← Beranda

Inilah Bagaimana Trauma Bisa Mengubah Otak dan Untuk Sembuh dari Trauma yang Telah Lama

Intan PuspitasariJumat, 10 Oktober 2025 | 23.27 WIB
Inilah Bagaimana Trauma Bisa Mengubah Otak dan Untuk Sembuh Dari Trauma yang Telah Lama (Freepik/ Drazen Zigic)

JawaPos.com - Pernahkah kamu tiba-tiba merasa seperti lepas dari kenyataan? Seakan kamu sedang berada di alam yang berbeda Atau jantung berdebar kencang karena hal kecil yang sebenarnya biasa saja, tidak berbahaya, dan kamu tak tahu alasannya? 

Jika kamu pernah merasakannya, tenang kamu tidak sendirian. Itu adalah cara otakmu berusaha melindungi diri dari trauma, bahkan meski trauma tersebut sebenarnya sudah bersemayam lama di dalam diri. 

Pada salah satu video di kanal Youtube psikologi populer yakni Psych2go dijelaskan bahwa, trauma tidak hanya mengubah kita secara emosional, tetapi juga secara neurologis. Otak yang dulunya bekerja secara seimbang bisa “terjebak” dalam mode bertahan hidup terus menerus, dan membentuk cara berpikir baru dalam merasakan, dan merespons dunia. 

Disini akan dibahas tentang bagaimana trauma mengubah struktur otak dan, yang lebih penting, bagaimana proses penyembuhan bisa membantu otak pulih dan kembali tenang. Yuk baca sampai akhir!

Bagaimana Trauma Mengubah Struktur Otak

Bayangkan otakmu seperti bandara besar dengan banyak bagian yang punya fungsi berbeda. Bagian-bagian tersebbut meliputi: 

  1. Prefrontal cortex sebagai menara kontrol. Bagian rasional otak yang membantu mengambil keputusan, menyelesaikan masalah, dan menenangkan diri.

  2. Amygdala berperan sebagai sistem alarm. Bagian kecil berbentuk almond yang mendeteksi bahaya dan memberi sinyal untuk bertahan, dan

  3. Hippocampus sebagai bagasi. Bagian yang mengatur dan memproses memori, menentukan mana yang penting dan mana yang bisa disimpan.


Ketika seseorang mengalami trauma, sistem ini menjadi kacau. Amygdala bekerja terlalu aktif, memicu rasa takut dan kewaspadaan berlebihan terhadap hal-hal kecil yang sebenarnya aman. 

Sebaliknya, prefrontal cortex menjadi kurang aktif, membuat kita sulit mengatur emosi, fokus, dan berpikir jernih. Itulah mengapa saat panik, kita menjadi kesulitan berpikir dengan logis.

Sementara itu, hippocampus bisa menyusut akibat stres berat, yang menyebabkan gangguan memori dan kesulitan memproses informasi baru. Ini menjelaskan kenapa banyak orang yang mengalami trauma sulit mengingat bagian tertentu dari masa kecilnya, atau bereaksi dengan hal-hal sepele yang sebenarnya aman.

Efek Dissociation - Saat Otak Memutus Sementara Hubungan dengan Realita

Salah satu efek paling umum dari trauma adalah dissociation, yakni perasaan lepas dari kenyataan. Kamu seakan merasa tidak hidup di dunia nyata. Penjelasannya, dalam kondisi ekstrem, otak akan “memutus aliran listrik” agar tidak terbakar oleh emosi berlebihan. 

Dissociation adalah cara otak bertahan, seperti sekring yang putus untuk melindungi rumah dari korsleting. Namun jika berlangsung lama, hal ini bisa membuat seseorang kehilangan koneksi dengan tubuh, emosi, bahkan identitasnya sendiri. Akibatnya, penyintas trauma sering merasa “terjebak” di masa lalu yang ingin mereka tinggalkan.

Terjebak dalam “Trauma Loop”

Trauma loop terjadi ketika otak dan tubuh tidak sadar bahwa trauma sudah berlalu. Sistem saraf tetap terjebak dalam mode bertahan hidup: fight, flight, freeze, atau fawn.

Akibatnya, pengalaman dan emosi yang sama terus berulang, seolah hidup dalam lingkaran déjà vu.

Hal kecil seperti suara pintu dibanting atau bau tertentu bisa memicu kembali reaksi panik, bahkan ketika situasinya aman. Tubuh belajar bahwa menghindar memberi kelegaan sesaat, tetapi justru memperkuat pola lama. Inilah yang menyebabkan stres kronis, emosi berlebihan, dan tubuh terasa tegang bahkan di keadaan aman.

