JawaPos.com - Menurut American Psychological Association, ketidakamanan merupakan perasaan kurang percaya diri yang membuat kita meragukan kemampuan diri dan hubungan dengan orang lain. Perasaan ini dapat mempengaruhi pandangan kita terhadap diri sendiri dan orang lain.
Selain itu, juga menimbulkan kecemasan tentang kemampuan kita dalam berbagai aspek kehidupan, seperti pekerjaan, pertemanan, atau hubungan pribadi. Hal ini sering kali mengurangi kepercayaan diri dan menghalangi kita untuk hidup dengan penuh keyakinan. Mengutip verywellmind.com, berikut beberapa tanda seseorang merasa tidak aman dan nyaaman dalam menjalani kehidupannya yang perlu disadari.
1. Keraguan diri
Keraguan diri yang terus-menerus muncul ketika ada suara dalam pikiranmu yang secara berulangkali mengkritik dan meragukan segala hal mengenai dirimu. Suara tersebut membuatmu mempertanyakan kemampuan, penampilan fisik, serta nilai atau kelayakanmu sebagai manusia.
Keadaan ini sering muncul tanpa henti, merusak rasa percaya diri, dan membuatmu merasa tidak cukup baik, tidak layak, atau tidak mampu untuk mencapai tujuan yang diimpikan. Rasanya seperti kamu terus-menerus berada dalam kondisi meragukan diri, tanpa bisa menenangkan pikiran-pikiran yang meremehkan potensimu.
2. Negative self talk
Negative self-talk merupakan kondisi di mana kritik batinmu terus-menerus menyoroti kekurangan atau kelemahan yang dirasakan dalam dirimu. Pikiran ini sering kali berfokus pada segala hal yang kamu anggap sebagai kelemahan pribadi, memperbesar setiap kekurangan yang kamu miliki, dan merendahkan dirimu sendiri.
Ketika kamu membuat kesalahan, bahkan yang terkecil sekalipun, kritik internal ini muncul dengan keras, menyalahkan dan mengutukmu berulang kali. Suara tersebut tidak memberi ruang pengampunan atau pemahaman, malah terus menekanmu untuk merasa buruk tentang diri sendiri, memperburuk perasaan cemas dan tidak percaya diri. Hal ini dapat mengganggu kenyamanan mentalmu, membuatmu terus-menerus meragukan kemampuan dan nilai dirimu.
3. Perbandingan yang berlebihan
Perbandingan yang berlebihan adalah kebiasaan yang seringkali kita lakukan, di mana kita terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain dalam berbagai aspek kehidupan. Baik itu dalam hal penampilan, pencapaian, kemampuan, atau bahkan gaya hidup, kita cenderung melihat orang lain sebagai tolok ukur yang lebih tinggi dan lebih sukses.
Perasaan ini sering membuat kita merasa rendah diri, seolah-olah kita tidak sebanding atau cukup baik dibandingkan dengan orang lain. Meski setiap orang mempunyai perjalanan dan tantangan berbeda, kita sering terjebak dalam ketidakpuasan diri hanya karena melihat keberhasilan orang lain. Hal ini bisa mengurangi rasa percaya diri dan membuat kita merasa tidak pernah cukup berhasil atau layak.
4. Mencari persetujuan
Mencari persetujuan merupakan perasaan yang muncul ketika kita merasa sangat membutuhkan validasi dan pengakuan dari orang lain agar merasa berharga atau diterima dalam lingkungan sosial kita. Ketika kita tidak memperoleh persetujuan tersebut, kita bisa merasa tidak cukup baik atau tidak dihargai yang mengarah pada perasaan rendah diri.
Perasaan ini sering membuat kita berupaya menyenangkan orang lain, walau mengorbankan kebahagiaan atau nilai diri. Kita juga cenderung menghindari risiko sebab takut penilaian negatif, lebih memilih mengikuti apa yang dianggap benar oleh orang lain. Ketergantungan pada persetujuan eksternal ini menghambat kita agar berkembang, berpikir mandiri, dan membuat keputusan yang lebih autentik.
