← Beranda

11 Kebiasaan Sepele yang Bisa Menghancurkan Pernikahan Lebih Cepat daripada Perselingkuhan

Niko SulpriyonoMinggu, 28 September 2025 | 14.38 WIB
Ilustrasi Kebiasaan Sepele yang Bisa Menghancurkan Pernikahan (Freepik)

 

JawaPos.com - Pernikahan bukan hanya tentang cinta, melainkan juga tentang bagaimana dua orang menjaga kepercayaan, komunikasi, dan kebersamaan setiap hari. 

Banyak pasangan berusaha keras menghindari masalah besar seperti perselingkuhan, namun sering kali tidak menyadari bahwa kebiasaan kecil justru bisa lebih cepat menghancurkan rumah tangga.

Hal-hal sepele yang tampak tidak berbahaya pada awalnya dapat berkembang menjadi masalah serius apabila terus dibiarkan. 

Sikap yang dianggap wajar, seperti terlalu sibuk dengan ponsel atau melupakan rasa syukur, ternyata bisa menimbulkan luka emosional mendalam bagi pasangan.

Artikel ini akan membahas 11 kebiasaan yang kerap tidak disengaja namun berdampak lebih buruk bagi pernikahan daripada perselingkuhan yang dirangkum dari Your tango pada Sabtu (27/09) . 

Dengan memahami hal-hal ini, Anda dapat lebih waspada dan menjaga hubungan tetap sehat, penuh cinta, dan harmonis dalam jangka panjang.

1. Terlalu Banyak Menggunakan Ponsel

Kecanduan ponsel tidak hanya mengganggu produktivitas, tetapi juga dapat menciptakan jarak emosional dalam hubungan. 

Ketika pasangan lebih banyak menatap layar ketimbang saling berinteraksi, komunikasi yang seharusnya hangat menjadi dingin. 

Rasa diabaikan dapat membuat pasangan merasa tidak dihargai.

Selain itu, kehadiran ponsel saat waktu bersama menandakan prioritas yang salah. 

Alih-alih fokus pada percakapan dan kebersamaan, perhatian terbagi sehingga menimbulkan kesalahpahaman. 

Kebiasaan ini bila berlanjut akan mengikis rasa kedekatan emosional.

Menyisihkan waktu bebas gawai untuk benar-benar hadir bersama pasangan adalah langkah sederhana namun efektif. 

Hal ini membantu mempererat ikatan batin serta menunjukkan bahwa pasangan adalah prioritas utama.

2. Berbicara Negatif tentang Pasangan

Mengeluh tentang pasangan kepada teman atau keluarga sering dianggap wajar, padahal hal itu dapat menjadi bumerang. 

Ucapan negatif yang tersebar bisa merusak citra pasangan sekaligus menurunkan rasa hormat dalam hubungan.

Ketika pasangan mengetahui dirinya dibicarakan secara buruk, rasa percaya akan berkurang. 

Bahkan, meskipun niat awal hanya untuk melampiaskan perasaan, dampaknya bisa membuat hubungan menjadi renggang.

Alih-alih berbicara di belakang, lebih baik menyampaikan perasaan langsung kepada pasangan dengan cara yang bijak. 

Komunikasi terbuka akan membantu menyelesaikan masalah tanpa melukai harga diri.

3. Menggunakan Sarkasme

Sarkasme sering dianggap sebagai humor, tetapi bila terlalu sering digunakan, ia bisa berubah menjadi bentuk agresi terselubung. 

Kalimat yang terdengar lucu di telinga sendiri mungkin melukai hati pasangan.

Kebiasaan ini dapat membuat pasangan merasa diremehkan atau tidak dihargai. 

Jika dibiarkan, sarkasme menjadi cara tidak sehat untuk menyampaikan kekecewaan, sehingga menciptakan jarak emosional.

Lebih baik mengganti sarkasme dengan kata-kata jujur yang penuh empati. 

Dengan begitu, komunikasi tetap hangat dan pasangan merasa lebih dihormati.

4. Hanya Berbicara tentang Logistik

Kehidupan rumah tangga memang dipenuhi dengan urusan praktis, seperti pekerjaan rumah, jadwal anak, atau masalah keuangan. 

Namun, jika percakapan hanya terbatas pada hal-hal logistik, hubungan dapat kehilangan kedalaman emosional.

Pasangan yang hanya membicarakan kewajiban sehari-hari cenderung merasa lebih seperti rekan kerja ketimbang pasangan hidup. 

Hal ini membuat kedekatan emosional semakin berkurang.

Mengalokasikan waktu khusus untuk berbicara dari hati ke hati, membagikan mimpi, atau sekadar bercanda akan membantu menjaga keintiman tetap terjaga.

5. Melupakan Rasa Syukur

Ucapan sederhana seperti “terima kasih” memiliki makna besar dalam pernikahan. 

Sayangnya, banyak pasangan lupa menunjukkan rasa syukur atas hal-hal kecil yang dilakukan oleh pasangan mereka.

Ketika rasa syukur diabaikan, pasangan bisa merasa tidak dihargai. 

Hal ini dapat menimbulkan perasaan kesepian meskipun hidup bersama.

Membiasakan diri untuk menghargai setiap upaya pasangan akan memperkuat ikatan emosional. 

Bahkan apresiasi kecil mampu menciptakan suasana hangat di rumah tangga.

6. Mengharapkan Pasangan Membaca Pikiran

Menganggap pasangan seharusnya tahu apa yang dirasakan atau diinginkan tanpa mengungkapkannya adalah jebakan berbahaya. 

Harapan seperti ini tidak realistis dan justru memicu kekecewaan.

Ketika kebutuhan emosional tidak terpenuhi karena tidak pernah diungkapkan, pasangan akan merasa diabaikan. 

Lama-kelamaan, hal ini bisa menimbulkan rasa marah dan kebencian.

Menyampaikan kebutuhan dengan jelas jauh lebih sehat daripada menunggu pasangan “menebak.” 

Keterbukaan komunikasi akan memperkuat rasa saling pengertian.

7. Membawa Kesalahan Masa Lalu

Mengingat kembali kesalahan pasangan di masa lalu hanya untuk memenangkan perdebatan dapat menghancurkan kepercayaan. 

Meskipun sudah dimaafkan, mengungkitnya kembali berarti membuka luka lama.

Tindakan ini membuat pasangan merasa tidak benar-benar diterima. Akibatnya, keintiman emosional pun terkikis.

Pengampunan sejati berarti tidak lagi menggunakan kesalahan masa lalu sebagai senjata. 

Fokus pada solusi saat ini jauh lebih membangun hubungan.

8. Berusaha Menjaga Perdamaian dengan Menghindari Konflik

Banyak orang percaya bahwa menghindari pertengkaran adalah cara menjaga keharmonisan. 

Padahal, menekan perasaan hanya akan menumpuk masalah yang lebih besar.

Konflik yang sehat justru dapat memperkuat hubungan, karena pasangan belajar mendengarkan dan memahami sudut pandang satu sama lain. 

Menghindar hanya akan menunda masalah tanpa solusi.

Menghadapi perbedaan dengan sikap terbuka adalah kunci. Diskusi jujur lebih baik daripada diam yang penuh kepahitan.

9. Mengikuti Peran Tradisional Tanpa Kesepakatan

Peran tradisional dalam rumah tangga bisa berjalan baik jika disepakati bersama. 

Namun, bila hanya salah satu pihak yang terbebani, hal itu menimbulkan ketidakadilan.

Ketika salah satu pasangan merasa kewajibannya lebih berat, kelelahan emosional tidak dapat dihindari. 

Hal ini bisa berkembang menjadi kebencian yang merusak hubungan.

Membicarakan pembagian tugas secara terbuka dan adil adalah langkah penting agar tidak ada pihak yang merasa dimanfaatkan.

10. Membandingkan Hubungan dengan Orang Lain

Membandingkan pasangan atau hubungan dengan orang lain hanya akan melukai perasaan. 

Perbandingan, sekecil apa pun, bisa mengurangi rasa percaya diri pasangan.

Hal ini juga dapat membuat pasangan merasa tidak cukup baik. 

Jika terus dilakukan, hubungan akan kehilangan kehangatan dan saling menghargai.

Alih-alih membandingkan, fokuslah pada keunikan hubungan Anda sendiri. 

Setiap pasangan memiliki perjalanan berbeda yang tidak bisa disamakan.

11. Tidak Membahas Masalah yang Sebenarnya

Mengabaikan masalah demi menghindari pertengkaran hanyalah solusi sementara. 

Frustrasi yang dipendam akan menumpuk dan akhirnya meledak.

Ketika masalah dibiarkan, pasangan tidak pernah benar-benar memahami perasaan satu sama lain. 

Hal ini memperlebar jarak emosional dan menimbulkan kesalahpahaman.

Membiasakan diri untuk membicarakan masalah dengan jujur akan menjaga hubungan tetap sehat. 

Keberanian menghadapi persoalan adalah tanda kedewasaan dalam pernikahan.

***

EDITOR: Novia Tri Astuti