← Beranda

Orang yang Tidak Menghargai Diri Sendiri dalam 3 Hal Ini Sering Kali Kesulitan Menemukan Cinta Sejati

Zulfa Putri HardiyatiSenin, 23 Februari 2026 | 22.30 WIB
Sebuah Refleksi Batin tentang Harga Diri, Kasih, dan Hubungan Jangka Panjang (Olga VELES | Shutterstock)

JawaPos.com - Setiap orang mendambakan cinta yang utuh. Bukan sekadar hubungan sementara, melainkan ikatan yang aman, hangat, dan mampu bertahan melewati berbagai fase kehidupan.

Namun di balik pencarian akan pasangan ideal, ada satu fondasi yang sering diabaikan: hubungan dengan diri sendiri. Tanpa kesadaran akan nilai diri, cinta justru berubah menjadi pencarian tanpa ujung.

Menurut YourTango.com, dalam ulasan psikologi relasi yang ditulis Gigi Engle, banyak orang mengalami kesulitan menemukan cinta sejati bukan karena kurang menarik atau kurang beruntung, melainkan karena mereka belum sepenuhnya menghargai diri sendiri.

 Ada tiga pola utama yang secara tidak sadar menjauhkan seseorang dari hubungan jangka panjang yang sehat.

1.      Tidak Menjadi Pribadi yang Mereka Banggakan untuk Dicintai

Cinta sejati tidak tumbuh dari kekacauan batin yang terus dipelihara. Seseorang yang jauh di dalam dirinya merasa belum siap secara emosional, mental, atau arah hidup, sering kali berharap pasangan akan datang dan “memperbaiki” segalanya.

Padahal, hubungan yang sehat lahir dari dua individu yang sama-sama berdiri utuh. Ketika seseorang tidak bangga dengan dirinya sendiri — tidak menjaga kesehatannya, tidak memiliki arah, atau tidak menghormati kehidupannya sendiri — maka ia pun akan sulit menarik pasangan yang setara.

 Bukan karena ia tidak layak dicintai, tetapi karena cinta membutuhkan kesiapan dari kedua sisi.

2.      Tidak Memperlakukan Diri Sendiri dengan Penerimaan dan Empati

Menghargai diri sendiri bukan berarti merasa sempurna, melainkan mampu menerima kekurangan tanpa menghakimi.

 Banyak orang terlalu keras pada dirinya sendiri, terus-menerus merasa tidak cukup, dan membawa pola itu ke dalam hubungan.

Tanpa empati pada diri sendiri, seseorang cenderung menuntut validasi berlebihan dari pasangan atau justru memproyeksikan luka batinnya.

Cinta yang sehat hanya bisa tumbuh ketika seseorang mampu memeluk dirinya sendiri dengan welas asih, memahami bahwa menjadi manusia berarti memiliki kelemahan yang layak diterima, bukan disangkal.

3.      Di Kedalaman Hati, Mereka Belum Benar-Benar Mencintai Diri Sendiri

Inilah akar dari semuanya. Ketika seseorang tidak mencintai dirinya sendiri, ia akan mencari cinta sebagai pelengkap, bukan sebagai pertemuan dua jiwa yang utuh. Hubungan kemudian berubah menjadi alat untuk menutup kekosongan batin.

 Padahal, cinta sejati tidak berfungsi untuk “menyelamatkan” seseorang dari rasa tidak berharga.

 Justru ketika seseorang merasa cukup, berharga, dan utuh dengan dirinya sendiri, ia menjadi magnet bagi hubungan yang sehat, seimbang, dan penuh rasa hormat.

Pada akhirnya, cinta diri bukan konsep egois, melainkan fondasi utama hubungan yang bahagia.

 Ketika seseorang belajar menerima, menghargai, dan mencintai dirinya sendiri tanpa syarat, ia tidak hanya membangun kedamaian batin, tetapi juga membuka pintu bagi cinta sejati yang selama ini ia cari.

 Hubungan terbaik selalu berawal dari satu tempat yang sama: rasa hormat yang tulus pada diri sendiri.

EDITOR: Hanny Suwindari