← Beranda

8 Kebiasaan Orang Tua yang Membuat Anak Dewasa Merasa Diam-diam Marah

Aunur RahmanSelasa, 12 Agustus 2025 | 06.35 WIB
orang tua dan anak dewasa yang duduk berjauhan, menggambarkan jarak emosional akibat kesalahpahaman./Freepik

JawaPos.com - Transisi hubungan dari orang tua dan anak kecil ke orang tua dan anak dewasa seringkali rumit.

Kedua belah pihak harus menyesuaikan diri dengan peran yang baru. Namun, tidak semua orang tua berhasil beradaptasi dengan baik.

Perilaku tertentu yang mereka lakukan seringkali menimbulkan rasa frustrasi. Melansir dari Geediting.com Senin (11/8), ada delapan hal yang sering membuat anak dewasa marah. Perasaan ini biasanya mereka simpan sendiri.

Berikut adalah delapan hal yang dilakukan orang tua dan membuat anak dewasa kesal:

  1. Memberikan Nasihat Tanpa Diminta

    Memberikan nasihat yang tidak diminta dapat diartikan sebagai kurangnya kepercayaan. Ini membuat anak dewasa merasa tidak mampu menangani masalahnya sendiri. Padahal, mereka hanya butuh didengarkan.

  2. Sering Membandingkan dengan Orang Lain

    Kebiasaan ini sering dilakukan orang tua tanpa sadar. Perbandingan ini dapat membuat anak dewasa merasa tidak cukup. Mereka merasa tidak dihargai atas pencapaiannya.

  3. Terus Mengingatkan Tanggung Jawab

    Anak dewasa menyadari tanggung jawab dan kewajibannya. Pengingat terus-menerus membuat mereka merasa diremehkan. Hal ini bisa menimbulkan rasa jengkel.

  4. Melanggar Batasan yang Ada

    Orang tua melanggar batasan dengan tidak menghormati ruang pribadi. Ini termasuk mengintervensi keputusan atau masalah mereka. Pelanggaran batasan dapat membuat anak merasa tercekik.

  5. Menolak Melihat sebagai Orang Dewasa

    Mereka ingin membuat pilihan sendiri, menjalani hidup sendiri, dan bahkan membuat kesalahan sendiri. Memperlakukan anak dewasa seperti anak kecil dapat merusak hubungan. Mereka ingin dihormati sebagai individu mandiri.

  6. Khawatir dan Terlalu Protektif

    Perasaan khawatir orang tua dapat membebani anak dewasa. Ini menunjukkan kurangnya kepercayaan pada kemampuan mereka. Sifat terlalu protektif dapat membuat anak merasa tidak bebas.

  7. Mencampuri Hubungan Asmara Mereka

    Mencampuri hubungan pribadi anak dianggap sebagai invasi privasi. Ini dapat menimbulkan ketegangan dengan pasangan mereka. Orang tua harusnya menjadi sistem pendukung, bukan pengatur.

  8. Mengabaikan Pencapaian Mereka

    Mengakui pencapaian anak dewasa, besar atau kecil, adalah hal penting. Hal ini membuat mereka merasa divalidasi dan diapresiasi. Mengabaikannya bisa menimbulkan rasa tidak dihargai.

Memahami kebiasaan-kebiasaan ini adalah kunci membangun hubungan yang lebih sehat. Komunikasi yang terbuka menjadi solusi untuk meminimalkan miskomunikasi. Jangan biarkan hal ini merusak hubungan.

Penting bagi orang tua untuk menghormati otonomi anak mereka. Ini akan membangun kepercayaan dan saling menghargai. Hubungan orang tua-anak yang baik adalah hubungan yang terus tumbuh.

EDITOR: Hanny Suwindari