← Beranda

Tren Menabung Kripto di Indonesia Naik, Potensi Imbal Hasil Tinggi tapi Risiko Tidak Kalah Besar

Rian AlfiantoSelasa, 30 September 2025 | 02.31 WIB
ILUSTRASI. Tokenisasi kripto. (Mantra Chain)

 

JawaPos.com - Minat masyarakat Indonesia terhadap aset digital terus tumbuh, bukan hanya untuk trading jangka pendek tetapi juga sebagai sarana menabung. Sejumlah platform lokal bahkan menghadirkan fitur simpanan dengan imbal hasil tinggi. 

Meski demikian, para pakar bahkan pemilik platform trading kripto sendiri mengingatkan bahwa investasi kripto bukan sekadar tren, melainkan instrumen berisiko yang harus dipahami dengan hati-hati. Salah satu contoh adalah aplikasi kripto Pintu yang kembali menghadirkan program Flexi Earn Super Rate Up pada September hingga November 2025.

Lewat fitur ini, pengguna dapat menyimpan aset digital seperti Cardano (ADA) dan Kusama (KSM) dengan imbal hasil tertentu. Pihak Pintu menyebut, sejak program serupa digelar sebelumnya, jumlah pengguna yang berpartisipasi melonjak 45 persen dengan total setoran naik lebih dari 2.500 persen.

Meski tampak menjanjikan, tren simpanan kripto dengan imbal hasil tinggi memiliki konsekuensi yang tidak boleh diabaikan. Harga aset digital sangat fluktuatif dan tidak dijamin lembaga penjamin seperti tabungan bank konvensional. 

Artinya, meski ada potensi keuntungan, risiko kerugian juga bisa muncul sewaktu-waktu. Tinggi volatilitasnya.

Survei internasional Crypto Survey 2025 oleh Strategy& PwC terhadap 2.500 investor di berbagai negara juga menegaskan pola ini. Sekitar 50 persen responden memilih strategi 'buy & hold', 37 persen melakukan trading harian, dan 31 persen menggunakan saving plan. 

Angka tersebut menunjukkan bahwa satu dari tiga investor memanfaatkan kripto layaknya tabungan digital, meski tidak semua memahami risiko di baliknya.

Di Indonesia, daya tarik kripto didorong oleh generasi muda yang melek teknologi dan lebih berani mengambil risiko. Namun, tanpa literasi keuangan yang cukup, tren ini bisa memicu masalah baru. Banyak investor pemula sering terjebak fenomena fear of missing out (FOMO) dan masuk ke pasar tanpa perhitungan matang.

Pihak Pintu sendiri menegaskan pentingnya edukasi sebelum berinvestasi. Head of Product Marketing Pintu, Iskandar Mohammad, mengatakan, pihaknya selalu mengingatkan pengguna untuk melakukan riset mandiri, tidak terbawa euforia, dan memastikan dana yang dialokasikan untuk investasi kripto berasal dari dana khusus, bukan kebutuhan pokok.

"Tujuan kami adalah agar adopsi kripto di Indonesia bisa tumbuh dengan sehat dan berkelanjutan," kata Iskandar di Jakarta, Senin (29/9).

Dengan demikian, meski peluang imbal hasil dari menabung aset digital cukup besar, risiko yang menyertainya tetap harus diperhitungkan. Investor pemula disarankan memulai secara bertahap, memahami profil risiko, dan tidak hanya mengikuti tren.

EDITOR: Estu Suryowati