JawaPos.com - Kamu tahu rasanya ketika seseorang meminta maaf padamu, tapi dibanding merasa lebih baik, kamu malah merasa lebih buruk?
Permintaan maaf yang tulus membutuhkan pertanggungjawaban yang tulus. Permintaan maaf itu memang tidak nyaman.
Permintaan maaf palsu ada di mana-mana, dikemas dengan kata-kata yang terdengar tulus tetapi sebenarnya mengalihkan semua kesalahan kembali ke pihak lain.
Setelah bertahun-tahun menyaksikan konflik di kantor, menghadapi drama keluarga, dan melakukan banyak kesalahan sendiri, kita telah belajar mengenali frasa pengalihan ini dari jarak jauh.
Dilansir dari Geediting, berikut adalah 6 tanda paling umum yang menandakan seseorang tidak benar-benar bertanggung jawab. Simak penjelasannya!
1. Maaf Kamu Merasa Seperti Itu
Ini adalah benang merah dari semua tindakan tidak meminta maaf. Kedengarannya simpatik, ya? Tapi coba perhatikan lebih dekat.
Orang tersebut tidak meminta maaf atas perbuatannya. Mereka hanya mengungkapkan penyesalan karena Anda punya perasaan terhadapnya.
Apa sebenarnya yang dikatakan di sini? "Perasaanmu adalah masalahmu, bukan masalahku." Itu adalah bom waktu emosional yang dibungkus dengan paket yang terdengar simpatik.
2. Maaf Kalau Aku Menyinggungmu
Kata "jika" yang singkat itu sangat berpengaruh di sini. Kata itu menyiratkan bahwa mungkin, mungkin saja, tidak ada pelanggaran yang terjadi.
Kata itu hipotetis, bersyarat, dan sama sekali tidak mengakui adanya kerugian yang ditimbulkan.
Coba pikirkan. Jika seseorang menginjak kaki Anda, mereka tidak akan berkata, "Maaf kalau saya menginjak kaki Anda."
Mereka tahu mereka yang melakukannya. Menggunakan "jika" dalam permintaan maaf berarti orang tersebut tidak percaya bahwa mereka melakukan kesalahan atau tidak mau mengakuinya.
Permintaan maaf yang sesungguhnya adalah: "Maafkan aku karena telah menyinggungmu." Tanpa syarat. Tanpa klausula berlebihan.
3. Maaf, Tapi
Segala sesuatu sebelum "tetapi" hanyalah hiasan. Pesan yang sebenarnya muncul setelahnya. Maaf, tapi kamu terlalu sensitif.
Maaf, tapi aku sedang mengalami hari yang buruk. Maaf, tapi seharusnya kamu memberitahuku lebih awal.
Lihat apa yang terjadi? Permintaan maaf langsung ditiadakan oleh pembenaran. Seperti memberi hadiah lalu mengambilnya kembali.
4. Maaf Atas Apapun
Pernahkah Anda menerima permata ini? Ini seperti permintaan maaf yang setara dengan melempar spageti ke dinding untuk melihat apakah bisa menempel.
Frasa ini menunjukkan orang tersebut tidak tahu apa kesalahannya (dan tidak mau repot-repot mencari tahu) atau mereka tahu persis apa yang mereka lakukan tetapi tidak mau mengakuinya secara spesifik.
Permintaan maaf ini mencakup segalanya dan tidak membahas apa pun. Akuntabilitas sejati berarti menyebutkan perilaku spesifik dan memahami dampaknya.
5. Maaf Kamu Salah Paham
Ini masalah pemahaman di pihak Anda, bukan masalah komunikasi di pihak kita. Frasa ini sangat berbahaya karena memosisikan pihak yang meminta maaf sebagai pihak yang masuk akal dan pihak yang tersakiti sebagai pihak yang bingung atau keliru.
Jika memang ada kesalahpahaman, orang yang bertanggung jawab akan mengatakan sesuatu seperti, "Maaf, saya kurang jelas," atau "Maaf atas kebingungan yang saya timbulkan."
Lihat bedanya? Yang satu bertanggung jawab. Yang lain menyalahkan. Aku Hanya Bercand Ah, pembelaan klasik "kamu nggak tahan bercanda?".
Meskipun ini mungkin tidak terdengar seperti permintaan maaf sama sekali, sering kali disertai dengan permintaan maaf: "Maaf, aku cuma bercanda."
Begini masalahnya dengan lelucon: jika seseorang terluka oleh "lelucon" Anda, berarti itu tidak lucu baginya.
Bersembunyi di balik humor hanyalah cara lain untuk menghindari tanggung jawab atas dampak kata-kata Anda.
6. Aku Sudah Bilang Aku Minta Maaf
Pernahkah Anda memperhatikan bagaimana beberapa orang memperlakukan permintaan maaf seperti transaksi sekali jadi?
Seolah-olah mengucapkan kata-kata ajaib sekali saja bisa langsung memperbaiki segalanya? Frasa ini biasanya muncul ketika seseorang ingin dihargai karena meminta maaf tanpa benar-benar berusaha memperbaiki diri.
Mereka sudah mencentang kotaknya, jadi mengapa tidak semua orang bisa melanjutkan hidup? Permintaan maaf yang tulus bukan sekadar kata-kata.
Permintaan maaf adalah sebuah proses. Terkadang perlu diulang, terutama jika perilaku tersebut berlanjut atau rasa sakitnya mendalam.
Merasa frustrasi karena satu permintaan maaf tidak memperbaiki segalanya menunjukkan bahwa orang tersebut lebih peduli dengan ketidaknyamanannya sendiri daripada benar-benar memperbaiki hubungan.