← Beranda

Sering Sulit Bilang Tidak? Ini 5 Cara Berhenti Jadi People Pleaser Menurut Psikologi

Ryandi ZahdomoSabtu, 28 Februari 2026 | 19.40 WIB
Ilustrasi orang yang berhenti jadi people pleaser. (Freepik)

 

JawaPos.com - Sering merasa nggak enak hati kalau mau menolak permintaan teman? Atau justru merasa lelah karena selalu mendahulukan kepentingan orang lain dibanding diri sendiri? Hati-hati, bisa jadi kamu terjebak dalam pola people pleaser.

Menjadi sosok yang suportif itu baik, tapi kalau dilakukan demi mendapatkan validasi hingga mengorbankan kebahagiaan pribadi, itu sudah masuk ke "Jebakan Persetujuan." Dr. Harold Bloomfield dalam bukunya Making Peace With Your Parents menyebutkan bahwa kondisi ini sering kali berakar dari pola asuh masa kecil.

Kabar baiknya, kamu bisa mulai berubah hari ini. Dikutip dari Your Tango, berikut adalah 5 kebiasaan kecil menurut psikologi untuk membantumu berhenti jadi people pleaser dan mulai mencintai diri sendiri.

1. Telusuri Akar Masalah dari Masa Kecil

Langkah awal untuk berubah adalah memahami dari mana kebiasaan ini muncul. Coba ingat kembali, apakah dulu kamu harus memenuhi ekspektasi orang tua agar merasa diterima?p

Sebuah studi tahun 2022 menunjukkan bahwa perilaku menyenangkan orang lain sering kali merupakan mekanisme bertahan hidup akibat luka emosional. Memahami hal ini penting agar kamu berhenti menyalahkan diri sendiri. Anggap saja kebiasaan ini adalah "strategi lama" yang sudah tidak relevan lagi untuk hidupmu yang sekarang.

2. Mulai Evaluasi Sebelum Mengatakan "Ya"

Jangan langsung mengiyakan setiap permintaan yang datang. Ambil jeda sejenak dan tanyakan pada diri sendiri: apakah ini sesuai dengan prioritasmu?

Penelitian dari Universitas Edinburgh membuktikan bahwa orang yang tahu nilai hidupnya akan lebih tegas dalam menetapkan batasan. Denganl menghargai waktu dan kebutuhanmu sendiri, secara otomatis orang lain akan belajar melakukan hal yang sama kepadamu.

3. Belajar Jujur pada Kebutuhan Sendiri

Ingat, kamu tidak bertanggung jawab atas kebahagiaan semua orang. Setiap orang dewasa bertanggung jawab atas emosinya masing-masing.

Psikolog klinis Ahona Guha menekankan pentingnya memahami alasan di balik rasa takut kita untuk menolak. Mulailah berlatih dengan kalimat sederhana namun tegas, seperti: "Aku ingin membantu, tapi kali ini aku tidak bisa." Semakin sering dilatih, rasa bersalah itu akan perlahan menghilang.

4. Fokus pada Tujuan Pribadi (Bukan Orang Lain)

Kapan terakhir kali kamu melakukan sesuatu murni untuk dirimu sendiri? Studi tahun 2020 mengungkapkan bahwa fokus pada goals pribadi dapat meningkatkan rasa percaya diri dan membentengi kita dari keinginan mengorbankan diri demi orang lain.

Cobalah buat komitmen kecil, misalnya melakukan tiga hal yang kamu sukai setiap hari. Ini bukan egois, melainkan bentuk perawatan diri (self-care) yang esensial untuk keseimbangan mental.

5. Berhenti Merasa Jadi "Korban" Keadaan

Mengubah pola mental memang butuh waktu. Terapis keluarga Darlene Lancer mengingatkan adanya konflik batin yang berat bagi seorang people pleaser.

Darlene Lancer menjelaskan, “Jika kita ingin mengatakan tidak, kita merasa bersalah, dan kita mungkin merasa kesal ketika mengatakan ya. Kita akan celaka jika melakukannya dan celaka juga jika tidak melakukannya.”

Melepaskan pola ini mungkin membuat orang di sekitarmu merasa tidak nyaman pada awalnya. Namun, menetapkan batasan adalah kunci untuk mendapatkan hubungan yang lebih sehat dan hidup yang lebih bermakna.

EDITOR: Kuswandi