← Beranda

Cari Penyebab Kematian Ipin, Penyidik Pelajari Patahan Rumput

Suryo Eko PrasetyoKamis, 5 Januari 2017 | 10.56 WIB
Teka-Teki Kematian M. Djohan Arifin alias Ipin

JawaPos.com – Polisi masih berupaya menguak penyebab kematian M. Djohan Arifin alias Ipin. Hingga Selasa (3/1) belum diketahui apakah Ipin tewas lantaran didorong orang ke sungai ataukah tercebur karena mabuk.


Karena itu, polisi terus berupaya memeriksa saksi tambahan. Tim gabungan dari Satreskrim Polrestabes Surabaya dan Polsek Genteng terus berusaha menemukan petunjuk.


”Ada delapan saksi lagi yang sudah kami korek keterangannya. Jadi, total ada sepuluh saksi,” jelas Kasatreskrim Polrestabes Surabaya AKBP Shinto Silitonga.



Delapan saksi tersebut selama ini bekerja di Kafe So. Mulai penjaga, petugas keamanan, purel, hingga pengelola. Pemeriksaan dilakukan karena mereka mengetahui keributan yang terjadi.


Kepentingan yang lain, dari sana polisi akan mengetahui siapa saja orang yang biasa berkunjung ke Kafe So itu. Sebab, informasinya, Ipin sering datang ke sana. ”Setidaknya banyak orang yang mengenalnya,” katanya.



Agar lebih gamblang, polisi juga berusaha menggambarkan situasi kafe saat Ipin berada di dalam kafe. Pada Senin (2/1), polisi kembali mendatangi kafe tersebut.


Di sana mereka mempelajari posisi duduk orang-orang yang berkunjung ke sana. Saat ditanya ciri-ciri pelaku apakah ada hubungannya dengan bodyguard kafe, Shinto mengatakan bahwa hal itu masih didalami.


Menurut keterangan Taufik Dicky, adik ipar Ipin, orang yang sempat merangkul kakaknya punya ciri-ciri berbadan besar. Bisa jadi orang itu adalah bodyguard.



Apalagi, korps berseragam cokelat itu juga mendapat kabar bahwa Ipin sempat ditagih uang. Kabarnya, warga Sidosermo Gang Langgar tersebut punya utang minuman di sana.


”Itu salah satu kemungkinan motif. Kami juga berupaya mendalami beberapa motif lain,” imbuh Shinto.



Shinto mengatakan bahwa tidak tertutup kemungkinan muncul motif lain. Misalnya, soal asmara, dendam, senggolan saat berjoget, hingga faktor pengaruh minuman keras.


”Semuanya akan kami petakan. Nanti mengerucut sesuai dengan keterangan saksi-saksi yang kami periksa,” ujar alumnus Akademi Kepolisian (Akpol) 1999 itu.



Kepolisian juga masih menyelidiki lokasi korban jatuh. Para saksi tersebut tidak melihat apa yang terjadi di luar kafe. Tiga titik lokasi patahan rumput yang ditemukan saat prarekonstruksi Senin lalu (2/1) menjadi kunci.


Logikanya, kalau ada rumput yang patah, bisa jadi disebabkan tertimpa tubuh Ipin. Polisi memprediksi, ayah dua anak itu tercebur tak jauh dari sungai. Tiga titik penemuan yang berjarak sekitar 2 meter tersebut dijadikan patokan.



Jawa Pos kemarin juga kembali mendatangi sekitar Kafe So. Suasananya sepi karena kafe itu baru mulai didatangi pengunjung di atas pukul 21.00.


Menurut salah seorang pengelola sebuah warung makan yang enggan disebut namanya, pada saat malam tahun baru, kompleks kafe di Kayoon tersebut memang ramai. Dia mengaku memang sering melihat Ipin.


”Saya tidak tahu namanya. Cuma tahu orangnya. Dikasih tahu anak-anak kemarin (Senin) kalau mati,” katanya.



Dia mengatakan, di kafe-kafe Kayoon memang biasa terlihat orang yang bertengkar. Biasanya, keributan terjadi di atas pukul 02.00 hingga menjelang subuh.


Penyebabnya pengaruh minuman keras. ”Di sini biasa, ada yang bikin resek ya disuruh pulang sama yang lainnya,” sebut pria berusia 46 tahun itu. (did/c6/git)


EDITOR: Suryo Eko Prasetyo