← Beranda

Hati-hati! 7 Frasa Ini Sering Digunakan Orang Pasif-Agresif untuk Menurunkan Kepercayaan Dirimu

Leni Setya WatiRabu, 7 Agustus 2024 | 03.34 WIB
Ilustrasi orang pasif-agresif (Freepik)

JawaPos.com - Kata-kata memang bisa menyakitkan, terutama jika kata-kata itu diucapkan oleh orang-orang pasif-agresif yang ingin menurunkan rasa percaya dirimu.

Kamu mungkin berpikir, bagaimana kita bisa mengenali frasa-frasa yang dapat mengurangi rasa percaya itu? Nyatanya, cukup sulit untuk mengenalinya karena mereka punya bakat untuk merendahkan orang lain secara halus.

Mereka menggunakan frasa-frasa tertentu yang mungkin tampak tidak berbahaya di permukaan tetapi memiliki maksud yang lebih dalam dan merusak.

Dalam artikel ini, JawaPos.com telah melansir dari laman Hack Spirit, Selasa (6/8), tujuh frasa yang umum digunakan oleh orang pasif-agresif untuk mengikis kepercayaan dirimu.

1. "Kamu terlalu sensitif"

Jika seseorang mengatakan bahwa kamu terlalu sensitif, mungkin mereka hanya sekadar menyatakan pengamatan mereka. Frasa ini sering digunakan untuk mengabaikan perasaanmu dan membuatmu mempertanyakan respons emosionalmu.

Ini adalah cara halus untuk mengatakan, "Perasaanmu tidak penting." Jadi, jika seseorang meremehkan emosimu, kamu dapat merasa bereaksi berlebihan atau bersikap tidak rasional, meskipun sebenarnya tidak demikian.

2. "Saya hanya bercanda"

Frasa ini sering digunakan orang pasif-agresif sebagai penyamaran untuk komentar yang menyakitkan. Ini adalah cara pasif-agresif untuk meremehkanmu, dan kemudian mengalihkan kesalahan kepadamu karena tidak dapat menerima lelucon.

3. "Jika aku jadi kamu..."

Awalnya ini terdengar seperti nasihat yang tidak berbahaya, namun frasa ini secara halus menyiratkan bahwa mereka lebih tahu daripada kamu. Bahwa perspektif atau cara mereka menangani berbagai hal lebih unggul, dan itu bisa menjadi pukulan telak bagi kepercayaan dirimu.

Ini seperti mengatakan, "Kamu tidak cukup mampu untuk membuat keputusan sendiri," sehingga melemahkan otonomimu dan membuatmu mempertanyakan penilaianmu sendiri. Hanya karena seseorang mengatakan mereka akan melakukan sesuatu yang berbeda, bukan berarti cara mereka adalah cara yang benar atau satu-satunya cara.

4. "Jangan menganggapnya sebagai hal yang pribadi"

Dengan memberi tahumu untuk tidak menanggapi sesuatu secara pribadi, orang tersebut pada dasarnya memberi diri mereka sendiri keleluasaan untuk mengatakan hal-hal yang menyakitkan tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadapmu.

Ini adalah cara untuk membebaskan diri mereka dari rasa bersalah atau tanggung jawab atas kata-kata atau tindakan mereka. Tidak apa-apa untuk menanggapi sesuatu secara pribadi, terutama jika hal itu memengaruhimu secara langsung.

5. "Tidak bermaksud menyinggung, tapi..."

Ahli bahasa menemukan bahwa ketika orang mengatakan hal ini, mereka seringkali akan mengatakan sesuatu yang mereka tahu dapat menyakitkan atau menyinggung. Ini seperti serangan pendahuluan, sebuah upaya untuk menangkal serangan balik sebelum terjadi.

Namun, jangan biarkan frasa ini membodohimu. Ini adalah taktik pasif-agresif klasik yang digunakan untuk menurunkan rasa percaya dirimu dengan memberikan kritik atau umpan balik negatif sambil berusaha terlihat tidak bersalah.

6. "Kamu tidak akan mengerti"

Frasa ini dapat membuatmu merasa dikucilkan dan diremehkan. Seolah-olah, pikiran, perasaan, atau pengalamanmu tidak cukup berharga untuk memahami situasi tersebut, dan ini bisa menyakitkan.

Padahal, pengalaman dan perasaanmu itu valid. Kamu memiliki kapasitas untuk memahami dan berempati dengan situasi dan emosi, meskipun itu tidak identik dengan emosimu sendiri.

Jika seseorang menggunakan frasa ini, mereka mencoba menjaga jarak denganmu, agar kamu merasa kurang. Ketidakmampuan mereka untuk berkomunikasi secara efektif atau keengganan mereka untuk berbagi tidak menentukan nilai atau kapasitasmu untuk memahami.

7. "Itu hanya imajinasimu"

Ini adalah frasa yang benar-benar dapat mengacaukan kepercayaan dirimu dan mempertanyakan realitasmu, serta membuatmu meragukan persepsimu.

Pahamilah bahwa pikiran, perasaan, dan persepsimu valid, itu nyata, itu milikmu, dan tidak ada seorang pun yang berhak mengabaikannya.

Ketika seseorang mengatakan itu hanya imajinasimu, seringkali itu merupakan cara mereka menghindari tanggung jawab atau memanipulasimu agar mempertanyakan penilaianmu.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho