JawaPos.com - Merasa malas adalah hal yang manusiawi. Bahkan, hampir semua orang pernah mengalaminya, baik yang sedang kuliah, bekerja kantoran, sampai yang punya usaha sendiri.
Tapi rasa malas sering kali datang bersama rasa bersalah, membuat kita makin terjebak dalam lingkaran tidak produktif. Kalau kamu merasa seperti ini, tenang saja.
Menurut psikologi, rasa malas bukanlah kelemahan moral, tapi justru sinyal dari tubuh dan pikiran yang perlu kita pahami lebih dalam.
Kenapa Kita Bisa Malas? Ini Sebab Psikologisnya
Dilansir dari PsychCentral, rasa malas sebenarnya adalah gejala, bukan akar masalah. Di balik rasa malas, ada berbagai “suara batin” yang memengaruhi pikiran dan perilaku kita.
Di antaranya adalah, kebingungan (tidak tahu harus mulai dari mana), ketakutan berlebihan (neurotic fear), fixed mindset (misal takut gagal dan terlihat buruk), lelah fisik atau emosional, apatis (tidak peduli apa pun), penyesalan (misal menyesal karena tidak melakukan sesuatu dari awal), melabeli diri sendiri sebagai pemalas, hingga karena rasa malu (misal malu dicap ambisius karena terlalu rajin).
Semua “suara” ini mewakili kondisi emosional yang valid dan bisa dialami siapa pun. Alih-alih melawan atau menolak rasa malas, para ahli menyarankan kita untuk menyadari dan menerima suara-suara tersebut dengan penuh welas asih.
Dalam Psychology Today, Dr. Marty Nemko, seorang psikolog karier, menjelaskan bahwa kemalasan juga bisa dipelajari dan diturunkan dari lingkungan keluarga.
Anak-anak yang tumbuh di keluarga dengan orang tua yang cenderung malas seringkali mengadopsi pola perilaku yang sama: enggan mengerjakan tugas, menunda pekerjaan, atau terlalu banyak menghabiskan waktu dengan aktivitas pasif seperti nonton TV dan bermain game.
Kebiasaan ini diperkuat oleh sistem pendidikan yang kurang menuntut, serta lingkungan sosial yang juga permisif.
Bahkan saat dewasa, orang-orang yang terbiasa dengan kemalasan cenderung memilih pekerjaan yang tidak menuntut tanggung jawab tinggi atau menghindari peran yang butuh inisiatif besar.
Berikut adalah beberapa cara jitu yang bisa kamu terapkan untuk mengatasi rasa malas, berdasarkan kedua sumber tadi:
1. Sadari dan Dengarkan “Suara Malas” Dalam Diri: Alih-alih melawan, dengarkan apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh rasa malas itu. Mungkin kamu sedang bingung, takut gagal, atau hanya butuh istirahat.
2. Ganti Pola Pikirmu: Kalau kamu sering berpikir “Aku memang pemalas,” ubah narasinya jadi, “Aku sedang merasa malas, tapi aku tetap punya pilihan untuk bertindak.”
3. Temukan Makna dalam Aktivitas: Sadarilah bahwa nilai hidup tidak hanya dari “sibuk” tapi dari kontribusi. Seperti yang disampaikan Dr. Nemko: "Hidup punya nilai ketika kita merasa memberi dampak." Saat kamu paham tujuanmu, motivasi pun akan mengikuti.
4. Mulai dari Hal Kecil dan Terukur: Ketika rasa malas datang, jangan paksa diri menyelesaikan semuanya sekaligus. Buat langkah kecil dan fokuslah pada satu tugas ringan. Contohnya, hanya lima menit merapikan meja kerja bisa jadi awal dari produktivitas.
5. Modelkan Perilaku Produktif di Rumah: Buat kamu yang sudah jadi orang tua, penting untuk menunjukkan contoh perilaku produktif ke anak-anak. Jangan hanya menyuruh, perlihatkan secara nyata bagaimana kamu bertindak dengan tanggung jawab.
6. Berlatih Welas Asih pada Diri Sendiri: Berdasarkan penelitian yang dikutip PsychCentral, orang yang berlatih self-compassion justru lebih bertanggung jawab dibanding mereka yang terus mengkritik diri. Jadi, maafkan dirimu saat merasa malas. Lalu, perlahan arahkan diri kembali ke jalur produktif.
Penutupnya, rasa malas bukan tanda kamu lemah. Ia adalah pesan bahwa ada hal dalam dirimu yang perlu dipahami, entah itu kelelahan, ketidakjelasan tujuan, atau rasa takut yang belum terungkap.
Dengan kesadaran dan pendekatan psikologis yang tepat, kamu bisa bangkit dari rasa malas tanpa harus mengorbankan kesehatan mental.
Seperti kata psikolog Dr. Kristin Neff, “Self-compassion bukan berarti memanjakan diri, tapi cara yang lebih sehat untuk berubah.” Jadi, saat kamu merasa malas, jangan buru-buru menyalahkan diri sendiri.
Dengarkan dulu, pahami sumbernya, lalu ambil satu langkah kecil. Dari situlah produktivitas dan kepercayaan diri akan tumbuh kembali.