JawaPos.com - Ibu, ayah, dan saudara kandung adalah sumber dukungan sosial utama dalam hidup. Mereka mendukung kebahagiaanmu dan memberikan semangat saat kesulitan. Akan tetapi, perselisihan dan kesalahpahaman sering terjadi. Konflik kecil biasanya mudah diselesaikan, namun jika kebencian dan pola beracun muncul, hubungan bisa menjadi merusak dan penuh frustrasi.
Hubungan keluarga yang penuh konflik dapat muncul dari ayah yang kritis, kecemburuan antar saudara, atau mertua yang mengendalikan, di mana ini bisa menambah ketegangan. Merangkum helpguide.org, berikut ini beberapa cara mengatasi konflik dalam keluarga secara bijaksana supaya tidak menjadi belarut-larut.
1. Kelola stres yang dialami
Kamu perlu mengutamakan pengurangan stres sebelum dan setelah berinteraksi dengan anggota keluarga yang bermasalah. Mengelola stres dengan cara yang efektif dapat membantu menjaga kesejahteraan emosionalmu. Beberapa teknik yang bisa dilakukan antara lain meditasi guna menenangkan pikiran, berjalan-jalan untuk menyegarkan tubuh dan pikiran.
Selain itu, kamu juga bisa menulis jurnal agar meluapkan perasaan, atau berbicara langsung dengan teman dekat yang bisa memberikan dukungan dan perspektif. Semua ini dapat membantumu agar tetap tenang dan lebih siap menghadapi situasi yang menegangkan.
2. Tetapkan dan pertahankan batasan
Kunjungan keluarga bisa jadi menyenangkan, tapi juga dapat mengakibatkan stres. Dalam menjaga kesehatan mental, kamu perlu menetapkan batasan. Sebelum mengunjungi mertua, bicarakan dengan pasangan mengeenai durasi kunjungan yang nyaman dan topik-topik yang sebaiknya dihindari untuk dibicarakan.
Apabila mertua membicarakan topik sensitif, maka tegaskan dengan sopan untuk mengalihkan percakapan. Kamu berhak menetapkan batasan demi menjaga kedamaian dan kenyamanan emosional, serta menghindari pembicaraan yang bisa memicu stres.
3. Bangun kecerdasan emosional (EQ)
Dengan mengembangkan kecerdasan emosional, kamu dapat meningkatkan kemampuan supaya lebih memahami, mengelola, dan mengekspresikan emosi dengan cara yang sehat dan membangun. Peningkatan kecerdasan emosional ini akan membawa dampak positif pada hubunganmu dengan keluarga.
Selain itu juga memungkinkamu untuk berinteraksi dengan lebih empati dan pengertian, namun juga berpengaruh pada kesejahteraan mental. Kemampuan mengelola emosi dengan bijak dapat mengurangi stres dan konflik, serta meningkatkan rasa percaya diri dan keseimbangan emosional dalam kehidupan sehari-hari.
4. Ubah fokus
Akuilah kelebihan dan kekurangan anggota keluargamu, karena setiap orang pasti memiliki sifat unik. Misalnya, saudaramu yang mungkin suka berkonfrontasi dan sering menuntut, namun mereka juga senantiasa siap dalam membantu biaya acara keluarga.
Begitu pula dengan ibu mertuamu, walau terkadang terlalu kritis terhadapmu, namun dia selalu memberikan dukungan penuh kepada anak-anakmu. Menghargai sisi positif dan menerima kekurangan mereka dapat membantu menciptakan hubungan yang lebih harmonis.
5. Berlatih empati
Sadarilah bahwa anggota keluarga yang sulit mungkin sedang menghadapi tantangan pribadi mereka sendiri. Berbagai masalah, mulai dari perasaan tidak aman hingga kecanduan atau gangguan mental, dapat menjadi pemicu bagi perilaku mereka.
Meski faktor-faktor ini tidak membenarkan perilaku mereka, dengan empati, kamu bisa coba memahami latar belakang tindakan tersebut. Ini akan membantumu melihat situasi dari sudut pandang yang berbeda dan menghadapi mereka dengan lebih bijaksana.
6. Pakai keterampilan resolusi konflik
Keterampilan menyelesaikan konflik sangat berguna saat menghadapi drama keluarga. Hal ini meliputi kemampuan mengelola stres, memahami emosi diri sendiri dan orang lain, serta memprioritaskan penyelesaian masalah ketimbang memenangkan argumen.
Contohnya, kamu mungkin melihat orang tua yang semakin marah sebab merasa kehilangan kemandiriannya. Untuk meredakan perasaan tersebut, kamu bisa melibatkan mereka dengan meminta bantuan atau memberi tugas yang membuat mereka merasa dihargai dan dibutuhkan.
7. Turunkan ekspektasi dan coba menerima
Sadari bahwa ada kalanya pandangan atau prioritas orang lain tidak akan pernah sejalan dengan dirimu. Anak-anak, saudara kandung, atau orang tua yang telah dewasa akan bertindak berdasarkan keyakinan mereka sendiri, dan kamu tidak dapat mengontrol perilaku mereka.
Oleh sebab itu, cobalah untuk menerima hubungan tersebut apa adanya dan menghargai perbedaan yang ada. Jika itu terasa sulit, fokuskan energimu pada hubungan lain yang lebih mendukung dan memberi kebahagiaan dalam hidupmu.
***