JawaPos.com – Membangun interaksi sosial bisa menjadi hal rumit terutama ketika berhadapan dengan orang-orang yang sepertinya tidak bisa memikirkan urusannya sendiri.
Ada perbedaan tipis antara menunjukkan kepedulian yang tulus dengan menjadi terlalu mengganggu.
Kepedulian yang tulus mencerminkan empati sedangkan mengganggu hanyalah keusilan yang terselubung dalam kekhawatiran.
Psikologi memberi kita sudut pandang unik untuk memahami orang-orang yang tidak bisa mengurus urusannya sendiri dan terlalu fokus dengan urusan orang lain.
Hal ini juga mengungkap ciri-ciri yang terlihat pada orang-orang yang berjuang untuk tidak ikut campur dalam urusan orang lain.
Dilansir dari laman The Vessel, Rabu (26/6), berikut beberapa ciri orang yang suka ikut campur urusan orang lain menurut psikologi diantaranya :
1. Lebih menyukai drama kehidupan orang lain
Orang yang tidak bisa memikirkan urusannya sendiri dan lebih menyukai ikut campur urusan orang lain cenderung memiliki kebutuhan stimulasi yang tinggi.
Mereka memiliki kemampuan lebih untuk selalu ingin terlibat dalam urusan orang lain. Mengganggu kehidupan orang lain justru menambah kebahagiaan tersendiri untuk mereka.
Intinya mereka lebih menyukai sensasi drama kehidupan orang daripada dampak yang didapat dari tindakan mereka.
Meskipun tampaknya tidak berbahaya namun hal ini dapat menyebabkan ketegangan dan konflik dalam hubungan.
2. Kurang mempunyai empati
Secara psikologis, kurangnya empati sering kali berakar pada ketidakmampuan memahami sudut pandang orang lain.
Mereka tidak bisa memahami bahwa ikut campur tangan mereka dalam kehidupan orang lain bisa mengganggu mereka, justru mereka meyakini bahwa mereka menunjukkan kepedulian.
3. Mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi
Rasa ingin tahu adalah sifat yang sering kita kaitkan dengan kreativitas dan kecerdasan.
Namun, jika hal ini tidak dikendalikan maka bisa menyebabkan ketidakmampuan mengurus urusan sendiri dan jatuhnya malah fokus dengan urusan orang lain.
Secara psikologis, orang dengan rasa ingin tahu yang tinggi sulit menolak godaan informasi baru meskipun menyangkut urusan pribadi orang lain.
Menurut penelitian di Neuron Journal, individu yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi cenderung memiliki otak lebih aktif di wilayah yang berhubungan dengan penghargaan.
Artinya, mempelajari informasi baru benar-benar bermanfaat bagi mereka.
Dalam konteks mengurus urusan mereka sendiri, otak mereka memberi penghargaan kepada mereka karena menemukan detail baru tentang kehidupan orang lain yang sering melampaui batas.
Hal ini sekaligus sebagai wawasan menarik tentang alasan beberapa orang merasa sulit untuk tidak ikut campur dalam urusan orang lain.
4. Mencari validasi atau pengakuan
Validasi adalah konfirmasi bahwa perasaan, pikiran, dan tindakan kita pantas dipahami dan diterima orang lain.
Namun, bagi orang-orang yang suka ikut campur urusan orang lain cenderung lebih sering dan terkesan berlebihan.
Mereka terlalu melibatkan diri dalam kehidupan orang lain sebagai cara untuk merasa dihargai dan penting.
Mereka menganggap bahwa dengan mengetahui urusan setiap orang dan menawarkan nasihat atau bantuan, mereka menjadi sangat dihargai.
5. Takut ketinggalan atau FOMO
Media sosial telah memunculkan fenomena modern yang dikenal sebagai Fear of Missing Out atau FOMO.
Secara psikologis, FOMO berasal dari rasa kecemasan sosial dan kekhawatiran bahwa Anda kehilangan pengalaman menarik atau menyenangkan yang dialami orang lain.
Sifat inilah yang mendorong mereka untuk ikut campur dalam urusan orang lain bahkan hal itu termasuk privasi Anda.
6. Kurang memiliki kesadaran diri
Baca Juga: Inggris Puncaki Klasemen Akhir Grup C Meski Ditahan Imbang Slovenia
Psikologi menjelaskan bahwa kurangnya kesadaran diri sering kali menjadi ciri orang yang tidak bisa mengurus urusannya sendiri dan lebih menyukai ikut campur dengan urusan orang lain.
Bahkan mereka tidak menyadari dampak dari tindakan mereka atau bagaimana tindakan mereka dipandang oleh orang lain.