JawaPos.com – Istilah avoidant attachment style dikenal sebagai pola hubungan keterikatan di mana penderitanya suka menarik diri secara emosional.
Orang yang memiliki kecenderungan avoidant biasanya menghindari kedekatan yang intens seolah tidak ingin berhubungan dengan orang lain atau pasangannya.
Dikutip dari ashefagriyapusaka.co.id, kepribadian avoidant dapat dipicu oleh pola asuh orang tua, lingkungan, atau pengalaman masa lalu yang membuat mereka merasa kedekatan emosional berlebih dapat menjadi sumber luka dan ketidaknyamanan.
Dilansir dari akun TikTok @ogestm yang mengunggah perspektif avoidant, reaksi menjauh yang sering dilakukan penderita avoidant disebabkan oleh kondisi kepala dan hati yang berisik sehingga kesulitan untuk menjelaskan hal yang mereka rasakan.
Orang yang menjalin hubungan dengan avoidant biasanya merasa kesulitan dalam memahami pasangannya. Bahkan hal tersebut dapat membuat seseorang merasa tidak dicintai.
Berikut cara khusus untuk kamu yang ingin melanjutkan hubungan dengan seorang penderita avoidant agar mental dan hubunganmu tetap sehat:
- Kenali Attachment Style Diri Sendiri
Sebelum berusaha memahami kondisi mental pasangan, kamu perlu mengatahui gaya attachment-mu sendiri karena akan memengaruhi pola interaksi dalam hubunga
Jika kamu seorang anxious yang membutuhkan koneksi emosional kuat, kamu akan merasa cemas ketika seorang avoidant menjaga jarak. Hal tersebut lama kelamaan akan membuat hubungan terasa tidak sehat.
Setelah mengetahui attachment style-mu, lakukan self-regulation untuk menenangkan diri dan jangan terlalu bergantung pada pasangan, hal tersebut dapat membuat kamu semakin cemas.
Ketika sudah merasa lebih tenang, bicarakan perbedaan attachment style kepada pasangan tanpa memberikan tuntukan yang berlebihan.
- Keloka Emosi
Sebelum memulai komunikasi dengan seorang avoidant, pastikan dirimu berada dalam keadaan tenang. Hal tersebut diperlukan karena penderita avoidant cenderung merasa tertekan ketika menghadapi emosional yang intens, seperti tangisan, amarah, atau tuntutan berlebihan.
- Berikan Ruang
Saat sedang menghadapi masalah, penderita avoidant membutuhkan waktu dan ruang pribadi untuk menenangkan perasaan. Dalam kondisi ini, kamu bisa memberikan jaminan bahwa kamu tetap ada ketika dibutuhkan.
Jika kamu merasa sendirian saat harus memberikan ruang, alihkan perhatianmu dengan kegiatan atau hal yang kamu suka.
- Atur Komunikasi dengan Sabar
Jika kamu tetap ingin mempertahankan hubungan dengan penderita avoidant, hindari komunikasi yang terlalu emosional atau terkesan menghakimi. Gunakan gaya bicara tenang untuk mengurangi perasaan defensif pada pasanganmu sehingga lebih nyaman dalam menjalin komunikasi.
- Berikan Dukungan untuk Meningkatkan Rasa Percaya Diri
Ungkapan yang terkesan menyudutkan atau menyalahkan dapat membuat seorang avoidant semakin ingin menarik diri karena merasa tidak cukup baik. Sebagai pasangan, kamu bisa memberikan dukungan yang dapat meningkatkan rasa percaya diri penderita avoidant bahwa diri mereka lawak untuk kamu.
- Saling Kompromi
Hal terpenting dalam menjalin hubungan dengan attachment style yang berbeda adalah keinginan untuk sama-sama belajar. Memiliki pasangan yang cenderung avoidant membuat kita perlu belajar sabar, namun penderita kepribadian tersebut juga perlu diarahkan untuk belajar terbuka agar hubungan yang dijalani sehat bagi keduanya.