← Beranda
Menurut Psikologi, 7 Kebiasaan Perilaku Perempuan yang Berkualitas Rendah, Salah Satunya Suka Manipulasi Orang Lain
Risma Aris MayaSenin, 9 Februari 2026 | 20.46 WIB
Sering manipulasi orang lain adalah salah satu karakter perempuan yang berkualitas rendah (freepik)

JawaPos.com – Dalam psikologi, kualitas seseorang tidak dinilai dari status, penampilan atau gender, melainkan dari pola perilaku yang konsisten dalam hubungan sosial.

Sejumlah kebiasaan tertentu terbukti secara ilmiah bisa merusak relasi, kepercayaan dan kesehatan mental orang di sekitarnya.

Artikel kali ini membahas tuntas tentang kebiasaan perilaku perempuan yang memiliki kualitas rendah sebagaimana dilansir dari laman Global English Editing, Senin (9/2) sebagai berikut :

  1. Konsisten manipulasi orang lain

Manipulasi hadir dalam berbagai bentuk dan hal ini merupakan salah satu tanda paling jelas dari karakter yang bermasalah. 

Baca Juga: Ramalan Zodiak Besok untuk Zodiak Aquarius Selasa, 10 Februari 2026: Karier, Cinta, Keuangan, dan Kesehatan

Menurut penelitian tentang hubungan toxic, individu yang manipulatif menggunakan taktik seperti membuat orang merasa bersalah, gaslighting dan memainkan permainan pikiran.

Bahkan mereka juga menggunakan ancaman halus atau drama emosional untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Dalam kehidupan sehari-hari, mereka kerap memutarbalikkan cerita agar terlihat benar atau memanfaatkan kelemahan emosional orang lain.

  1. Menolak bertanggung jawab atas tindakan sendiri

Salah satu tanda paling jelas dari perempuan dengan kualitas rendah adalah ketidakmmapuan berkata “ini kesalahan saya”. Justru kesalahan tersebut selalu dialihkan ke orang lain atau keadaan. 

Baca Juga: Apa Itu Portofolio? Syarat Wajib bagi yang Mau Masuk Prodi Seni dan Olahraga via SNBP 2026

Riset di Personality and Individual Differences menemukan penghindaran tanggung jawab berhubungan kuat dengan rendahnya kedewasaan emosional.

Dalam kehidupan nyata, ini terlihat dari kebiasaan menyalahkan pasangan, rekan kerja atau keluarga atas setiap konflik. 

  1. Kurangnya empati yang terus menerus

Pada dasarnya empati bukan hanya soal memahami perasaan orang lain tetapi juga meresponsnya dengan kepedulian. Individu yang minim empati sering mengabaikan dampak emosional dari ucapan dan tindakannya.

Bahkan mereka kesulitan memahami bagaimana kata-kata dan tindakan mereka menyakiti orang lain. Ketika Anda mencoba menjelaskan bagaimana perilaku mereka menyakiti Anda, mereka mengabaikan perasaan Anda atau mengatakan Anda terlalu sensitif. 

  1. Pola ketidakjujuran yang konsisten

Kejujuran ini bukan hanya tentang menghindari kebohongan besar. Ini juga tentang bersikap jujur dalam momen-momen kecil. Orang dengan karakter buruk cenderung melakukan ketidakjujuran kronis.

Mereka berbohong dengan cara menyembunyikan sebagian kebenaran, mereka memutarbalikkan kebenaran untuk kepentingan mereka sendiri, mereka mengatakan apa pun yang menguntungkan mereka saar itu lalu mengubah cerita mereka kemudian.

Dalam praktik sehari-hari, ini terlihat dari cerita yang sering berubah atau menutupi fakta kecil tanpa alasan yang jelas. 

  1. Selalu mengutamakan kepentingan pribadi

Orang dengan karakter buruk membuat setiap keputusan hanya berdasarkan kebutuhan dan keinginan mereka sendiri. 

Menurut penelitian tentang gangguan kepribadian dan hubungan, mereka hanya mempertimbangkan kepentingan mereka sendiri ketika membuat pilihan bahkan pilihan yang memengaruhi orang lain.

Orang yang sehat mental justru menyeimbangkan kebutuhan mereka dengan kebutuhan orang lain. Sedangkan orang yang berkarakter buruk bahkan tidak pernah mencoba untuk mencapai keseimbangan tersebut.

  1. Terus menerus mengkritik dan meremehkan

Tanda lain perempuan yang berkualitas rendah adalah mereka terus-menerus mengkritik, mengolok-olok minat Anda, teman-teman Anda bahkan keluarga Anda.

Mereka juga tidak segan meremehkan prestasi Anda dan mengabaikan kekhawatiran Anda. Penelitian psikologi tentang pola hubungan beracun mengidentifikasi kritik yang terus-menerus sebagai indikator utama karakter yang bermasalah.

  1. Berperan sebagai korban untuk menghindari tanggung jawab

Orang yang selalu berperan sebagai korban membingkai setiap situasi sehingga mereka selalu menjadi pihakyang dirugikan. 

Mereka menggunakan trauma masa lalu, keadaan sulit atau kondisi emosional mereka untuk membenarkan perilaku yang merugikan dan menghindari pertanggung jawaban.

Polanya seperti ini mereka melakukan sesuatu yang menyakitkan, Anda mencoba mengatasinya, dan tiba-tiba percakapan berubah menjadi tentang betapa sulitnya keadaan mereka atau bagaimana Anda menyerang mereka. Tanpa disadari, Anda sudah meminta maap kepada orang yang menyakiti Anda.

EDITOR: Hanny Suwindari