← Beranda

8 Kebiasaan Sehari-hari yang Membuat Orang Kelas Menengah Jatuh Miskin

M Shofyan Dwi KurniawanRabu, 25 Juni 2025 | 19.43 WIB
8 Kebiasaan Sehari-hari yang Membuat Orang Kelas Menengah Jatuh Miskin./Pexels.

JawaPos.com - Bukan keputusan besar atau gaya hidup mewah yang paling sering menjebak orang kelas menengah dalam masalah keuangan. 

Justru, kebiasaan kecil sehari-hari yang sering kali dianggap wajar dan tidak dipertanyakan, secara diam-diam menggerus kestabilan finansial dari waktu ke waktu.

Ini bukan soal penghakiman, melainkan pola yang sudah terlihat berulang kali dalam laporan keuangan, kisah pribadi, dan bahkan dalam kehidupan sehari-hari banyak orang. 

Jika punya penghasilan tetap namun masih merasa sulit untuk maju, mungkin beberapa kebiasaan ini patut diwaspadai, seperti dilansir dari VegOut.

Baca Juga: 7 Pilihan Jajanan Manis Khas Bondowoso, Dari Tape hingga Rujak Gobet!

1. Membingungkan “mampu beli” dengan “perlu beli”

Hanya karena sesuatu bisa dibeli, bukan berarti itu layak dibeli. Banyak orang menggunakan logika, “Kalau masih masuk anggaran, berarti tidak masalah.” 

Namun kalau anggaran itu berisi makanan cepat saji, langganan tak terpakai, dan belanja impulsif mingguan, hasil akhirnya tetap sama: uang mengalir keluar secara halus tapi terus-menerus.

Keterjangkauan bukan jaminan nilai. Dan jika tidak disadari, uang bisa habis untuk hal-hal yang sebenarnya tidak memberi manfaat berarti, baik secara finansial maupun emosional.

2. Membiayai hal-hal yang nilainya menyusut

Utang bukan musuh, jika digunakan dengan cerdas. Tapi masalahnya, banyak orang justru berutang untuk pembelian impulsif: mobil yang terlalu mahal, liburan di luar kemampuan, atau barang-barang konsumtif dengan sistem cicilan.

Istilah seperti “beli sekarang, bayar nanti” jadi jebakan yang terlihat modern, tapi secara realita hanya memindahkan beban ke masa depan.

Baca Juga: Eksel Runtukahu, Pembelian Pertama Persija Jakarta: Semoga Bisa Juara Bersama

Ada perbedaan besar antara investasi jangka panjang dan pemborosan yang dicicil.

3. Terjebak dalam gaya hidup yang terus ditingkatkan

Setiap kali penghasilan naik, muncul dorongan untuk “upgrade” segalanya dari rumah, kendaraan, sampai pakaian. Dianggap sebagai simbol keberhasilan. Padahal, sering kali yang terjadi justru meningkatnya beban hidup secara otomatis.

Banyak orang merasa tak punya pilihan selain mengikuti standar ini, padahal sebenarnya bisa memilih untuk hidup di bawah kemampuan demi kebebasan finansial.

Tinggal di lingkungan sederhana bukan berarti gagal, justru seringkali itulah ruang tumbuh yang sesungguhnya.

4. Menganggap rejeki nomplok sebagai izin untuk berfoya-foya

Bonus, THR, atau pengembalian pajak sering kali langsung dikaitkan dengan "hadiah untuk diri sendiri".

Masalahnya, ketika uang datang tanpa direncanakan, orang cenderung membelanjakannya tanpa arah. Akibatnya, momen rejeki berubah jadi kesempatan yang terbuang.

Menunda keputusan belanja selama 48 jam saja bisa membuat perbedaan besar. Uang ekstra seharusnya mendukung keamanan, bukan memperpanjang siklus konsumtif.

5. Mengabaikan kebocoran kecil

Bukan pembelian besar, tapi ratusan pembelian kecil yang sering kali tak terasa.

Kopi mahal. Aplikasi langganan yang dilupakan. Barang random dari e-commerce. Semua itu bisa jadi lubang-lubang kecil yang perlahan-lahan menguras isi dompet.

Mulailah mencatat pengeluaran impulsif, bahkan yang nominalnya di bawah Rp50.000. Bukan untuk merasa bersalah, tapi untuk membangun kesadaran—apakah uang benar-benar dipakai dengan sengaja, atau hanya mengikuti kebiasaan?

6. Mengira penghasilan lebih tinggi adalah solusi utama

Banyak yang berpikir, “Kalau gajiku naik, masalah selesai.” Padahal, jika gaya hidup ikut naik seiring penghasilan, maka kondisi finansial akan tetap stagnan.

Fenomena ini disebut inflasi gaya hidup. Penghasilan bertambah, tapi tabungan tetap kosong.

Tanpa kesadaran dan disiplin, penghasilan tambahan hanya akan menciptakan versi lebih mahal dari masalah yang sama.

7. Menghindari obrolan soal uang karena merasa tidak nyaman

Uang adalah topik sensitif. Banyak orang lebih memilih diam daripada membicarakannya secara jujur, baik dengan pasangan, keluarga, maupun diri sendiri. Namun diam bisa menjadi mahal.

Tidak bertanya soal kenaikan gaji, tidak tahu berapa bunga kartu kredit, atau tidak tahu ke mana uang pergi setiap bulan. Semua itu adalah bentuk penghindaran yang berisiko.

Membicarakan keuangan bukan tanda kelemahan. Justru, itu adalah langkah pertama untuk mengambil kendali.

8. Tidak memiliki rencana untuk hal-hal “membosankan”

Dana pensiun, tabungan darurat, pelunasan utang, semua ini terdengar membosankan karena tidak memberi sensasi instan. Tapi justru inilah fondasi dari ketenangan finansial.

Tanpa perencanaan jangka panjang, banyak orang terjebak dalam siklus bertahan hidup dari gaji ke gaji. Kuncinya adalah membuat sistem otomatis: menabung atau berinvestasi secara rutin, bahkan saat tidak sedang termotivasi. Karena motivasi bisa naik turun, tapi sistem bisa diandalkan.

Kesimpulan

Orang kelas menengah tidak bangkrut karena satu keputusan besar. Tapi karena kebiasaan-kebiasaan kecil yang diabaikan terlalu lama. Mulailah dari satu perubahan sederhana dan biarkan kesadaran finansial tumbuh dari sana.

EDITOR: Hanny Suwindari