← Beranda

Waspada Frostbite! Luka Bakar Dingin Bisa Merusak Jaringan Permanen, Ketahui Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasinya

Siti Nasywa Artika MaulanaRabu, 17 September 2025 | 08.18 WIB
Ilustrasi pengobatan luka pada lengan (Dok. Freepik)

JawaPos.com - Ketika suhu dingin menusuk kulit hingga menimbulkan rasa perih seperti terbakar, kondisi ini dikenal sebagai luka bakar dingin atau frostbite. Meskipun terdengar sepele, luka akibat paparan suhu ekstrem ini dapat menyebabkan kerusakan jaringan serius bila tidak segera ditangani. Simak penjelasan lengkap berikut untuk mengenal gejala, penyebab, pencegahan, hingga langkah pertolongan pertama yang tepat.

Dilansir dari Medical News Today, luka bakar dingin terjadi ketika kulit terpapar suhu beku atau bersentuhan langsung dengan benda sangat dingin, seperti es batu atau kompres es dalam waktu lama. Paparan ini dapat merusak jaringan kulit dan memicu berbagai gejala yang tidak boleh diabaikan.

Gejala awalnya biasanya berupa kulit memerah atau berubah menjadi putih, abu-abu, bahkan gelap. Sensasi nyeri, mati rasa, kesemutan, gatal, dan kulit terasa keras atau seperti lilin juga umum dirasakan. Kondisi ini menandakan air dalam sel kulit mulai membeku dan membentuk kristal es yang merusak sel, sementara pembuluh darah menyempit dan mengurangi aliran oksigen ke area tersebut. Selain itu, suhu dingin ekstrem bisa memicu pembekuan darah yang memperburuk kerusakan jaringan. Dalam beberapa kasus, protein pembekuan darah ikut terganggu sehingga menimbulkan perdarahan di bawah kulit.

Penyebab dan Faktor Risiko

Paparan suhu beku menyebabkan pembuluh darah mengecil untuk melindungi organ vital. Akibatnya, bagian tubuh terluar seperti jari tangan, jari kaki, telinga, dan hidung lebih rentan mengalami luka bakar dingin. Penyebab utamanya termasuk berada di lingkungan bersuhu sangat rendah dalam waktu lama, terpaan angin kencang, atau kontak langsung dengan benda sangat dingin.

Beberapa faktor dapat meningkatkan risiko, misalnya tunawisma, kebiasaan merokok, olahraga musim dingin, atau mengonsumsi obat yang menghambat aliran darah seperti beta-blocker. Penyakit seperti diabetes, gangguan sirkulasi, neuropati perifer, hingga fenomena Raynaud juga memperbesar kemungkinan terjadinya luka ini.

Anak-anak dan lansia lebih berisiko karena kemampuan tubuh mereka mengatur suhu tidak seefisien orang dewasa. Sementara itu, orang yang berada di bawah pengaruh alkohol atau obat-obatan sering kali kurang peka terhadap dingin sehingga tidak menyadari gejala awal.

Pencegahan yang Tepat

Mencegah tentu lebih baik daripada mengobati. Saat berada di suhu dingin atau angin kencang, kenakan pakaian hangat berlapis, termasuk sarung tangan dan kaus kaki tebal. Hindari kontak langsung kulit dengan kompres es; gunakan kain atau handuk sebagai pelapis.

Kebiasaan sederhana seperti menjaga sirkulasi darah dengan tetap bergerak juga membantu. Perokok disarankan menghentikan kebiasaan tersebut karena nikotin mempersempit pembuluh darah dan memperlambat aliran darah ke kulit.

Luka Bakar Dingin vs. Frostbite

Secara medis, luka bakar dingin dan frostbite hampir serupa. Istilah ice burn umumnya merujuk pada luka akibat kontak langsung dengan es, sedangkan frostbite terjadi ketika kulit dan jaringan di bawahnya membeku akibat paparan suhu ekstrem.

Frostbite yang menembus lapisan kulit lebih dalam bahkan bisa merusak jaringan dan tulang secara permanen. Kulit manusia terdiri dari beberapa lapisan: epidermis sebagai lapisan luar, dermis di bawahnya, dan jaringan yang mencakup otot serta tendon. Luka yang menembus lapisan dalam tentu membutuhkan perawatan lebih intensif.

Pertolongan Pertama dan Perawatan

Jika mengalami luka bakar dingin, segera pindah ke tempat hangat dan lepaskan pakaian basah. Jangan menggosok area yang terluka karena bisa memperparah kerusakan. Bersihkan kotoran pada kulit lalu hangatkan dengan merendam dalam air bersuhu 37–39°C selama sekitar 20 menit. Ulangi bila perlu, dan tutupi dengan selimut atau kompres hangat.

Setelah kulit kembali hangat, lindungi dengan kasa steril untuk mencegah kuman. Minum cukup air agar tubuh tetap terhidrasi, gunakan obat pereda nyeri bila perlu, dan oleskan salep menenangkan seperti lidah buaya pada kulit yang tidak melepuh. Jika dianjurkan dokter, pertimbangkan vaksin tetanus.

Penting untuk menghangatkan kulit secara bertahap, bukan dengan air atau udara sangat panas, agar luka tidak semakin parah. Luka bakar dingin ringan umumnya bisa sembuh dengan pertolongan pertama di rumah.

Namun, segera cari pertolongan medis jika kulit tetap putih, abu-abu, atau gelap setelah dihangatkan, terasa mati rasa, atau muncul lepuh berisi darah. Gejala seperti nanah, cairan kehijauan, demam, nyeri yang meningkat, atau bagian tubuh tidak dapat digerakkan menandakan infeksi atau kerusakan jaringan serius yang memerlukan penanganan medis lebih lanjut.

Kemungkinan terbentuknya bekas luka tergantung seberapa dalam jaringan kulit yang terkena. Luka yang hanya memengaruhi lapisan luar (epidermis) biasanya tidak meninggalkan bekas. Namun, jika kerusakan mencapai lapisan dermis atau jaringan di bawahnya, proses penyembuhan lebih kompleks dan berpotensi menimbulkan jaringan parut.

EDITOR: Candra Mega Sari