangkudung menyatakan, Pak Ogah belum bisa mengatasi masalah kemacetan di Jakarta. Meskipun begitu, menurut Ellen, pada beberapa tempat persimpangan atau putar balik, keberadaan Pak Ogah masih sering dicari oleh masyarakat.
"Pak Ogah itu mengatur lalin (lalu lintas) karena mau dibayar. Jadi dia hanya mengatur yang mau bayar, artinya yang mau belok, yang susah. Sehingga tidak melihat dari titik kemacetannya. Jadi cuma melihat siapa yang mau bayar, beri kesempatan, kemudian bayar," tuturnya kepada JawaPos.com melalui telepon, Rabu (26/7).
"Jadi menurut saya itu tidak mengatasi. Walaupun bagi sebagian orang menolong,karena dia mau belok ada yang nolong. Malah suka dicari, mana Pak Ogah nya kok gak ada. Seperti itu," sambungnya.