← Beranda

Hadirkan Fitur Baru, Perdagangan Derivatif Kripto di Indonesia Makin Bergairah

Rian AlfiantoKamis, 21 Agustus 2025 | 19.18 WIB
Ilustrasi: Bitcoin, aset kripto yang paling banyak diminati. (Dhimas Ginanjar/Dall E/JawaPos.com).

JawaPos.com - Pintu, salah satu aplikasi kripto di Indonesia, kembali menghadirkan inovasi untuk memudahkan masyarakat dalam berinvestasi aset digital.

Pintu meluncurkan dua fitur terbaru di layanan perdagangan derivatif Pintu Futures, yakni Price Protection dan Stop Order, yang dirancang untuk memberikan perlindungan lebih bagi trader kripto dalam menghadapi volatilitas pasar.

Menurut Head of Product Marketing Pintu, Iskandar Mohammad, fitur Price Protection memungkinkan pengguna menentukan batas maksimum slippage, yakni perbedaan harga antara saat order dimasukkan dan saat tereksekusi, sebesar 0,2 persen, satu persen atau 2,5 persen.

“Dengan fitur ini, trader terlindungi dari eksekusi order di luar batas harga wajar ketika pasar bergerak ekstrem, misalnya saat terjadi lonjakan atau kejatuhan harga mendadak,” jelas Iskandar melalui keterangannya.

Sementara itu, fitur Stop Order memudahkan trader untuk masuk posisi otomatis saat harga menyentuh level tertentu. 

Terdapat dua pilihan: Stop Market, yang langsung dieksekusi di harga pasar setelah harga pemicu tercapai; dan Stop Limit, yang mengeksekusi order di harga limit atau lebih baik setelah harga pemicu terpenuhi. 

“Dengan fitur ini, trader tidak perlu mantau chart 24 jam penuh, tapi tetap bisa memanfaatkan momentum pasar,” tambahnya.

Industri Derivatif Kripto di Indonesia Tumbuh Pesat

Tren perdagangan derivatif kripto di Indonesia terus meningkat. Data Bursa Kripto CFX menunjukkan bahwa pada semester I 2025, nilai transaksi derivatif kripto mencapai USD 2,06 miliar atau sekitar Rp 33,54 triliun. 

Pintu Futures sendiri mencatat lonjakan jumlah trader baru hingga 340 persen secara kuartalan, menandakan semakin besarnya minat masyarakat terhadap instrumen perdagangan kripto yang lebih kompleks.

Secara global, potensi pasar jauh lebih besar. Berdasarkan data Coingecko, volume perdagangan derivatif kripto per 20 Agustus 2025 mencapai USD 730 miliar atau setara Rp 11,9 kuadriliun. Angka ini menunjukkan posisi Indonesia yang masih punya ruang pertumbuhan luas dalam ekosistem kripto dunia.

Dalam kesempatan terpisah, Timothius Martin selaku Chief Marketing Officer (CMO) Pintu menyebut, pihaknya optimistis industri kripto Tanah Air akan terus berkembang, apalagi dengan semakin ramahnya regulasi dan mulai masuknya investor institusi di pasar global. 

“Kami melihat peluang pertumbuhan dari sisi jumlah investor, pengembang, hingga nilai transaksi," kata Timo di acara CFX Crypto Conference di Bali, Kamis (21/8).

Dengan tren positif ini, Indonesia kian berpotensi menjadi salah satu pasar kripto terbesar di Asia Tenggara, meski tantangan edukasi dan literasi keuangan digital masih perlu diperkuat agar masyarakat tidak sekadar ikut-ikutan tren, tapi juga paham risiko investasi kripto.

EDITOR: Sabik Aji Taufan