JawaPos.com - Banyak orang yang mengatakan memilih jodoh itu adalah sebuah keputusan besar dalam hidup. Oleh sebab itu, perlunya pertimbangan yang matang.
Beberapa orang menganggap jodoh sebagai sesuatu yang sudah ditentukan. Sementara yang lain, melihatnya sebagai hasil dari pilihan dan usaha bersama-sama, dalam membangun hubungan yang sehat.
Berikut adalah beberapa panduan dan tips yang bisa membantu dalam proses memilih jodoh menurut Roslina Verauli, M.Psi.,Psi Clinical Child Adolescent & Family Psychologist Rumah Sakit Pondok Indah.
1. Anda & Dia kompatibel
Psikolog yang kerap disapa Mbak Vera menegaskan tak semua aspek harus sama. Artinya tidak harus sama-sama cakep atau sama-sama kaya.
Bisa saja, yang satu cakep, yang satu cerdas. Atau, yang satu kaya, yang satu lagi pekerja keras.
“Bisa pula, yang satu serius yang lainnya humoris. Namun, Anda & Dia dapat menghayati rasa ‘saling’ sesuai atau serasi satu sama lain,” dilansir dari akun instagram @verauli.id.
2. Homogami
Baca Juga: Kunci untuk Membuat Espresso yang Sempurna dan Nikmat, Ilmuwan Menemukan Bahan Rahasia Tambahan
Pada dasarnya manusia cenderung memilih pasangan yang setara atau sekufu. Bisa saja, latar belakang pendidikan atau sosial ekonomi (sosek) setara, atau tingkat popularitas dan power dari keluarga tak jauh berbeda.
“Atau punya kesamaan value dan religi. Homogami diketahui memudahkan relasi berjalan harmonis,” kata Verauli dosen Universitas Tarumanegara.
Untuk mengetahuinya, perlu proses saling mengenal. Pemilik akun instagram yang kerap membagikan konten edukasi psikologi ini juga menyebutkan terdapat tiga tahapan, bagi yang hendak menjalani long term relationship.
Tahap pertama merupakan first date atau pertemuan pertama. Tahap ini sebagai ajang saling mengevaluasi daya tarik fisik hingga kenyamanan satu sama lain.
“Bila sejak awal merasa ada 'gap,' terkait perbedaan latar belakang sosek hingga tampilan fisik. Atau satu sama lain tak saling tertarik, artinya relasi tak akan berlanjut ke tahap 2 (red: pertemuan ke-2 s.d. ke-7),” terang Vera.
Jika pertemuan perdana saja tak berlangsung baik. Apalagi tahap 3 (red: pertemuan ke-8 s.d. jenjang pernikahan).
Kendati begitu, lanjut dan tidaknya sebuah tahapan. Bukan berarti boleh seenaknya.
Dalam hal ini, juga harus mengupayakan memperlakukan orang dengan sebaik-baiknya perlakuan.