JawaPos.com — Banyak dari kalian yang mungkin merasa dimanipulasi dalam hubungan romantis kalian.
Penting untuk diingat bahwa taktik manipulasi tidak hanya terjadi dalam hubungan romantis, tetapi juga lazim ditemukan di lingkungan profesional dan bahkan keluarga terdekat.
Seorang individu yang menjadi korban manipulasi juga sangat mungkin untuk tidak menyadari bahwa dirinya adalah korban.
Dilansir dari PsychCentral pada bulan Mei tahun 2024, bahwa teknik ini dipergunakan untuk mengontrol korban dengan cara yang merusak. Tentunya hal ini dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu.
Mereka yang menjadi korban manipulasi akan merasa bingung dan mempertanyakan dirinya sendiri, perasaan bersalah hingga rasa takut yang berlebihan.
Jika Anda merasakan beberapa indikasi diatas, Anda bisa mengambil langkah dengan mengetahui beberapa teknik manipulasi berikut ini.
1. Love Bombing
Teknik manipulasi yang satu ini mungkin sudah sering kalian dengar dari teman-teman kalian. Terlebih lagi jika Anda merasakannya secara langsung.
Taktik ini sering muncul di awal hubungan romantis. Umumnya, orang yang melakukan pendekatan akan memberikan hadiah, pujian, dan perlakuan khusus yang terkesan berlebihan.
Tentunya bukan tanpa alasan. Pelaku melakukan ini untuk membuat hubungan emosional yang kuat dan mendapatkan kontrol atas perhatian Anda dengan cepat.
2. Guilt-tripping
“Kamu sekarang kalau ngopi gak pernah ngajak aku, cukup tau sih kalo udah dilupain” atau kalimat sejenisnya mungkin adalah hal yang pernah kalian dengar.
Baca Juga: Harga BNB Tembus Rp 14 Juta, Ini Sinyal yang Bisa Dorong ke Rp 16 Juta
Terkesan seperti bercanda awalnya tapi ini merupakan suatu bentuk dari teknik guilt-tripping.
Membuat seseorang merasa bersalah atas tindakan yang dilakukannya – meski tindakan itu tidak salah – atau bahkan melebih lebihkan suatu masalah adalah karakteristik dari teknik ini.
3. Paltering
Nah, teknik yang satu ini terdengar asing di telinga tapi adalah salah satu dari teknik yang sering dipakai oleh banyak orang.
Pernahkah Anda menutupi informasi tertentu saat berinteraksi dengan tujuan menghindari kebohongan atau impresi yang buruk? Jika demikian, teknik tersebut dikenal sebagai Paltering.
Sebagai contoh perhatikan ujaran berikut. “Engga kok ma, Aku ngerjain tugas tadi sama teman teman” padahal sesi mengerjakan tugas hanya berlangsung 5 menit.
Ujaran tersebut mungkin benar dan terlihat benar, tetapi menutupi fakta bahwa kegiatan tersebut tidak dilakukan sepenuhnya.
4. Gaslighting
Banyak yang salah kaprah terhadap teknik yang satu ini dan menganggap kritik atau amarah orang lain sebagai bentuk gaslighting.
Gaslighting sendiri adalah teknik manipulasi dengan tujuan mengecoh persepsi kebenaran seseorang dalam sebuah masalah.
Kata-kata seperti “ah ngaco kamu, kemarin kan kamu yang suruh” atau “perasaan ga gitu deh” meskipun pelaku tahu persis bahwa kejadiannya sesuai dengan yang dikatakan korban.
Hal ini dapat membuat korban mempertanyakan dirinya sendiri hingga mempercayai apa yang pelaku katakan.
5. Reverse Psychology
Teknik yang satu ini juga lumayan lumrah ditemukan pada interaksi sehari hari. Pernahkah Anda mendengar ujaran seperti ini?
“Yaudah kamu main saja sama temen-temenmu itu, gapapa kok aku sendirian” atau ujaran sejenisnya adalah salah satu penggunaan teknik reverse psychology.
Secara rinci, teknik ini berusaha mengambil alih kendali dengan mendorong seseorang melakukan suatu tindakan yang sebenarnya dimaksudkan agar ia justru memilih melakukan hal sebaliknya.
Reverse psychology sering dipakai dalam hubungan sosial, baik secara sadar maupun tidak. Misalnya dalam pertemanan, pasangan, bahkan pola asuh orang tua ke anak.
Walau kadang terlihat sepele, teknik ini bisa berdampak besar karena memainkan emosi dan keputusan seseorang.
Akhir Kata
Pada akhirnya, hubungan yang dipenuhi manipulasi jarang terlihat jelas dari awal. Korban sering kali baru menyadari setelah kelelahan emosional menumpuk, atau setelah harga diri terasa hilang sedikit demi sedikit.
Jika Anda merasa sering mempertanyakan diri sendiri, terus-menerus merasa bersalah, atau hidup seakan berjalan di atas kendali orang lain, mungkin saatnya berhenti sejenak dan mengevaluasi hubungan tersebut.