JawaPos.com - Penyakit Jantung Bawaan (PJB) umumnya dialami anak sejak lahir. Gejalanya umumnya anak mengalami sesak, berkeringat, dan membiru pada 3 pekan pertama sejak lahir.
Sebelumnya, penyakit jantung bawaan harus ditangani dengan pembedahan, namun kini bisa ditangani lewat kateter seiring bertambah majunya teknologi. Tim spesialis jantung dan pembuluh darah, yaitu dr. Radityo Prakoso, Sp.JP(K) dan dr. Ario Soeryo Kuncoro, Sp.JP(K) dari Heartology Cardiovascular Center dan Brawijaya Hospital Saharjo menjelaskan PJB dapat disebabkan karena malnutrisi atau infeksi yang dialami selama masa kehamilan.
Masalah utama dari PJB adalah diagnosa dini dan penanganan, karena tidak meratanya sebaran fasilitas yang dapat menangani PJB di Indonesia.
"Sehingga banyak kasus PJB yang berakhir dengan kematian," kata para spesialis dalam webinar HUT ke-1 Heartology Cardiovascular Center dan Brawijaya Hospital Saharjo berkolaborasi dengan Yayasan Jantung Indonesia (YJI) baru-baru ini.
Gejalanya
Para ahli menyebutkan penyakit jantung muncul sejak anak masih dalam kandungan. Penyakit jantung bawaan mengganggu kemampuan jantung untuk memompa darah dan penyaluran oksigen ke seluruh tubuh.
Baik dr. Ario dan dr. Radityo mengatakan banyak pasien datang dengan sejumlah gejala khas yaitu tubuh bayi dan anak membiru. Ini ciri paling khas dialami anak dengan penyakit jantung bawaan.
Radityo bahkan sering menangani pasien bayi baru lahir yang mengalami penyakit ini. Kelainan ini sudah dibawa pasien sejak masih di dalam kandungan.
Data yang dikutip dari PERKI, bahwa angka kejadian PJB di Indonesia yang diperkirakan mencapai 43.200 kasus dari 4,8 juta kelahiran hidup (9:1.000 kelahiran hidup) setiap tahunnya, dengan 30 persen. Gejala terlihat pada minggu-minggu pertama kehidupan di mana sebagian besar pasien PJB terabaikan.
Kini ebagian anak penderita PJB tidak perlu lagi mengalami operasi atau pembedahan terbuka. Metode pilihan utama untuk menangani kasus PJB tertentu adalah prosedur intervensi menggunakan kateter.
Intervensi menggunakan kateter memiliki beberapa keuntungan di antaranya risiko atau komplikasi relatif lebih rendah, masa rawat di rumah sakit dan waktu pemulihan yang lebih singkat, serta biaya yang lebih murah. Selain itu, waktu pengerjaan tindakan juga lebih singkat.
Ada 2 prosedur dalam sistem kateter. Apa saja?
1. PDA (Patent Ductus Arteriosus) Closure
Untuk bayi berusia 9 bulan. PDA merupakan kondisi di mana pembuluh darah yang menghubungkan aorta dan arteri paru tetap terbuka. Kemudian lubang ditutup menggunakan
device Penutupan PDA.
2. ASD (Atrial Septal Defect)
Untuk anak berusia 8 tahun. ASD merupakan kondisi di mana adanya lubang pada serambi jantung yang mengakibatkan aliran darah menjadi tidak normal yang kemudian
ditutup dengan device Penutupan ASD.
"Tindakan intervensi kateter ini dilakukan dengan metode zero fluroskopi (tanpa radiasi)," kata dr. Radityo.
Radiasi diketahui dapat menimbulkan efek jangka panjang untuk pasien, dokter dan tim laboratorium kateterisasi. Menurut dr. Ario, prosedur ini menggunakan bantuan imaging murni dari ekokardiografi.
"Kami berharap semakin banyak kasus PJB yang dapat terdiagnosa secara dini dan ditangani secara tepat. Penanganan PJB yang tepat, dapat meningkatkan 3x usia harapan hidup pasien," kata mereka.