JawaPos.com – Anda mungkin sudah tidak asing dengan istilah sindrom anak pertama perempuan, yang akhir-akhir ini sedang ramai diperbincangkan. Istilah ini menggambarkan tentang adanya tekanan dan tanggung jawab yang dibebankan kepada anak sulung perempuan.
Teori urutan kelahiran yang dikemukakan oleh Psikolog Alfred Adler menyatakan, bahwa urutan kelahiran seseorang sangat mempengaruhi kepribadian, perilaku, dan hasil hidup mereka.
Teori ini mendukung gagasan tentang anak pertama perempuan, yang terpengaruh secara unik, tidak hanya oleh posisi mereka sebagai anak pertama, tetapi juga oleh ekspektasi sosial dan orang tua yang terkait dengan gender mereka.
Dinamika tersebut akhirnya memengaruhi bagaimana anak pertama perempuan menjalani kehidupan dewasa mereka, mereka sering kali membawa beban tanggung jawab, berusaha mencapai kesempurnaan, dan berjuang untuk memenuhi kebutuhan orang lain di atas kebutuhan mereka sendiri.
Anak sulung perempuan membawa perspektif tertentu dalam hidup mereka, dan kecenderungan tersebut dapat terlihat dalam ungkapan-ungkapan yang sering mereka ucapkan, yang mencerminkan bagaimana menjadi anak pertama perempuan membentuk perspektif dan pengalaman hidup mereka.
Seperti dilansir dari laman Your Tango, berikut adalah 11 frasa yang sering diucapkan anak pertama perempuan yang tumbuh dewasa bersama tekanan ekspektasi.
1. Saya bisa mengatasinya sendiri
Frasa ini menyoroti kemandirian yang sering diadopsi oleh anak sulung perempuan karena rasa tanggung jawab yang mereka rasakan sejak usia muda. Mereka mungkin diberi tugas untuk merawat adik-adik, membantu pekerjaan rumah, atau mengambil peran orang tua.
Mereka telah dilatih untuk mengelola tugas-tugas sendiri, sehingga sebagai orang dewasa, mereka mungkin kesulitan untuk membuka diri atau meminta bantuan, karena merasa harus bisa mengatur segalanya sendiri.
2. Saya tidak ingin menjadi beban
Anak sulung perempuan cenderung memiliki perilaku suka menyenangkan orang lain dan berkorban, mereka sering kali memprioritaskan kebutuhan orang lain di atas kebutuhan mereka sendiri.
Ini berasal dari keyakinan yang dalam bahwa mereka tidak boleh merepotkan orang lain, yang mengarah pada kesulitan dalam menetapkan batasan dan merawat diri sendiri.
3. Apakah kamu butuh bantuan?
Peran keibuan sebagai pemberi perawatan seringkali melekat pada anak sulung perempuan, yang membuat mereka peka terhadap kebutuhan orang lain. Namun, hal ini juga bisa menyebabkan kelelahan emosional ketika mereka mengabaikan kebutuhan mereka sendiri, atau merasa terikat untuk merawat orang lain terlebih dahulu.
4. Saya tidak boleh mengecewakan siapa pun
Anak sulung perempuan sering kali menginternalisasi harapan orang tua mereka dan merasakan tekanan besar untuk memenuhinya.
Ini bisa menyebabkan perfeksionisme dan kecenderungan untuk memprioritaskan harapan orang lain di atas keinginan mereka sendiri, yang berujung pada rasa bersalah dan takut mengecewakan orang lain.
Ekspektasi orang tua mungkin berasal dari niat yang baik, tetapi seringkali berakhir menjadi beban berat yang menghalangi anak sulung perempuan untuk hidup sesuai dengan versi hidup mereka sendiri.
5. Saya tidak punya waktu untuk bersantai
Dorongan untuk produktivitas dan pencapaian adalah ciri umum anak sulung perempuan. Mereka mungkin kesulitan untuk beristirahat atau bersantai karena mereka mengaitkan harga diri dengan kesibukan atau kesuksesan. Namun, tidak beristirahat dapat menyebabkan kelelahan, yang merupakan kebutuhan penting untuk tubuh dan pikiran.
6. Saya tidak boleh melakukan kesalahan
Ketakutan ini berasal dari harapan tinggi yang diberikan kepada anak sulung perempuan untuk sukses dan menjadi contoh baik bagi adik-adiknya. Mereka mendefinisikan diri mereka melalui pencapaian dan percaya bahwa nilai diri mereka terikat pada kesempurnaan.
Mereka mungkin menganggap kesalahan sebagai kegagalan, dan percaya bahwa setiap kesalahan bisa merusak kredibilitas atau reputasi mereka. Ini dapat membuat mereka sulit untuk menerima ketidaksempurnaan dan pelajaran yang datang dari kegagalan.
7. Saya harus bisa mengendalikan segalanya
Anak sulung perempuan sering kali mengambil tanggung jawab untuk menjadi ‘penopang’ bagi keluarga mereka, yang bisa sangat melelahkan. Pola pikir ini mengarah lagi pada perfeksionisme, di mana mereka merasa harus selalu mengendalikan segalanya dan tidak boleh menunjukkan kerentanannya.
8. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan ketika saya tidak bekerja
Anak sulung perempuan sering kali mengaitkan identitas mereka dengan pencapaian dan produktivitas. Ini bisa mengarah pada kecanduan kerja atau kesulitan untuk bersantai karena mereka merasa nilai diri mereka datang dari kesibukan dan pencapaian.
Hal ini tidak lain karena mereka menghabiskan masa kecil mereka dengan berusaha mendapatkan nilai A sepanjang waktu, yang kemudian membuat mereka terjebak dalam rutinitas dewasa yang penuh dengan komitmen berlebihan terhadap pekerjaan.
9. Saya benci tidak punya rencana
Anak sulung perempuan sering merasa bertanggung jawab untuk memastikan segalanya teratur, yang menyebabkan ketidaksukaan terhadap ketidakpastian. Kebutuhan akan struktur dan kendali ini bisa menghalangi mereka untuk menerima spontanitas atau ‘hanya mengikuti alur’.
Selain memiliki lebih banyak tanggung jawab, mereka juga sering dijadikan panutan bagi adik-adik mereka, sehingga mereka tumbuh dengan perasaan bahwa mereka perlu untuk merencanakan setiap kemungkinan, yang membuat mereka sulit membiarkan orang lain mengambil alih kendali.
10. Apakah kamu marah padaku?
Karena anak sulung perempuan sering diberi tanggung jawab untuk mengelola emosi orang lain, mereka bisa menjadi sangat peka terhadap suasana hati orang lain, dan takut akan penolakan atau ketidaksetujuan. Hal ini dapat menyebabkan kecemasan tentang dinamika hubungan dan kesulitan untuk mengungkapkan perasaan mereka sendiri.
11. Jangan khawatir tentang itu
Frasa ini mencerminkan bagaimana anak sulung perempuan sering menekan emosi mereka sendiri untuk menghindari konflik atau membebani orang lain.
Mereka terluka, namun takut untuk berbagi rasa sakit tersebut, karena khawatir mereka akan ditolak. Sehingga, mereka sering mengatakan “jangan khawatir tentang itu” atau “Sungguh, tidak apa-apa. Saya baik-baik saja,” padahal kenyataannya, mereka tidak baik-baik saja.
Mereka mungkin merasa tidak aman untuk mengekspresikan perasaan sejati mereka, yang mengarah pada penahanan emosi, yang kemudian bisa muncul sebagai frustrasi atau kebencian.