← Beranda
Susah Membuka Hati? Ini 4 Alasan Psikologis Kenapa Seseorang Sulit Percaya dengan Orang Baru dalam Hubungan Menurut Teori Psikologi
Aria Maulana SatriyoSenin, 22 September 2025 | 13.46 WIB
Ilustrasi hubungan yang didasari rasa percaya./Freepik.

JawaPos.com – Sulit percaya dengan orang baru adalah fenomena psikologis yang cukup sering kita temui, terutama dalam konteks hubungan sosial maupun romantis.

Padahal, seperti yang kita pahami bersama, kepercayaan adalah fondasi dari setiap hubungan yang sehat.

Benar, kewaspadaan memang penting. Namun jika terlalu dominan, sikap ini bisa berubah menjadi penghalang dalam membangun koneksi baru. 

Rasa curiga yang berlebihan sering kali membuat hubungan jadi kaku, rapuh, bahkan gagal berkembang.

Kenapa seseorang sulit percaya dengan orang baru? Jawabannya tidak sesederhana “trauma masa lalu” saja. 

Baca Juga: Anda Tahu Hubungan Anda Kuat Jika Anda Berhasil Melewati 7 Tantangan Hidup Ini Bersama-Sama Menurut Psikologi

Ada faktor psikologis yang lebih dalam, mulai dari teori kelekatan (attachment theory), pengalaman sosial, hingga bias kognitif yang tanpa disadari memengaruhi cara kita memandang orang lain.

Sebagai gambaran, sebuah penelitian dari menemukan bahwa kepercayaan menyumbang 62,5% dari variasi kualitas hubungan yang dirasakan. 

Analisis regresi dalam studi tersebut menunjukkan bahwa setiap peningkatan 1 unit kepercayaan dalam hubungan romantis dapat meningkatkan kualitas hubungan sebesar 0,602 poin. 

Artinya, tanpa kepercayaan, sulit rasanya mencapai kepuasan dan keintiman dalam sebuah hubungan.

Fakta ini menunjukkan bahwa fenomena sulit percaya bukan hanya masalah pribadi, tetapi juga tren sosial yang semakin menguat.

Nah, ingin tahu alasan mengapa seseorang susah percaya pada orang baru menurut psikologi? Simak penjelasan berikut yang dilansir dari Maplewood Counseling, Psychology Today, Counseling Directory, Thriveworks serta beberapa studi ilmiah.

Baca Juga: Orang yang Mengajak Anjingnya Jalan-Jalan pada Waktu yang Sama Setiap Hari Biasanya Memiliki 7 Kualitas Berbeda Ini Menurut Psikologi

1. Teori Keterikatan – Pola Keterikatan Sejak Kecil Membentuk Cara Kita Percaya

Sulit percaya pada orang baru sering kali berakar dari pola keterikatan (attachment style) yang terbentuk sejak kecil. 

Teori attachment menjelaskan bahwa pengalaman awal dengan pengasuh utama—apakah penuh kasih, konsisten, atau justru penuh penolakan—sangat memengaruhi bagaimana kita melihat orang lain di masa dewasa.

Orang dengan anxious attachment biasanya merasa tidak aman dalam hubungan, takut ditinggalkan, dan butuh kepastian terus-menerus. 

Kondisi ini membuat mereka cenderung sulit percaya karena selalu curiga hubungan akan berakhir.

Sementara itu, mereka dengan avoidant attachment justru menjaga jarak denga orang lain. 

Mereka takut dengan keintiman, sehingga memilih untuk tidak terlalu bergantung pada orang lain yang akhirnya membuat kepercayaan jadi hambar.

Ada juga tipe disorganized attachment, yang sering muncul karena trauma atau pola asuh yang tidak konsisten. 

Mereka merasakan campuran antara keinginan untuk dekat dengan orang lain dan rasa takut yang besar akan kedekatan itu. 

Akibatnya, rasa percaya jadi rapuh dan hubungan terasa tidak stabil.

Singkatnya, pola keterikatan yang tidak aman membuat seseorang lebih sulit membuka diri, membangun rasa percaya, dan menjalin hubungan yang sehat.

2. Trauma dan Pengkhianatan – Luka Lama yang Membuat Sulit Percaya

Salah satu alasan terbesar kenapa seseorang sulit percaya dengan orang baru adalah karena trauma dan pengalaman pengkhianatan di masa lalu. 

Ketika seseorang pernah dikhianati, disakiti, atau mengalami kekerasan emosional, luka batin yang ditinggalkan tidak mudah sembuh.

Otak merespons trauma dengan cara menjadi hipervigilant, selalu waspada dan siaga terhadap kemungkinan bahaya. 

Mekanisme ini awalnya muncul untuk melindungi diri, tetapi justru membuat seseorang kesulitan merasa aman, bahkan dalam hubungan yang sebenarnya sehat dan suportif.

