← Beranda
Orang yang Tetap Tajam Secara Mental Setelah Usia 75 Tahun Meninggalkan 8 Kebiasaan Umum Ini di Usia 60-an Menurut Psikologi
Irfan FerdiansyahRabu, 11 Februari 2026 | 06.45 WIB
seseorang yang tajam secara mental di usia tua./Freepik/freepik

JawaPos.com - Banyak orang menganggap penurunan daya ingat, fokus, dan kejernihan berpikir sebagai bagian yang tak terelakkan dari penuaan.

Padahal, psikologi modern dan neurosains menunjukkan bahwa penuaan otak bukan proses pasif, melainkan sangat dipengaruhi oleh gaya hidup, kebiasaan berpikir, dan pola perilaku jangka panjang.

Penelitian psikologi kognitif menunjukkan bahwa orang-orang yang tetap tajam secara mental di usia 75 tahun ke atas bukan hanya beruntung secara genetik, tetapi secara sadar atau tidak telah meninggalkan kebiasaan-kebiasaan tertentu sejak usia 60-an—bahkan sebelumnya.

Dilansir dari Geediting pada Minggu (8/2), terdapat 8 kebiasaan umum yang secara konsisten ditinggalkan oleh mereka yang tetap memiliki kejernihan mental, daya ingat kuat, dan fleksibilitas berpikir di usia lanjut.

1. Berhenti Mengisolasi Diri Secara Sosial
Perspektif psikologi

Kesepian kronis terbukti meningkatkan risiko penurunan kognitif, demensia, dan depresi. Otak manusia adalah otak sosial—ia berkembang melalui interaksi.

Kebiasaan yang ditinggalkan:

Menarik diri dari pergaulan

Menghindari komunitas

Hidup dalam rutinitas yang tertutup

Kebiasaan pengganti:

Aktif dalam komunitas

Menjaga pertemanan lintas usia

Diskusi, berbagi cerita, dan interaksi sosial rutin

Dampak psikologis: Interaksi sosial menstimulasi memori, bahasa, empati, dan fungsi eksekutif otak.

2. Berhenti Hidup dengan Pola Pikir “Saya Sudah Tua”
Perspektif psikologi

Ini disebut sebagai self-fulfilling belief. Keyakinan membentuk perilaku, dan perilaku membentuk realitas biologis otak.

Kebiasaan yang ditinggalkan:

“Saya sudah terlalu tua untuk belajar”

“Wajar kalau lupa-lupa”

“Otak saya memang sudah menurun”

Kebiasaan pengganti:

Growth mindset

Identitas diri sebagai pembelajar

Rasa ingin tahu aktif

Fakta psikologis: Neuroplastisitas tetap aktif hingga usia lanjut. Otak terus membentuk koneksi baru jika diberi stimulus.

3. Berhenti Hidup Tanpa Tantangan Mental
Perspektif psikologi kognitif

Otak yang tidak digunakan akan melemah (use it or lose it principle).

Kebiasaan yang ditinggalkan:

Rutinitas monoton

Aktivitas pasif (TV berjam-jam tanpa stimulasi)

Minim aktivitas kognitif

Kebiasaan pengganti:

Membaca

Menulis

Bermain strategi

Belajar hal baru

Diskusi intelektual

Efek neurologis: Aktivitas ini memperkuat koneksi sinaptik dan menjaga fleksibilitas berpikir.

4. Berhenti Mengabaikan Kesehatan Fisik
Perspektif psikologi kesehatan

Otak tidak terpisah dari tubuh. Kesehatan fisik adalah fondasi kesehatan mental.

Kebiasaan yang ditinggalkan:

Pola makan buruk

Kurang gerak

Tidur tidak teratur

Kebiasaan pengganti:

Aktivitas fisik rutin

Pola makan seimbang

Tidur berkualitas

Fakta ilmiah: Olahraga meningkatkan aliran darah ke otak dan merangsang pertumbuhan neuron baru.

5. Berhenti Menumpuk Stres Tanpa Pengelolaan Emosi
Perspektif psikologi

Stres kronis merusak hippocampus (pusat memori otak).

Kebiasaan yang ditinggalkan:

Memendam emosi

Hidup dalam kecemasan kronis

Overthinking tanpa regulasi

Kebiasaan pengganti:

Mindfulness

Relaksasi

Penerimaan emosional

Manajemen stres sadar

6. Berhenti Hidup Tanpa Tujuan
Perspektif psikologi eksistensial

Makna hidup adalah bahan bakar kognitif.

Kebiasaan yang ditinggalkan:

Hidup sekadar menjalani hari

Kehilangan arah

Kebiasaan pengganti:

Tujuan hidup

Misi pribadi

Peran sosial

Kontribusi bermakna

Efek mental: Tujuan hidup menjaga motivasi, fokus, dan energi kognitif.

7. Berhenti Menolak Perubahan
Perspektif psikologi adaptif

Fleksibilitas mental adalah kunci kecerdasan jangka panjang.

Kebiasaan yang ditinggalkan:

Kaku berpikir

Takut perubahan

Menolak hal baru

Kebiasaan pengganti:

Adaptif

Terbuka

Eksploratif

8. Berhenti Hidup dalam Mode “Otomatis”
Perspektif psikologi kesadaran

Hidup otomatis = otak pasif.

Kebiasaan yang ditinggalkan:

Hidup tanpa refleksi

Tanpa kesadaran diri

Kebiasaan pengganti:

Refleksi diri

Kesadaran batin

Evaluasi hidup

Kesimpulan

Ketajaman mental di usia 75+ bukan hasil keberuntungan, melainkan hasil akumulasi kebiasaan kecil yang dilakukan bertahun-tahun.

Mereka yang tetap tajam secara mental tidak menunggu tua untuk berubah—mereka mulai meninggalkan kebiasaan merusak di usia 60-an.

Intinya:

Ketajaman otak = hasil dari:

Pola pikir

Gaya hidup

Lingkungan sosial

Kebiasaan harian

Makna hidup

Bukan usia yang menua-kan otak, tetapi cara hidup yang menua-kan otak.

EDITOR: Hanny Suwindari