5. Takut ditolak
Takut ditolak merupakan perasaan yang muncul ketika kita merasa sangat khawatir akan dihakimi, dikritik, atau bahkan ditolak oleh orang lain. Ketakutan ini biasanya membuat kita merasa cemas dalam situasi sosial karena kita khawatir bahwa tindakan atau perkataan kita akan membuat orang lain tidak menyukai kita atau menganggap kita kurang berharga.
Rasa takut ini membuat kita terlalu memperhatikan pendapat orang lain dan berupaya memenuhi harapan mereka, mengabaikan keinginan kita sendiri. Ketakutan akan penolakan juga menghalangi kita menjadi diri sendiri sebab khawatir akan penilaian orang lain. Hal ini mempengaruhi hubungan sosial kita, menciptakan rasa tidak aman, dan mencegah kita mengambil risiko.
6. Peka terhadap kritik
Kepekaan terhadap kritik adalah kondisi di mana bahkan kritik terkecil sekalipun dapat dirasakan sangat menghancurkan. Saat seseorang memberikan masukan atau komentar yang mungkin sebenarnya tidak terlalu signifikan, perasaan kita bisa langsung terguncang dan merasa sangat terbebani.
Kritik sering memperburuk keraguan dan ketidakamanan kita, memperkuat pandangan negatif tentang diri. Bahkan umpan balik konstruktif pun bisa merusak kepercayaan diri. Ketika terlalu sensitif terhadap kritik, hal ini menghambat kemajuan dan membuat kita takut mencoba hal baru atau menghadapi penilaian orang lain.
7. Terlalu percaya diri
Sebaliknya, ketidakamanan juga bisa muncul dalam bentuk rasa percaya diri yang berlebihan. Seseorang yang merasa tidak aman sering kali kesusahan menerima masukan atau kritik dari orang lain karena mereka tidak ingin dianggap kurang mampu atau tidak ahli dalam hal apapun.
Guna menutupi ketidaknyamanan, mereka bisa tampil terlalu percaya diri sebagai mekanisme pertahanan guna menghindari perasaan tidak kompeten. Seringkali, sikap ini terlihat merendahkan orang lain atau arogan untuk menjaga citra diri. Dr. Daramus mengatakan bahwa perilaku ini bertujuan menyembunyikan keraguan internal dan ketakutan akan penilaian negatif.
8. Sikap defensif
Sikap defensif merupakan reaksi yang sering muncul saat kita menerima kritik atau masukan, bahkan yang bersifat konstruktif sekalipun. Ketika seseorang memberikan umpan balik, kita mungkin merasa terancam atau diserang secara pribadi, walaupun niat mereka bukanlah untuk menyakiti.
Perasaan ini timbul ketika kita melihat kritik sebagai serangan terhadap diri kita, bukan kesempatan berkembang. Kita merasa kemampuan kita dipertanyakan yang memicu reaksi defensif. Ini sering menghalangi komunikasi dan membuat kita merespons dengan emosi, bukan dengan sikap terbuka guna belajar dan memperbaiki diri.
9. Kecemasan sosial
Kecemasan sosial adalah perasaan gelisah dan tidak nyaman dalam situasi sosial, di mana ini sering kali karena takut dihakimi atau ditolak. Kekhawatiran ini membuat kita fokus pada penilaian negatif, mengganggu kemampuan dalam berinteraksi secara alami.
Akibatnya, kita kesulitan memulai percakapan, berkomunikasi dengan lancar, atau menjaga kontak mata karena rasa takut tersebut mendominasi. Ketakutan akan kesalahan membuat kita lebih tertutup dan kurang percaya diri yang sering menghalangi kita menikmati interaksi sosial dan membangun hubungan yang lebih baik.
***