JawaPos.com - Saudara kandung sering dianggap sebagai teman hidup pertama—orang yang tumbuh bersama kita, menyaksikan fase-fase penting masa kecil, hingga menjadi bagian dari identitas keluarga.
Namun, kenyataannya tidak semua orang memiliki hubungan dekat dengan saudara kandung.
Beberapa justru tumbuh dewasa tanpa kedekatan emosional, bahkan nyaris tanpa komunikasi.
Psikologi keluarga menjelaskan bahwa pola hubungan saudara kandung di masa dewasa tidak terbentuk secara tiba-tiba.
Ada pengalaman masa kecil tertentu yang secara halus—atau kadang sangat jelas—membentuk jarak emosional di kemudian hari.
Jika seseorang merasa “tidak dekat,” “canggung,” atau “asing” dengan saudara kandungnya, penyebabnya sering bisa ditelusuri pada fase awal kehidupan.
Dilansir dari Geediting pada Senin (8/12), terdapat tujuh pengalaman masa kecil yang paling sering dialami oleh orang yang tumbuh tanpa kedekatan dengan saudara kandungnya.
1. Perbandingan Antar Saudara yang Berulang dari Orang Tua
Banyak hubungan saudara kandung renggang karena sejak kecil mereka hidup dalam atmosfer perbandingan: siapa yang lebih pintar, lebih rapi, lebih patuh, atau lebih sukses.
Perbandingan menciptakan dua pola:
Resentment (kejengkelan) dari anak yang sering dianggap “lebih buruk”.
Pressure (beban peran) pada anak yang dianggap paling unggul.
Keduanya menciptakan jarak, bukan kedekatan.
2. Kompetisi Tidak Sehat yang Dibiarkan atau Justru Dipupuk
Dalam beberapa keluarga, saudara kandung bukan dipandang sebagai sekutu, tetapi sebagai kompetitor.
Jika orang tua memupuk kompetisi atau tidak membantu anak belajar bekerja sama, hubungan mereka tumbuh kaku dan saling berjaga-jaga.
Anak mungkin belajar bahwa:
Keberhasilan harus diraih sendiri.
Saudara bukan tempat berbagi, tetapi seseorang yang harus dikalahkan.
Ini bertahan hingga dewasa.
3. Pola Pengasuhan Tidak Adil (Favoritisme)
Salah satu faktor yang paling sering memisahkan saudara kandung adalah kecenderungan orang tua memiliki “anak favorit.”
Efek jangka panjangnya:
Anak yang tidak diutamakan merasa tidak dihargai.
Anak yang difavoritkan merasa bersalah atau terjebak peran tertentu.
Hubungan antar saudara menjadi kaku karena masing-masing memendam luka yang berbeda.
Favoritisme adalah bom waktu dalam relasi keluarga.
4. Konflik Keluarga yang Berat atau Kekacauan Emosional di Rumah
Di rumah yang penuh pertengkaran, kekerasan verbal/fisik, atau ketidakstabilan emosional, saudara kandung sering memilih mekanisme bertahan masing-masing.
Ada yang:
Melarikan diri secara emosional.
Mengisolasi diri.
Mencari figur aman di luar rumah.
Karena fokus utama mereka adalah bertahan hidup secara mental, hubungan antar saudara pun tidak sempat terbangun.
5. Perbedaan Usia yang Terlalu Jauh
Jika jarak usia terlalu besar (misalnya 8–12 tahun), hubungan emosional sepanjang masa kecil jarang benar-benar terbangun.
Keduanya tumbuh di dua fase perkembangan yang berbeda:
Yang lebih tua sudah remaja ketika yang kecil masih bermain.
Yang kecil merasa tidak cukup relevan bagi yang lebih dewasa.
Akibatnya, sampai dewasa hubungan mereka lebih seperti kenalan daripada saudara dekat.
6. Tidak Pernah Dilatih atau Difasilitasi untuk Menjalin Kedekatan
Kedekatan saudara kandung sebenarnya perlu dibangun, bukan otomatis terjadi.
Tanpa momen kebersamaan, tradisi keluarga, atau komunikasi terbuka, hubungan itu tetap dangkal.
Contoh kondisi:
Masing-masing anak dibiarkan sibuk sendiri.
Tidak ada kegiatan bersama.
Tidak ada budaya saling mendukung.
Dewasa nanti, mereka tidak punya “memori emosional” yang dapat menjadi fondasi kedekatan.
7. Salah Satu Anak Memikul Beban Peran yang Tidak Seimbang
Dalam psikologi keluarga, dikenal konsep parentification—ketika seorang anak mengambil peran seperti orang tua karena situasi keluarga menuntut itu.
Anak yang diparentifikasi sering merasa:
Terpisah dari saudara kandungnya.
Tidak punya masa kecil.
Memikul tanggung jawab yang terlalu besar.
Akibatnya, alih-alih menjadi teman bermain atau teman bertumbuh, saudara kandung lebih terasa seperti “beban tambahan” atau seseorang yang harus diurus.
Ketidakseimbangan peran ini membuat hubungan sulit hangat ketika dewasa.
Kesimpulan: Jarak Bukan Muncul Begitu Saja—Ia Dibangun dari Cerita yang Diam
Ketidakdekatannya seseorang dengan saudara kandung biasanya bukan kebetulan.
Ia lahir dari pola masa kecil—baik perbandingan, konflik, pola asuh, atau dinamika keluarga—yang membentuk cara mereka melihat satu sama lain.
Memahami akar emosional ini penting, bukan untuk menyalahkan masa lalu, tetapi untuk:
Mengenali pola yang selama ini tidak disadari.
Menyadari bahwa hubungan dapat diperbaiki jika kedua pihak bersedia.
Memberi ruang bagi penyembuhan diri dan kedewasaan emosional.
Pada akhirnya, kedekatan bukan ditentukan oleh darah—melainkan oleh kualitas hubungan yang dengan sadar dibangun.