← Beranda

Menurut Psikologi, Begini 5 Cara Orang Berkelas dalam Menghadapi Pertengkaran, Bisa Dicoba Mulai Sekarang!

Ajilan Fauza FathayanieJumat, 8 Agustus 2025 | 14.44 WIB
Ilustrasi cara orang berkelas dalam menghadapi pertengkaran (freepik)

 

JawaPos.com - Pertengkaran adalah bagian tak terhindarkan dari kehidupan, entah itu dalam hubungan pribadi, lingkungan kerja, maupun pertemanan.

Namun, cara seseorang menghadapi pertengkaran sering kali mencerminkan kualitas kepribadian dan tingkat kedewasaan emosionalnya.

Menariknya, psikologi menunjukkan bahwa orang yang benar-benar berkelas tidak menyelesaikan konflik dengan cara yang keras, meledak-ledak, atau penuh drama.

Mereka justru memilih pendekatan yang tenang, penuh kendali, dan tetap menghargai lawan bicara, meskipun suasana sedang memanas.

Dilansir dari laman Global English Editing pada Jumat (8/8), berikut merupakan 5 cara orang berkelas dalam menghadapi pertengkaran, menurut psikologi.

Baca Juga: 5 Shio Akan Jadi Pionir Kesuksesan pada 8 Agustus 2025: Momen Emas untuk Mengembangkan Skala Usaha Lebih Besar

1. Mereka mengatur emosi sebelum merespons

Salah satu ciri utama dari orang yang berkelas saat terlibat dalam sebuah perdebatan adalah kemampuannya dalam mengendalikan emosi sebelum memberikan respons.

Mereka tidak terburu-buru membalas dengan nada tinggi atau kata-kata yang menyakitkan.

Sebaliknya, mereka memilih untuk memberi jeda sejenak, meskipun hanya beberapa detik, agar diri mereka bisa kembali tenang.

Mereka memahami bahwa saat emosi sedang memuncak, pikiran biasanya tidak jernih dan kata-kata yang keluar sering kali bersifat menyerang.

Dengan mengambil waktu untuk menarik napas dalam-dalam, diam sejenak, atau sekadar menenangkan diri, mereka mampu mengatur gelombang emosi yang datang.

Kebiasaan ini sangat membantu dalam mencegah konflik semakin memanas dan menjaga suasana tetap kondusif.

Dengan cara ini, mereka akan tetap mampu menjaga kehormatan dirinya sekaligus menghormati lawan bicara.

2. Mereka mendengarkan secara aktif dan empatik

Setelah berhasil menenangkan diri, orang yang berkelas akan mengalihkan fokusnya untuk mendengarkan lawan bicara secara sungguh-sungguh.

Mereka tidak hanya mendengar sekilas atau menunggu giliran untuk membalas, tetapi benar-benar menyimak isi pembicaraan dengan penuh perhatian.

Mereka menunjukkan sikap terbuka, menjaga kontak mata, memberikan tanggapan kecil seperti “Saya mengerti” atau “Silakan lanjutkan,” dan terkadang mengulangi kembali poin penting yang disampaikan oleh lawan bicaranya untuk memastikan pemahaman yang tepat.

Tak hanya itu, mereka juga berusaha memahami emosi yang sedang dirasakan oleh lawan bicaranya.

Mereka tidak hanya fokus pada apa yang dikatakan, tetapi juga pada bagaimana perasaan orang tersebut.

Hal seperti ini menunjukkan bahwa mereka peduli dan menghargai perasaan orang lain.

Mendengarkan dengan cara seperti ini bukan hanya memperlancar komunikasi, tetapi juga menciptakan rasa saling percaya.

Baca Juga: 6 Shio Menuju Pintu Gerbang Kesuksesan Finansial Mulai 8 Agustus 2025: Pertahankan Integritas dan Value-mu!

3. Mereka menggunakan kalimat “saya” daripada menyalahkan

Dalam situasi yang penuh ketegangan, sangat mudah bagi seseorang untuk tergoda melontarkan tuduhan, seperti “Kamu selalu salah!” atau “Kamu tidak pernah peduli!”

Namun, orang yang berkelas tahu bahwa menyalahkan hanya akan memperburuk keadaan.

Oleh karena itu, mereka memilih menggunakan pernyataan yang dimulai dengan kata “saya” untuk mengungkapkan perasaan dan pendapatnya.

Kalimat “saya” ini biasanya terdiri dari tiga bagian, yakni menyatakan perasaan, menjelaskan situasi yang memicu perasaan tersebut, dan menyebutkan dampaknya.

Misalnya: “Saya merasa tidak dihargai ketika kamu mengubah keputusan tanpa diskusi, karena itu membuat pekerjaan saya jadi berantakan.”

Kalimat seperti ini membuat pembicaraan tetap pada pokok masalah, tidak menyerang pribadi, dan mendorong diskusi yang sehat.

Dengan tidak menyalahkan, mereka membantu lawan bicara untuk tetap terbuka dan tidak bersikap defensif, sehingga solusi bisa ditemukan bersama.

4. Mereka menjaga nada suara dan bahasa tubuh yang sopan

Dalam setiap percakapan, khususnya dalam perdebatan, nada suara dan bahasa tubuh memiliki peran yang sangat besar. Orang yang berkelas menyadari bahwa cara berbicara sama pentingnya dengan apa yang disampaikan.

Maka dari itu, mereka selalu menjaga nada suara tetap tenang, tidak meninggi, dan menggunakan kata-kata yang sopan. Ekspresi wajah mereka pun tetap netral, tanpa menunjukkan kemarahan atau sinisme.

Postur tubuh mereka juga terbuka, tidak menyilangkan tangan, tidak memalingkan wajah, dan tidak menunjukkan gestur yang meremehkan seperti memutar mata atau tersenyum sinis.

Semua ini menunjukkan bahwa mereka tetap menghargai lawan bicara meskipun sedang tidak sepakat.

Bahasa tubuh yang terbuka dan nada bicara yang tenang membantu menciptakan suasana yang aman dan nyaman bagi kedua belah pihak untuk saling berbicara dengan jujur dan terbuka.

Baca Juga: 8 Weton Kaya Raya di Usia Tua Menurut Primbon Jawa: Hidup Tinggal Foya-foya Setelah Menghabiskan Masa Muda untuk Berjuang dan Bekerja!

5. Mereka mencari titik temu dan solusi

Orang yang berkelas tidak berdebat hanya untuk menunjukkan siapa yang paling benar.

Mereka tidak terjebak dalam keinginan untuk menang sendiri, melainkan berusaha mencari titik temu yang bisa menjadi dasar solusi bersama.

Mereka bertanya kepada diri sendiri dan lawan bicara, “Apa yang bisa kita lakukan agar masalah ini tidak terulang?” atau “Apa langkah terbaik agar kita sama-sama diuntungkan?”

Pendekatan seperti ini menunjukkan bahwa mereka berpikir jangka panjang dan berorientasi pada penyelesaian, bukan pada pertikaian.

Dengan mencari tujuan bersama, misalnya menjaga hubungan baik, menyelesaikan pekerjaan tepat waktu, atau menjaga semangat tim, mereka membuka ruang untuk solusi kreatif yang saling menguntungkan.

Sikap ini juga mencerminkan niat baik dan kerja sama yang tulus, sehingga konflik bisa selesai dengan cara yang baik dan hubungan tetap terjaga.

Dalam setiap perdebatan, mereka tidak hanya ingin menyelesaikan masalah, tetapi juga menjaga keutuhan hubungan antarpersonal.

EDITOR: Novia Tri Astuti