JawaPos.com - Memasuki usia 70-an sering dipersepsikan sebagai fase hidup yang tenang, matang, dan penuh penerimaan.
Dari luar, banyak orang mengira mereka yang berada di usia ini telah berdamai dengan segalanya—keinginan, keterbatasan, bahkan kehilangan. Namun psikologi melihat gambaran yang lebih kompleks.
Di balik wajah yang tampak bijaksana, ada banyak hal kecil yang perlahan berhenti dinikmati, bukan karena sudah tidak ingin, melainkan karena rasa malu untuk mengakuinya.
Rasa malu ini bukan muncul tanpa sebab. Ia dibentuk oleh norma sosial, ekspektasi usia, dan ketakutan dianggap “tidak pantas” atau “kekanak-kanakan”.
Akibatnya, banyak orang di usia 70-an memilih diam, memendam, dan melepaskan kesenangan tertentu secara perlahan—tanpa pernah benar-benar membicarakannya.
Dilansir dari Geediting pada Kamis (18/12), terdapat delapan hal yang, menurut sudut pandang psikologi, sering diam-diam ditinggalkan oleh orang-orang di usia 70-an karena malu untuk mengakuinya.
1. Keinginan untuk Dipuji dan Diakui
Secara psikologis, kebutuhan akan pengakuan tidak pernah benar-benar hilang seiring bertambahnya usia. Namun di usia 70-an, banyak orang merasa tidak pantas lagi menginginkan pujian. Mereka takut dianggap haus perhatian atau “tidak tahu diri”.
Akibatnya, ketika mendapat prestasi kecil—seperti memasak dengan baik, menyelesaikan teka-teki sulit, atau membantu orang lain—mereka memilih merendah berlebihan. Padahal, berhenti menikmati pujian dapat perlahan mengikis rasa harga diri dan membuat mereka merasa “tidak terlihat”.
2. Menikmati Penampilan dan Merasa Menarik
Banyak orang di usia lanjut sebenarnya masih ingin merasa rapi, menarik, dan percaya diri dengan penampilannya. Namun psikologi mencatat adanya rasa malu yang kuat: takut dianggap berusaha terlalu keras atau “tidak sesuai umur”.
Akhirnya, mereka berhenti menikmati proses berdandan, memilih pakaian favorit, atau merasa bangga saat bercermin. Padahal, merasa nyaman dengan tubuh dan penampilan sendiri adalah salah satu sumber kesejahteraan psikologis, di usia berapa pun.
3. Hasrat Romantis dan Kedekatan Emosional
Topik ini hampir selalu diselimuti keheningan. Banyak orang di usia 70-an masih merindukan kedekatan emosional—bahkan romantis. Namun norma sosial sering membuat mereka merasa malu untuk mengakuinya, seolah cinta dan kerinduan hanya milik yang muda.
Menurut psikologi, menekan kebutuhan akan kedekatan ini bisa menimbulkan kesepian emosional yang mendalam. Mereka tidak berhenti menginginkan, tetapi berhenti menikmati karena takut dihakimi.
4. Bermimpi dan Membuat Rencana Baru
Ada anggapan tak tertulis bahwa di usia 70-an, seseorang seharusnya “tidak banyak bermimpi”. Bermimpi sering dianggap naif atau tidak realistis. Akibatnya, banyak orang berhenti menikmati proses membayangkan masa depan—sekecil apa pun itu.
Padahal, psikologi menegaskan bahwa memiliki harapan dan rencana, meski sederhana, membantu otak tetap aktif dan memberi makna pada hari-hari yang dijalani.
5. Mengakui Rasa Kesepian
Kesepian adalah pengalaman emosional yang umum, tetapi di usia lanjut, mengakuinya sering terasa memalukan. Banyak orang takut dianggap lemah, manja, atau menyusahkan orang lain.
Akibatnya, mereka berhenti menikmati interaksi sosial secara utuh karena selalu menyembunyikan perasaan. Psikologi menunjukkan bahwa kesepian yang tidak diungkapkan justru lebih berbahaya daripada kesepian yang diakui dan dibicarakan.
6. Menikmati Hal-Hal Sederhana yang Dianggap “Kekanak-kanakan”
Menonton kartun, tertawa berlebihan pada hal sepele, atau menikmati permainan ringan sering dianggap tidak pantas untuk usia 70-an. Karena malu, banyak orang menahan diri dan berhenti menikmati kesenangan kecil ini.
Padahal, psikologi positif menekankan bahwa kegembiraan sederhana adalah sumber emosi positif yang kuat, membantu mengurangi stres dan meningkatkan kualitas hidup.
7. Mengeluh dan Mengungkapkan Rasa Lelah
Di usia 70-an, banyak orang merasa harus selalu tampak kuat dan bersyukur. Mengeluh dianggap tanda kelemahan atau ketidakdewasaan. Akibatnya, mereka berhenti menikmati kelegaan emosional yang sebenarnya muncul saat keluh kesah didengar.
Psikologi memandang mengungkapkan rasa lelah sebagai bentuk regulasi emosi yang sehat, bukan sebagai tanda menyerah.
8. Mengakui Bahwa Mereka Masih Takut
Ketakutan tidak hilang bersama usia. Takut sakit, takut ditinggalkan, takut tidak berguna—semua itu nyata. Namun banyak orang di usia 70-an merasa malu mengakuinya karena takut dianggap rapuh.
Akhirnya, mereka berhenti menikmati rasa aman yang sebenarnya bisa muncul dari berbagi ketakutan dengan orang lain. Menurut psikologi, keberanian bukan berarti tidak takut, melainkan berani mengakuinya.
Kesimpulan
Usia 70-an bukan akhir dari keinginan, perasaan, atau kebutuhan emosional. Yang sering terjadi bukanlah hilangnya kenikmatan, melainkan tumbuhnya rasa malu untuk mengakuinya. Norma sosial dan ekspektasi usia membuat banyak orang memilih diam dan melepaskan hal-hal yang sebenarnya masih ingin mereka nikmati.
Pelajaran psikologisnya sederhana namun penting: tidak ada perasaan yang “tidak pantas” hanya karena usia. Mengakui keinginan, rasa takut, dan kebutuhan emosional justru membuka ruang untuk hidup yang lebih utuh dan bermakna—bahkan, atau justru terutama, di usia 70-an.