JawaPos.com – Media sosial sering menjadi tempat untuk mengekspresikan perasaan, baik positif maupun negatif. Sayangnya, kritik dan komentar kasar cenderung meninggalkan kesan lebih dalam daripada pujian, karena bias negatif dalam otak kita.
Hal ini membuat kita lebih terpengaruh oleh hal-hal yang menyakitkan, sehingga dapat berdampak buruk pada kesehatan mental kita.
Dirangkum dari psychologytoday.com, cobalah beberapa strategi menghadapi hate comment di media sosial dengan mudah dan hindari panik berlebihan.
- Cegah hate comment secara diam-diam
Seringkali, kita cenderung mengabaikan dampak komentar negatif terhadap diri kita. Akan tetapi, dengan menyisihkan waktu untuk merenung dan mengamati reaksi kita, kita dapat memperoleh pemahaman yang lebih dalam tentang diri sendiri.
Apakah komentar-komentar tersebut memicu rasa tidak aman yang tersembunyi? Apakah mereka menguatkan pola pikir negatif yang sudah ada sebelumnya? Dengan memahami akar dari reaksi kita, kita bisa mulai membangun mekanisme pertahanan yang lebih kuat.
- Jangan biarkan hate comment mengejutkanmu
Mempunyai strategi yang tepat untuk menghadapi komentar negatif sangatlah penting, terutama saat dirimu berada di tengah situasi yang penuh tantangan. Apa yang biasanya menenangkan hati dan pikiranmu?
Apakah itu latihan pernapasan, berjalan kaki, atau berbicara dengan teman dekat? Semua itu penting agar kamu bisa menyadari dan mengendalikan reaksimu saat menghadapi kebencian, sehingga kamu tidak bertindak impulsif berdasarkan perasaan yang dipenuhi emosi yang kuat.
- Proses dan lanjutkan hidup
Ashley Iaconetti Haibon yang lebih dikenal sebagai Ashley I dari franchise The Bachelor, berbagi bahwa ia berusaha untuk tidak membiarkan kebencian atau perasaan negatif terpendam dalam dirinya.
Meskipun Ashley mengungkapkan perasaannya kepada orang-orang terdekat, ia memilih tidak membiarkannya menguasai dirinya dalam jangka panjang.
Setelah melampiaskan perasaan tersebut, Ashley berupaya melupakan dan melepaskan kebencian itu, sehingga tidak berdampak buruk bagi kesejahteraannya secara emosional.
- Ketahui dari mana hate comment itu berasal
Mary Fitzgerald yang dikenal lewat acara Selling Sunset di Netflix, sering mengingatkan dirinya bahwa perasaan-perasaan negatif seperti rasa tidak aman, kecemburuan, dan ketakutan menjadi akar dari kebencian.
Ia percaya bahwa dalam banyak kasus, orang-orang yang menyebarkan kebencian sebenarnya sedang memproyeksikan perasaan dan ketidaknyamanan mereka sendiri kepada orang lain.
Dengan pemahaman ini, Mary mencoba agar tidak terlalu terpengaruh oleh kebencian yang datang kepadanya. Sebab, ia menyadari bahwa hal tersebut lebih berhubungan dengan ketidakbahagiaan atau ketidakpuasan diri mereka, bukan kesalahan atau kekurangan dirinya.
- Jangan lupakan tujuanmu
Joey Zauzig, seorang tokoh televisi dan influencer, berbagi bagaimana ia mengatasi kebencian dengan cara yang bijaksana. Saat menghadapi komentar atau kritik yang negatif, ia memilih mengambil langkah mundur sejenak.
Dalam momen tersebut, dia berhenti sejenak guna merenung, bercermin, dan mengingat kembali siapa dirinya sebenarnya, dari mana asalnya, serta tujuan yang ingin dicapai melalui kehadirannya di media sosial.
Dengan cara ini, Joey berhasil menenangkan dirinya dan tetap terfokus pada apa yang penting, yakni misi positif yang hendak dibawa kepada pengikutnya dan masyarakat luas.
Pendekatan ini membantunya untuk tetap menjaga kesehatan mental dan menghindari terjebak dalam emosi negatif.
- Berhenti membaca hate comment
Apabila kamu merasa mudah terpengaruh emosi, sebaiknya berhenti membaca komentar untuk sementara waktu.
Walaupun terdengar mudah, hal ini sulit dilakukan, terutama bagi influencer yang perlu berinteraksi dengan audiens mereka dan memantau umpan balik tentang konten mereka.
Beberapa influencer mengatasi masalah ini dengan meminta orang lain menyaring komentar saat mereka merasa tidak siap menghadapi kritik.
Ada pula yang hanya membaca komentar dalam satu jam usai unggahan, karena komentar yang muncul lebih cepat cenderung berasal dari pengikut yang mendukung, sementara komentar negatif biasanya datang setelah unggahan menjangkau audiens yang lebih luas.
- Pembenci adalah motivasimu
Bagi sebagian orang, terutama atlet, kebencian dan kritik justru bisa menjadi motivasi yang kuat dalam mendorong diri mereka mencapai prestasi yang lebih tinggi.
Hal ini memberikan dorongan untuk bekerja lebih keras, membuktikan diri, dan mencapai tujuan mereka. Namun, kamu perlu mengingat bahwa jalan ini dapat berbahaya.
Ketika kita membiarkan kebencian menjadi bahan bakar utama pada pencapaian, kita mungkin saja membangun kesuksesan di atas dasar yang rapuh, yaitu kenegatifan dan permusuhan.
Maka dari itu, meski kritik bisa menjadi pendorong, kamu perlu menjaga keseimbangan agar kita tidak terperangkap dalam lingkaran negatif yang akhirnya bisa merusak kesejahteraan mental kita.
- Hentikan tren hate comment dengan komentar positif
Kebencian di media sosial sering menular. Ketika komentar negatif mulai menumpuk, orang merasa lebih terdorong agar ikut berkomentar dengan nada serupa, terutama jika komentar tersebut mendapat banyak like.
Sebaiknya, fokuskan pada komentar positif guna mengalihkan perhatian dari kebencian dan meredamnya.
Walaupun tampaknya berlawanan dengan intuisi, beberapa ahli menyarankan supaya pesan langsung tetap terbuka di publik, dan menyarankan untuk menyembunyikan komentar negatif dalam DM daripada mempostingnya secara terbuka. Sebab, hal itu bisa memicu lebih banyak kebencian.
- Buat daftar komentar positif
Guna melawan dampak dari bias negatif, kamu bisa mulai dengan membuat daftar komentar positif yang diterima.
Cobalah untuk menuliskan dan menyimpan daftar ini, baik di perangkat digital maupun di atas kertas, sebagai pengingat guna memfokuskan perhatianmu pada hal-hal yang baik dan memberi inspirasi.
Saat komentar negatif mulai mempengaruhi perasaanmu dan membuat dirimu merasa sedih, daftar ini bisa menjadi cara yang efektif guna mengembalikan perspektifmu, mengingatkan dirimu pada dukungan positif yang telah kamu terima, dan membantumu tetap termotivasi.