← Beranda

Apa itu Sindrom Stockholm? Kenali Gejala, Penyebab, hingga Cara Mengobatinya!

Veronica Ayu Novita SariKamis, 30 November 2023 | 01.20 WIB
Ilustrasi sindrom stockholm pada korban kekerasan/ Sumber: freepik.com

JawaPos.Com - Tahukah kamu apa itu sindrom stockholm? Sindrom stockholm atau Stockholm syndrome merupakan salah satu gangguan psikologis.

Secara ilmiah, sindrom stockholm diartikan sebagai cara merespon emosional terhadap pelaku kekerasan.

Biasanya orang yang memiliki sindrom stockholm atau orang yang menjadi korban kekerasan justru mempunyai rasa simpati terhadap pelakunya.

Contoh sindrom stockholm paling mudah yakni korban KDRT yang tak bisa meninggalkan pelakunya.

Ikatan ini dapat tumbuh antara pelaku dan korban, sehingga menghasilkan perlakuan baik dan menciptakan ikatan terhadap keduanya.

Meskipun tindakan pelaku kekerasan mengancam jiwa, tapi orang dengan sindrom Stockholm ini ingin menjalin hubungan baik dengan pelakunya.

Dikatakan American Psychiatric Association hal ini dianggap sebagai respons mental dan juga emosional.

Kondisi ini terjadi karena korban berada dalam situasi yang penuh emosi dalam waktu yang lama.

Seseorang yang dianiaya dan diancam dengan kejam oleh pelaku kekerasan, tapi ia juga masih bergantung pada pelaku.

Sindrom stockholm biasanya sebagai pertahanan psikologis atau mekanisme penanggulangan yang dialami beberapa orang selama trauma ekstrem.

Gejala sindrom stockholm

Perlu digaris bawahi bahwa sindrom stockholm bukan kelainan dengan gejala dan kriteria tertentu.

Namun, terdapat beberapa tanda-tanda yang perlu dipertimbangkan, khususnya dalam situasi kekerasan rumah tangga.

Tanda-tandanya seperti perasaan positif terhadap penculik atau pelaku kekerasan, simpati atas keyakinan atau perilaku pelaku, merasa tertekan, dan tidak berdaya, melansir Cleveland Clinic.

Penyebab sindrom Stockholm

Sindrom stockholm berkembang karena perasaan terisolasi yang dirasakan korban dan hubungan emosional yang dipupuk pelaku kejahatan.

Studi pada 2018 mencatat kriteria utama sindrom stockholm adalah ancaman yang dirasakan terhadap kelangsungan hidup, ketidakmampuan melarikan diri, dan menunjukkan kebaikan dari seorang tindak kejahatan.

Dikutip dari Forbes, penyebab sindrom stockholm bergantung pada pelaku dan perasaan terjebak akan situasi.

Faktor risiko sindrom stockholm

Beberapa faktor memengaruhi mengapa kondisi itu terjadi, seperti banyaknya interaksi pelaku dengan korban dan gaya pelaku mengatasi korban.

Sindrom ini tidak hanya terjadi pada penculikan, tapi juga pada orang yang dalam situasi kekerasan, seperti kekerasan dalam rumah tangga.

Pengobatan sindrom Stockholm

Sindrom stockholm bukan diagnosis yang sebenarnya, sehingga tidak ada intervensi berbasis yang terbukti untuk pengobatan.

Namun, pengobatan seperti terapi bisa membantu mengatasi kondisi ini. Mengobati sindrom stockholm, memerlukan terapi trauma jangka panjang.

Terapi trauma membantu secara perlahan menghilangkan ketertarikan terhadap rasa malu yang dirasakan. Selain itu, terapi pengobatan dengan terapi perilaku kognitif. 

***

EDITOR: Novia Tri Astuti