← Beranda

Ahli Gizi Ungkap Manfaat Iodium Untuk Cegah Stunting dan Malnutrisi

Nurul Adriyana SalbiahRabu, 26 Januari 2022 | 21.33 WIB
Ilustrasi. Konsumsi garam berlebih bisa sebabkan hipertensi hingga kegemukan. (times of india)
JawaPos.com - Garam dapur di rumah harus dipastikan mengandung iodium. Asupan makronutrien maupun mikronutrien, seperti iodium penting untuk meningkatkan daya tumbuh kembang anak hingga perkembangan janin dalam 1.000 hari pertama.

Dalam peringati Hari Gizi Nasional, Unilever Indonesia me lresmikan kolaborasi dengan BKKBN mendukung pencegahan dan penanganan stunting dalam kampanye Royco Nutrimenu #KebaikanIsiPiringku. Dengan tema 'Aksi Bersama Cegah Stunting dan Obesitas' Royco, Selasa (25/1) Dokter Spesialis Gizi Klinik dr. Diana F. Suganda, Sp.GK, M.Kes menilai, malnutrisi atau kurang gizi mengancam kualitas tumbuh kembang anak. Salah satunya disebabkan oleh masih tingginya prevelansi malnutrisi pada ibu hamil.

"Mengingat masa emas pertumbuhan anak terhitung sejak 1.000 hari pertama, yaitu dari kandungan hingga berusia 2 tahun, ibu hamil harus teredukasi untuk mencukupi asupan makronutrien maupun mikronutrien, seperti iodium," katanya.

Apalagi, lanjutnya, asupan iodium seringkali masih dikesampingkan karena kebutuhan per harinya sangat kecil. Padahal iodium berperan besar dalam mendukung gizi anak.

"Padahal, lebih dari sekadar mencegah penyakit gondok, iodium berperan besar bagi tumbuh kembang anak, termasuk dalam mencegah stunting," kata dr. Diana.

Head of Foods & Beverages PT Unilever Indonesia, Tbk. Ari Astuti berharap keluarga Indonesia dapat mengonsumsi hidangan dari bahan makanan dari sumber yang berkelanjutan, dan sesuai dengan pedoman ‘Isi Piringku’ yang digalakkan pemerintah. Melihat adanya masalah triple burden malnutrition yang masih dihadapi masyarakat Indonesia, intervensi gizi akan mengatasi masalah stunting

"Untuk mengatasi salah satu isu malnutrisi sedang diprioritaskan oleh pemerintah, yaitu stunting,” kata Tutut, sapaannya.

Permasalahan stunting semakin membutuhkan perhatian bersama. Studi Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) 2021 menunjukkan bahwa prevalensi stunting mencapai 24,4 persen. Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Hasto Wardoyo mengungkapkan target penurunan stunting menjadi 14 persen pada 2024 diharapkan bisa dicapai

"Mengingat kompleksitas di lapangan, intervensi program percepatan penurunan stunting membutuhkan gotong royong dari seluruh pihak, termasuk pihak pelaku industri pangan. Kolaborasi pendekatan edukatif pada keluarga yang memiliki risiko stunting sehingga kualitas gizi masyarakat dapat meningkat dan akhirnya mampu mempercepat upaya penurunan stunting," kata Hasto.
EDITOR: Nurul Adriyana Salbiah