Tantangan orang tua di era digital, salah satunya adalah konten vulgar yang semakin mudah ditemukan. Akibatnya, siapa pun, bahkan anak-anak, bisa terpapar atau mengaksesnya. Bagaimana ortu bersikap ketika memergoki anak menonton konten dewasa?
PERASAAN campur aduk antara terkejut, kesal, marah, dan kecewa akan dirasakan ortu saat mengetahui anak menonton konten dewasa. Namun, redam emosi tersebut. Bisa jadi anak juga baru pertama melihat atau tidak sengaja klik dan masih syok.
”Ketika emosi anak masih tidak terkendali lantaran takut dimarahi, malu, dan sebagainya, otak menjadi tidak berfungsi optimal sehingga bisa jadi anak akan berbohong dan menutup-nutupinya,” ujar Ariestya Magdalena Njotomulio SPsi MPsi Psikolog FPCM.
Alih-alih marah, tenangkan anak supaya mau terbuka. Pahami apa yang dirasakan anak ketika melihatnya. Ketika sudah lebih tenang, cari tahu bagaimana anak mengaksesnya, kapan pertama dia melihatnya, dengan siapa saja, apakah ada teman yang mengajak.
”Rasa penasaran itu wajar, apalagi memasuki masa pubertas. Lanjutkan dengan pembahasan mengenai pubertas. Tanyakan apa yang membuatnya penasaran, apa yang ingin dia ketahui,” urai psikolog klinis anak, remaja, dan keluarga di Joey Indonesia, CitraLand Surabaya, itu.
Lakukan diskusi dua arah. Ajak anak berpikir tentang bahaya pornografi. Sisipkan nilai-nilai moral dan kerohanian. Terakhir, tanyakan kembali perasaan anak setelah berdiskusi.
Magda mengimbau ortu untuk menyediakan waktu berkualitas dengan anak. Pola asuh yang kurang komunikasi bersama akan membuat anak mencari hiburan dari gadgetnya.
”Cukup 15–30 menit setiap harinya. Bisa dengan aktivitas sederhana, misal mengobrol sebelum tidur, masak bareng, main bola, dan lompat tali,” tutur Magda, sapaan akrabnya.
Dia juga mengimbau ortu untuk tidak terlalu dini memberi anak gadget. Kapan anak boleh memiliki HP pribadi? Saat anak sudah mampu bertanggung jawab dan mengendalikan diri. Umumnya, usia SD belum mampu, justru usia pubertas cenderung banyak rasa ingin tahu.
”Saat ini klien saya paling muda itu kelas II SD. Tapi, melihat sekarang anak TK sudah diberi akses internet tanpa pengawasan, saya khawatir jangan-jangan ada yang lebih muda dari kelas II SD,” ungkapnya.
Ortu harus jeli melihat perubahan pada diri anak. Anak yang sering nonton pornografi biasanya lebih suka menyendiri di kamar dan sangat lekat dengan gadgetnya. Anak cenderung menolak jika gadget dipinjam dan mudah marah berkaitan dengan gadget.
”Mereka jadi sulit konsentrasi. Dikit-dikit melamun karena terngiang adegan dalam konten porno, mudah tersinggung, tampak cemas dan lebih pendiam. Hilang minat dengan hobinya dan mengalami penurunan prestasi,” beber Magda.
Namun, tanda-tanda itu bisa jadi sulit terdeteksi bila baru sesekali nonton. Jalin kedekatan dengan anak agar semakin peka dengan perubahan sekecil apa pun. Sebab, konten dewasa dapat merusak otak.
”Kerusakannya mencapai 40 persen. Anak jadi kesulitan mengambil keputusan, sulit konsentrasi, dan pengendalian diri buruk. Sering kali klien saya kesulitan untuk belajar. Konten itu membayangi pikirannya,” jelasnya.
Dari menonton berulang, lama-kelamaan akan muncul rasa tidak puas. Hingga akhirnya melakukan apa yang ditontonnya. Karena itu, sejak anak tepergok, meski baru sekali, ortu wajib segera berkonsultasi dengan profesional dan anak diberi intervensi. ”Intervensi bisa berupa play therapy. Pada kasus tertentu jika sudah memburuk, diperlukan pemberian obat-obat oleh psikiater. Jangan tunggu sampai terlambat,” tegas Magda. (lai/c7/nor)