← Beranda

Rahasia Otak Saat Jatuh Cinta Pertama, Kenapa Rasanya Begitu Berkesan dan Sulit Dilupakan?

Lavinia Tiara MalikaMinggu, 14 September 2025 | 19.30 WIB
Ilustrasi cinta pertama dua orang sejoli (freepik)

JawaPos.com – Jatuh cinta pertama selalu memiliki tempat istimewa di hati banyak orang. Sensasi berdebar, rasa bahagia berlebihan, hingga ingatan yang terus melekat, membuat pengalaman ini begitu sulit dilupakan. Namun, apa sebenarnya yang terjadi di otak manusia saat merasakan cinta pertama?

Konten edukasi dari akun TikTok @newronedu menjelaskan bahwa saat jatuh cinta, otak manusia melepaskan sejumlah hormon dan neurotransmitter yang menimbulkan sensasi euforia.

Dopamin, serotonin, oksitosin, dan norepinefrin bekerja secara bersamaan menciptakan rasa senang luar biasa. Inilah alasan mengapa jatuh cinta sering disebut sebagai pengalaman yang “membius” seseorang.

Baca Juga: Jadwal dan Link Live Streaming PSIM Yogyakarta vs Borneo FC di Super League 2025/2026, Pesut Etam Bidik Rekor Sempurna!

Ahli bedah saraf dr. Ryu Hasan, dalam kanal edukasi MALAKA, mengungkap bahwa cinta pada dasarnya bukanlah hal abstrak, melainkan respons biologis.

“Cinta itu adalah kerja otak. Ada aktivitas listrik dan kimiawi yang membuat seseorang merasakan debar, rindu, atau rasa ingin selalu dekat dengan orang yang dicintai,” jelasnya.

Lebih lanjut, dr. Ryu Hasan menyebut bahwa cinta pertama terasa begitu kuat karena otak baru pertama kali mengalami ledakan hormon dalam intensitas besar.

Sehingga, memori tersebut terekam dengan jelas dan sering kali sulit tergantikan oleh pengalaman lain.

Baca Juga: 6 Shio yang Sedang Dipanggil Semesta untuk Meraih Rezeki Besar: Tikus, Kerbau, Macan, Naga, Kuda, dan Babi

Mengapa Jatuh Cinta Pertama Sulit Dilupakan?

Ada beberapa alasan mengapa cinta pertama dianggap paling membekas. Pertama, otak memiliki mekanisme khusus dalam menyimpan memori emosional.

Ketika sebuah pengalaman menimbulkan emosi yang sangat kuat, hippocampus—bagian otak yang mengatur ingatan—akan merekamnya lebih dalam.

Menurut penjelasan @newronedu, memori cinta pertama masuk ke kategori “emotional memory”. Sama seperti kejadian penting lainnya, pengalaman ini bertahan lama dalam ingatan.

Karena itu, banyak orang masih bisa mengingat detail kecil, seperti tempat pertama bertemu atau kata-kata yang diucapkan, meskipun bertahun-tahun telah berlalu.

Kedua, rasa cinta pertama sering kali dialami pada masa remaja. Pada fase ini, otak sedang dalam tahap perkembangan yang pesat, terutama di bagian prefrontal cortex yang mengatur logika dan kontrol diri. Ketika emosi cinta hadir, otak remaja cenderung lebih impulsif, sehingga rasa yang muncul terasa lebih intens dan dramatis.

Dampak Psikologis Cinta Pertama

Jatuh cinta pertama tidak hanya soal rasa bahagia, tetapi juga bisa memberi dampak psikologis jangka panjang. Menurut dr. Ryu Hasan, cinta pertama membentuk “cetakan” bagi pengalaman emosional berikutnya.

Cara seseorang menanggapi hubungan, menghadapi penolakan, atau menjaga komitmen, bisa dipengaruhi oleh pengalaman cinta pertama.

Hal ini selaras dengan penelitian psikologi modern yang menunjukkan bahwa cinta pertama dapat memengaruhi self-esteem.

Jika pengalaman cinta pertama berjalan positif, seseorang cenderung lebih percaya diri dalam hubungan berikutnya. Namun, jika diwarnai trauma atau penolakan, bisa muncul ketakutan untuk membuka diri lagi.

Akun @newronedu juga menambahkan, cinta pertama mengaktifkan area otak yang sama dengan kecanduan.

Tidak heran, perasaan kehilangan setelah cinta pertama kandas sering digambarkan seperti “sakau” karena otak tiba-tiba kehilangan pasokan hormon bahagia.

Bagaimana Otak Merespons Penolakan pada Cinta Pertama?

Tidak semua cinta pertama berjalan manis. Penolakan dalam cinta pertama justru bisa meninggalkan luka mendalam. Hal ini dijelaskan @newronedu bahwa ketika penolakan terjadi, otak mengaktifkan area anterior cingulate cortex—bagian yang juga berperan saat seseorang merasakan sakit fisik.

Dengan kata lain, rasa sakit karena patah hati memang nyata, bukan sekadar ungkapan puitis. Otak memperlakukan penolakan emosional sama seriusnya dengan luka fisik, sehingga dampaknya bisa begitu terasa.

Cara Mengelola Emosi Saat Mengingat Cinta Pertama

Meski sulit dilupakan, cinta pertama tidak selalu harus membayangi kehidupan seseorang. Ada beberapa cara yang bisa membantu mengelola emosi:

  1. Menerima pengalaman apa adanya. Ingat bahwa cinta pertama adalah bagian alami dari perkembangan emosional.

  2. Menulis jurnal atau bercerita. Mengungkapkan perasaan membantu otak mengurai emosi yang menumpuk.

  3. Fokus pada pembelajaran. Lihat cinta pertama sebagai pengalaman berharga untuk memahami diri sendiri dan membangun hubungan lebih sehat di masa depan.

  4. Beraktivitas positif. Olahraga, hobi, dan interaksi sosial membantu otak kembali memproduksi hormon bahagia.

Jatuh cinta pertama bukan sekadar kisah romantis, tetapi peristiwa biologis yang melibatkan kerja kompleks otak manusia. Ledakan hormon, penyimpanan memori emosional, hingga dampak psikologis jangka panjang menjadikannya pengalaman yang sulit dilupakan.

Seperti disampaikan dr. Ryu Hasan, cinta bukan hanya urusan hati, melainkan juga sains. Dengan memahami rahasia otak saat jatuh cinta, kita bisa lebih bijak menghadapi pengalaman emosional ini tanpa larut berlebihan.

EDITOR: Hanny Suwindari