Akibatnya, setiap interaksi bisa terasa berisiko membuka luka lama yang begitu menyakitkan. 

Muncul rasa curiga berlebihan, sulit memberi kepercayaan penuh, hingga selalu ada ketakutan bahwa orang lain akan mengulangi kesalahan yang sama seperti di masa lalu.

Dengan kata lain, trauma dan pengkhianatan tidak hanya meninggalkan luka emosional, tapi juga membentuk pola pikir defensif yang menghalangi terciptanya rasa percaya.

3. Social Learning Theory – Belajar Tidak Percaya dari Lingkungan

Alasan lain kenapa seseorang sulit percaya dengan orang baru bisa dijelaskan lewat social learning theory. 

Teori ini menekankan bahwa kita membentuk sikap, termasuk soal kepercayaan, lewat proses belajar sosial.

Hal ini mencakup mengamati perilaku orang lain, melihat konsekuensi dari tindakan mereka, lalu menarik kesimpulan.

Misalnya, jika sejak kecil seseorang sering menyaksikan pengkhianatan, kebohongan, atau janji yang dilanggar dalam lingkungannya, otaknya belajar bahwa “kepercayaan hanya berujung pada kekecewaan.” 

Akhirnya, tanpa sadar, mereka mengadopsi pola pikir defensif dan lebih mudah curiga ketika berhadapan dengan orang baru.

Sebaliknya, mereka yang tumbuh di lingkungan penuh keteladanan positif – misalnya melihat orang-orang yang saling mendukung dan menepati janji – cenderung lebih mudah membangun kepercayaan.

4. Cognitive Bias – Negativity Bias & Confirmation Bias

Psikologi juga menjelaskan bahwa kesulitan mempercayai orang baru bisa muncul karena cognitive bias atau cara otak kita memproses informasi secara tidak seimbang. 

Dua bias yang paling berpengaruh adalah negativity bias dan confirmation bias.

Negativity bias membuat kita lebih fokus pada pengalaman buruk dibanding pengalaman baik. 

Dari sisi evolusi, hal ini membantu manusia bertahan hidup dengan lebih cepat mendeteksi ancaman. 

Namun dalam hubungan, bias ini membuat satu pengalaman negatif terasa lebih menonjol daripada sepuluh pengalaman positif. 

Contohnya, sekali dibohongi bisa cukup untuk menutupi bertahun-tahun kejujuran, dan bekas luka ini cenderung melekat lebih lama.

Sementara itu, confirmation bias bekerja dengan cara memperkuat kecurigaan yang sudah ada. 

Ketika seseorang sudah merasa sulit percaya, mereka akan cenderung mencari bukti yang mendukung kecurigaannya, sambil mengabaikan tanda-tanda kejujuran atau niat baik. 

Akibatnya, meskipun ada banyak perilaku positif dari orang lain, yang terlihat hanyalah hal-hal yang dianggap mencurigakan.

Kombinasi dua bias ini menciptakan semacam lingkaran setan. Pengalaman negatif jadi lebih berkesan, lalu ditambah dengan kecenderungan mencari bukti yang memperkuat rasa tidak percaya. 

5. Strategi Mengatasi Trust Issue 

Mengatasi trust issues memang tidak mudah, tapi bukan berarti mustahil untuk dilakukan dan mulai percaya lagi. 

Jika rasa sulit percaya ini sudah mengganggu hubungan atau bahkan kualitas hidup, inilah beberapa langkah sederhana yang bisa dicoba:

Terima risiko dalam membangun kepercayaan – Kepercayaan selalu datang dengan risiko, karena tidak ada manusia yang sempurna. Yang penting adalah membangun batasan dan ekspektasi yang sehat.

Pahami bagaimana kepercayaan bekerja – Ada orang yang mudah percaya hingga ada alasan untuk tidak, ada juga yang butuh waktu sampai benar-benar yakin. Keduanya wajar, pilih sesuai kenyamanan Anda.

Ambil risiko emosional. – Tidak ada jalan pintas selain berani membuka diri. Biarkan diri Anda rentan, meski pelan-pelan.

Kenali akar masalahnya – Trust issues biasanya berakar dari luka masa lalu. Menyadari sumbernya bisa membantu proses penyembuhan.

Komunikasi terbuka – Jujur pada diri sendiri dan orang lain. Katakan jika Anda butuh waktu untuk belajar percaya.

Hargai orang-orang yang bisa dipercaya – Sadari siapa saja yang konsisten hadir untuk Anda, dan tunjukkan apresiasi pada mereka. Dari sana, Anda belajar lagi apa arti kepercayaan.

Dengan langkah-langkah ini, trust issues tidak lagi menjadi tembok permanen, melainkan tantangan yang bisa dilewati dengan kesabaran dan dukungan yang tepat. 

EDITOR: Hanny Suwindari