← Beranda

Menurut Psikologi: Inilah 7 Tanda Seseorang Bersandiwara Meski Tampak Humble dan Ramah

Novia Tri AstutiSenin, 9 Desember 2024 | 17.24 WIB
Ilustrasi orang humble namun hanya bersandiwara. (freepik)

 

JawaPos.Com - Mengenali tanda-tanda seseorang bersandiwara dapat membantu kita menghindari hubungan yang tidak baik atau manipulatif

Dalam interaksi sosial sehari-hari, pastinya kita sering bertemu dengan orang-orang yang tampak humble dan ramah, namun menyimpan drama di baliknya.

Ya, ada kalanya, kesan yang mereka tunjukkan tidak mencerminkan karakter asli dan hanya bersandiwara.

Beberapa individu, bersandiwara untuk mempertahankan citra positif atau mencapai tujuan tertentu.

Seperti dikutip dari beberpa Journal, penelitian psikologi telah menjelaskan terdapat tanda-tanda yang dapat membantu untuk mengenali apakah seseorang benar-benar tulus atau hanya berpura-pura.

Untuk mengetahuinya, berikut tujuh tanda seseorang bersandiwara meski tampak humble dan ramah, dilengkapi dengan penjelasan berdasarkan penelitian.

1. Perubahan Perilaku yang Tiba-Tiba

Orang yang bersandiwara sering kali menunjukkan perubahan perilaku yang mencolok. Awalnya, mereka mungkin terlihat ramah dan hangat, namun secara tiba-tiba bisa berubah menjadi dingin atau tidak peduli.

Perubahan ini sering kali terjadi karena emosi atau ekspresi mereka tidak benar-benar tulus, melainkan dibuat-buat untuk menciptakan kesan tertentu. Ketika tidak ada lagi keuntungan yang bisa diperoleh, sikap asli mereka mulai terlihat.

Penelitian dari Journal of Personality and Social Psychology menunjukkan bahwa individu dengan perilaku tidak konsisten cenderung menggunakan taktik manipulatif untuk memenuhi kebutuhan mereka.

2. Kata-Kata Tidak Sesuai dengan Tindakan

Salah satu tanda paling mencolok dari orang yang bersandiwara adalah ketidaksesuaian antara kata-kata dan tindakan mereka.

Mereka mungkin sering berbicara tentang nilai-nilai moral seperti kepedulian atau kebaikan, namun tidak pernah menunjukkan aksi nyata.

Sebagai contoh, seseorang mungkin mengatakan bahwa mereka peduli terhadap masalah sosial tertentu, tetapi tidak pernah terlibat dalam kegiatan atau kontribusi nyata untuk mendukung klaim tersebut.

Menurut studi yang diterbitkan dalam Psychological Science, kesenjangan antara kata-kata dan tindakan dapat menjadi indikator kurangnya ketulusan.

3. Menggunakan Bahasa yang Berlebihan

Bahasa yang terlalu berlebihan sering kali digunakan oleh individu yang bersandiwara. Mereka cenderung menggambarkan diri mereka dengan kata-kata superlatif seperti "sangat peduli" atau "sangat memahami," tetapi tidak menunjukkan perilaku yang sesuai dengan klaim tersebut.

Penggunaan bahasa semacam ini bertujuan untuk membangun citra diri yang baik di mata orang lain. Namun, pola ini justru bisa menjadi tanda bahwa mereka sedang menyembunyikan sesuatu.

Journal of Language and Social Psychology mencatat bahwa penggunaan kata-kata hiperbolis sering kali terkait dengan upaya membangun kepercayaan diri palsu di mata orang lain.

4. Menghindari Pertanyaan Langsung

Orang yang bersandiwara biasanya tidak nyaman dengan pertanyaan yang terlalu langsung. Mereka mungkin menghindari topik tersebut dengan cara mengalihkan perhatian atau memberikan jawaban yang tidak jelas.

Sebagai contoh, ketika ditanya tentang pengalaman atau motivasi mereka, orang seperti ini cenderung memberikan jawaban yang samar atau malah berbicara tentang hal lain.

Hal ini dilakukan untuk menghindari pengungkapan kebenaran yang dapat merusak citra mereka.

Studi dalam Journal of Applied Developmental Psychology menunjukkan bahwa pola ini sering ditemukan pada individu yang mencoba menyembunyikan niat asli mereka.

5. Menggunakan Emosi untuk Manipulasi

Salah satu taktik utama orang yang bersandiwara adalah memanfaatkan emosi untuk mendapatkan simpati atau perhatian.

Mereka mungkin berpura-pura menangis, marah, atau menunjukkan emosi berlebihan dalam situasi tertentu.

Emosi ini tidak selalu tulus, tetapi sengaja ditunjukkan untuk memengaruhi cara orang lain merespons mereka.

Misalnya, seseorang mungkin berpura-pura sedih untuk menghindari tanggung jawab atau untuk mendapatkan simpati.

Penelitian dari Journal of Personality and Social Psychology mengungkapkan bahwa manipulasi emosional adalah strategi umum yang digunakan oleh individu dengan niat tertentu.

6. Tidak Menerima Kritik

Individu yang bersandiwara cenderung tidak nyaman menerima kritik atau umpan balik. Mereka mungkin menjadi defensif, marah, atau bahkan menyerang balik orang yang memberikan kritik.

Sikap ini muncul karena kritik dapat mengungkap kelemahan atau sisi asli mereka yang berlawanan dengan citra yang ingin mereka tunjukkan.

Dalam jangka panjang, ketidakmampuan menerima kritik dapat merusak hubungan sosial mereka.

Menurut Journal of Applied Psychology, ketidakmampuan menerima kritik adalah salah satu tanda ketidakamanan emosional yang sering ditemukan pada individu yang berusaha mempertahankan citra palsu.

7. Menggunakan Penampilan untuk Mencari Perhatian

Orang yang bersandiwara sering kali menggunakan penampilan fisik atau gaya hidup mereka untuk menarik perhatian.

Mereka mungkin berpakaian mencolok, memamerkan barang mewah, atau berperilaku dramatis untuk mendapatkan pujian.

Upaya ini bertujuan untuk menciptakan kesan bahwa mereka memiliki kehidupan yang sempurna atau kepribadian yang luar biasa.

Namun, fokus berlebihan pada penampilan sering kali menjadi petunjuk bahwa mereka kurang percaya diri terhadap diri yang sebenarnya.

Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Social Psychology menyebutkan bahwa perilaku ini sering dikaitkan dengan kebutuhan akan validasi eksternal.

***

EDITOR: Novia Tri Astuti