Cara untuk Sembuh dan Keluar dari Trauma yang Mengakar

Sepertinya terlihat berat, tapi otak sangat bisa pulih seperti sedia kala. Berkat neuroplasticity, otak manusia memiliki kemampuan luar biasa untuk berubah, beradaptasi, dan membentuk koneksi baru bahkan setelah sembuh dari trauma yang sangat kuat.

Proses penyembuhan memang membutuhkan waktu dan dukungan, tetapi dengan terapi, lingkungan yang tepat, dan melakukan cara tertentu, otak bisa belajar bahwa dunia kini lebih aman. Berikut beberapa cara penyembuhan berbasis riset yang terbukti membantu otak pulih:

1. Mindfulness dan Grounding

Ketika kamu merasa hilang dari kenyataan, latihan mindfulness bisa menyalakan kembali  kesadaranmu. Sadari hal-hal sederhana di sekitarmu misalnya merasakan dingin kakimu di lantai, suara kipas, atau aroma yang kamu hirup.

Teknik sederhana seperti 5-4-3-2-1 grounding ini bisa membantu. Caranya, sebutkan 5 hal yang kamu lihat, 4 hal yang bisa kamu sentuh, 3 hal yang kamu dengar, 2 hal yang kamu cium, dan 1 hal yang kamu rasakan di lidahmu. Latihan ini membantu otak menyadari bahwa “Aku aman. Aku di sini. Saat ini nyata.”

2. Olahraga

Olahraga tidak hanya menyehatkan tubuh, tetapi juga menyembuhkan otak.

Riset menunjukkan bahwa aktivitas fisik dapat menyeimbangkan hormon stres seperti kortisol dan meningkatkan ukuran hippocampus (bagian otak yang sering menyusut akibat trauma).

Tidak harus olahraga berat. Berjalan santai, meregangkan tubuh, menari, atau yoga bisa membantu. Khususnya yoga dan somatic therapy, yang menggabungkan gerakan, pernapasan, dan mindfullness, terbukti membantu sistem saraf belajar merasa aman kembali.

Perlu diperhatikan, bahwa trauma bukan hanya ada di pikiran, tapi tersimpan di tubuh. Gerakan memberi sinyal pada tubuh: “Bahaya sudah lewat. Aku bisa bergerak bebas lagi.”

3. Mulai Membangun atau Masuk ke Relasi Sosial yang Aman

Karena trauma sering terjadi dalam hubungan (melalui pengkhianatan, penelantaran, atau kekerasan), penyembuhan juga terjadi lewat hubungan yang sehat. 

Dukungan dari teman, komunitas, atau kelompok terapi bisa membantu otak membangun ulang  kepercayaan. Setiap kali seseorang mendengarkanmu tanpa menghakimi, atau memberi pelukan yang tulus, otakmu belajar bahwa koneksi bisa aman dan menyembuhkan.

4. Ekspresi Kreatif

Bagi banyak penyintas trauma, kata-kata sering kali tidak cukup. Terapi seni menjadi cara aman dan ekspresif untuk menyalurkan emosi yang sulit dijelaskan. Melalui menggambar, melukis, membuat kolase, atau menulis, seseorang dapat menyalurkan rasa sakit, mengurai emosi, dan membangun kembali makna hidup.

5. Terapi Profesional

Pendekatan seperti EMDR (Eye Movement Desensitization and Reprocessing) dan terapi somatik dirancang khusus untuk membantu otak memproses trauma yang tersimpan.

Selain itu, terapi CBT (Cognitive Behavioral Therapy) dan IFS (Internal Family Systems) juga membantu mengubah pola pikir dan perilaku yang terbentuk dari trauma.

Jika terapi terasa menakutkan atau belum terjangkau, kamu bisa mulai dari langkah kecil seperti membaca buku, mendengarkan podcast tentang trauma, atau bergabung di komunitas daring yang aman dan suportif.

Sebagai penutup, proses menyembuhkan trauma ini memang tidak instan, namun setiap langkah kecil mulai dari menyadari napas, bergerak, berbagi cerita, adalah sinyal bahwa kamu sedang pulih. Kamu tidak sendirian, kamu tidak lemah, kamu hanya sedang berproses. Dan otakmu, sebagaimana tubuhmu, punya kemampuan luar biasa untuk sembuh dan berkembang. Jangan ragu untuk menemui tenaga profesional jika harimu mulai terganggu.  

EDITOR: Novia Tri Astuti