← Beranda

Orang dengan Kecenderungan 'Avoidant' dalam Hubungan Cenderung Memiliki 5 Ciri-ciri Ini, Apa Saja?

Ajilan Fauza FathayanieRabu, 2 Juli 2025 | 02.55 WIB
Ilustrasi orang dengan kecenderungan

 

JawaPos.com - Dalam dunia psikologi hubungan, dikenal istilah avoidant attachment atau keterikatan menghindar, yakni sebuah pola hubungan di mana seseorang cenderung menarik diri secara emosional, menjaga jarak, dan sulit merasa nyaman dengan kedekatan yang terlalu intens.

Orang dengan kecenderungan avoidant ini biasanya tumbuh dengan pengalaman masa lalu yang membuat mereka percaya bahwa terlalu dekat dengan orang lain bisa menjadi sumber luka atau ketidaknyamanan.

Mereka tampak mandiri dan kuat, tetapi sebenarnya sedang melindungi diri sendiri dari risiko tersakiti.

Dalam konteks hubungan asmara, pola ini bisa muncul melalui berbagai sikap yang tanpa disadari justru menjauhkan mereka dari kedekatan yang tulus.

Dalam artikel ini, kita akan mengulas beberapa ciri-ciri utama yang biasa dimiliki oleh orang dengan kecenderungan avoidant dalam hubungan. Mari simak satu per satu, dan lihat apakah kamu pernah mengalaminya.

Dilansir dari laman Your Tango pada Selasa (1/7), berikut merupakan 5 ciri-ciri yang dimiliki oleh orang dengan kecenderungan 'avoidant' dalam hubungan.

1. Menutup Diri Secara Emosional

Salah satu ciri paling kuat dari seseorang yang memiliki kecenderungan avoidant adalah sikap mereka yang menolak untuk terbuka secara emosional.

Mereka cenderung tidak mudah menunjukkan perasaan mereka, apalagi berbagi hal-hal yang bersifat pribadi dan mendalam. Ini bukan karena mereka tidak peduli, melainkan karena mereka takut untuk terluka.

Mereka cenderung berpikir bahwa “Kalau aku tidak terlalu dekat, aku juga tidak akan terlalu sakit jika ditinggalkan.” Maka dari itu, mereka sengaja menciptakan jarak emosional, meskipun tampak hadir secara fisik dalam hubungan.

Akibatnya, orang yang sedang menjalin hubungan dengan mereka akan merasa seperti berbicara pada dinding, yakni ada sosoknya, tetapi tidak ada kehangatan atau kejelasan tentang apa yang mereka rasakan.

Inilah yang membuat pasangan mereka kesulitan untuk memahami atau membangun kedalaman hubungan yang sejati.

Keterhubungan emosional yang seharusnya menjadi dasar hubungan justru terhalang oleh benteng pertahanan yang mereka buat sendiri.

2. Sering Mengancam Akan Pergi Saat Bertengkar

Seseorang dengan kecenderungan avoidant biasanya sangat sensitif terhadap konflik, terutama konflik yang bersentuhan dengan perasaan rentan atau ketidaknyamanan emosional.

Ketika terjadi pertengkaran, alih-alih berusaha menyelesaikannya secara dewasa, mereka justru sering bereaksi dengan ancaman akan pergi.

Mereka bisa dengan mudah berkata “Aku sudah nggak tahan” atau “Mungkin kita harus selesai saja,” bahkan ketika masalah yang dihadapi sebenarnya bisa diselesaikan lewat komunikasi.

Ini adalah bentuk mekanisme perlindungan. Dengan mengancam akan pergi, mereka menciptakan jarak yang memberi mereka rasa ‘aman’ dari risiko luka emosional.

Namun, jika dilakukan terus-menerus, tindakan ini bisa sangat merusak kepercayaan dan kestabilan dalam hubungan.

Pasangan mereka akan merasa tidak pernah benar-benar aman, seolah-olah cinta itu bisa hilang kapan saja hanya karena sebuah konflik kecil.

3. Menggunakan Bahasa Pasif-Agresif dan Tidak Langsung

Komunikasi yang sehat membutuhkan keberanian untuk jujur, bahkan ketika apa yang harus diungkapkan terasa tidak nyaman.

Namun, orang dengan kecenderungan avoidant biasanya merasa sangat terancam ketika harus mengekspresikan perasaan mereka secara langsung.

Mereka takut terlihat lemah, takut ditolak, atau bahkan takut jika kejujuran mereka menimbulkan konflik baru.

Karena itulah mereka lebih memilih menyampaikan kemarahan atau kekecewaan lewat sindiran, diam-diam menyabotase suasana, atau berkata “aku baik-baik saja” padahal jelas-jelas mereka tidak sedang baik-baik saja.

Sikap seperti ini membuat pasangan mereka merasa bingung dan frustrasi. Tidak ada yang bisa diperbaiki jika tidak ada yang dibahas secara terbuka dan hubungan pun cenderung menjadi penuh teka-teki.

4. Merendahkan atau Menyepelekan Pasangan

Orang dengan kecenderungan avoidant sering kali merasa tidak nyaman berada dalam situasi yang terlalu dekat secara emosional.

Untuk menjaga jarak emosional itu, mereka terkadang tanpa sadar menggunakan cara yang menyakitkan, seperti merendahkan pasangan, menyalahkan secara sepihak, atau menganggap diri mereka lebih benar dalam setiap situasi.

Mereka merasa lebih aman ketika berada "di atas" secara emosional, karena itu membuat mereka tidak perlu terlalu rentan.

Ini bukan sekadar masalah ego, tetapi lebih pada upaya mereka untuk menjaga kendali agar tidak merasa "lemah" dalam hubungan. Namun sikap ini justru membuat pasangan merasa tidak dihargai dan terpinggirkan.

Padahal, dalam hubungan yang sehat, perbedaan seharusnya dibahas secara setara, bukan digunakan untuk menjatuhkan satu sama lain.

Seseorang yang terus-menerus merendahkan pasangannya bisa jadi sedang menyembunyikan rasa takutnya sendiri untuk terlalu dekat dan terlalu tergantung padanya.

5. Memberikan Perlakuan Diam (Silent Treatment) atau Memutus Komunikasi

Dalam banyak kasus, seseorang dengan kecenderungan avoidant lebih memilih diam seribu bahasa daripada terlibat dalam pembicaraan emosional yang intens.

Ketika ada konflik atau perasaan yang sulit mereka pahami, respons pertama mereka adalah menjauh, menghindar, dan berhenti bicara.

Mereka merasa tidak nyaman dengan kerentanan, sehingga memilih untuk ‘mematikan’ percakapan sepenuhnya. Ini dikenal sebagai silent treatment.

Bagi pasangan, perlakuan ini bisa terasa sangat menyakitkan. Mereka tidak tahu harus berbuat apa, tidak tahu apa yang salah, dan merasa sendirian meski sedang bersama. Ini adalah cara orang avoidant menjaga kendali.

Dengan tidak bicara, mereka merasa bisa menetapkan batasan. Tetapi batasan yang tidak sehat justru menciptakan dinding dalam hubungan, yang membuat komunikasi dan kedekatan jadi mustahil untuk terbangun.

EDITOR: Novia Tri Astuti