JawaPos.com - Artis cantik Jennifer Dunn harus terjerat hukum untuk kali ketiga dalam kasus yang sama yakni penyalahgunaan narkoba. Jenn Dunn, sapaannya, seolah tak sanggup untuk berhenti dari efek adiksi zat terlarang itu.
Berkaca dari kasus tersebut, sebenarnya ada cara yang bisa dilakukan agar penyimpangan perilaku bisa terhindar. Pakar Kesehatan dari Departemen Keperawatan Jiwa Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI), Prof. Dr. Budi Anna Keliat, S.Kp., M.App.Sc. menilai pada prinsipnya lebih baik mencegah daripada mengobati atau menanggulangi.
Persoalannya, menurut Budi, setiap orang wajib memiliki ketahanan mental yang kuat. Sehingga seseorang bisa menolak terjerumus dalam pergaulan yang salah. "Ketahanan mental apa yang harus dimiliki agar tidak menggunakan narkoba?," kata Budi kepada JawaPos.com, Kamis (4/1).
Budi mengutip pendapat ahli Eric Ericson, kemampuan otonomi berkembang sejak usia 18 bulan pada fase perkembangan anak-anak. Dalam usia itu, baiknya anak mulai dilatih apa yang baik dan apa yang buruk. Serta apa yang boleh dan apa yang tidak boleh disertai justifikasinya atau alasannya.
"Maka pola asuh orang tua juga menjadi peranan penting," jelasnya. Beberapa langkah pun bisa dilakukan agar terhindar dari perbuatan menyimpang.
Disiplin
Latihan disiplin merupakan hal yang penting pada usia anak. Kemampuan ini berkembang terus pada usia prasekolah yaitu berinisiatif mengembangkan sesuatu.
Pola Asuh Orang Tua
Di usia sekolah, anak mulai produktif atau menghasilkan dan usia remaja berkembanglah identitas. Stimulasi perkembangan pola asuh baik oleh orang tua, guru dan lingkungan sangat penting.
Ketahanan Mental
Jika seseorang sudah memiliki ketahanan mental, maka dia memiliki kemampuan mengambil keputusan. Seseorang juga akan bertangung jawab terhadap akibat keputusan tersebut. Kemampuan ini harus dikembangkan.
Lalu bagaimana jika sudah seperti Jennifer Dunn? Cukupkah hanya rehabilitasi? Menurut Budi, pemulihan atau penyembuhan memerlukan keseriusan yang luar biasa. Pemerintah telah mengembangkan rehabilitasi dan tentu memerlukan peran serta banyak pihak.
"Baru-baru ini kami melakukan penelitian. Pada penelitian di lapas, sebagian besar remaja mengalami kecemasan dan minder atau harga diri rendah. Terapi kognitif dan perilaku berhasil mengatasinya," jelas Budi.