JawaPos.com - Di era serba digital seperti sekarang, banyak orang berlomba-lomba memanfaatkan teknologi video call untuk berbagai keperluan, mulai dari rapat kerja, kuliah daring, hingga sekadar bersapa dengan teman lama.
Namun, di tengah gempuran tren visual ini, masih ada sekelompok individu yang justru merasa lebih nyaman berkomunikasi lewat telepon biasa tanpa kamera.
Sekilas, hal ini mungkin dianggap kuno atau bahkan pribadi yang lebih tertutup serta menghindar dari perkembangan zaman.
Padahal, menurut para ahli psikologi, pilihan untuk menelepon alih-alih melakukan video call justru mencerminkan sejumlah kepribadian unik dan kekuatan batin yang tidak dimiliki semua orang.
Dilansir dari laman Global English Editing pada Rabu (4/6), berikut merupakan 7 kepribadian unik yang dimiliki oleh orang yang lebih nyaman teleponan daripada video call, menurut psikologi.
1. Menghargai Ruang Pribadi dan Tidak Ingin Terlalu Terbuka
Video call sering kali membawa suasana pribadi ke ranah publik, seperti memperlihatkan isi rumah, gaya berpakaian, atau ekspresi wajah yang tidak selalu ingin ditampilkan.
Sebagian orang merasa bahwa hal itu melanggar batas kenyamanan pribadi. Karena itu, memilih telepon menjadi bentuk perlindungan terhadap privasi.
Dengan menelepon, percakapan bisa tetap berlangsung hangat tanpa perlu membuka ruang pribadi secara visual. Ini adalah bentuk sikap bijak dalam mengatur bagaimana dan kapan harus membuka diri.
Dalam psikologi, tindakan seperti ini sering kali dikaitkan dengan keseimbangan hidup yang sehat dan rasa percaya diri yang kuat.
2. Lebih Peka terhadap Kelelahan dan Menjaga Diri dengan Bijak
Melakukan video call dalam waktu lama tidak hanya melelahkan secara mental, tetapi juga secara fisik.
Harus menatap layar terus-menerus, melihat wajah sendiri, menjaga posisi duduk, hingga memperhatikan pencahayaan bisa membuat tubuh dan pikiran cepat letih.
Sementara itu, menelepon dapat memberikan kebebasan untuk bergerak, memejamkan mata, atau sekadar mengambil napas lega.
Pilihan ini mencerminkan kemampuan untuk mengenali tanda-tanda kelelahan sejak dini, serta keinginan untuk menjaga diri dari stres berlebihan.
Ini adalah bentuk kepedulian terhadap kesehatan diri sendiri yang sering kali tidak disadari banyak orang.
3. Lebih Suka Komunikasi yang Tidak Membebani Pikiran
Berbicara lewat video call ternyata membutuhkan usaha yang lebih besar. Tatapan mata yang terus-menerus ke arah layar, perhatian terhadap ekspresi wajah sendiri, pencahayaan ruangan, dan posisi tubuh bisa menambah beban tersendiri.
Sebaliknya, telepon memungkinkan pikiran lebih fokus pada isi pembicaraan tanpa terganggu oleh hal-hal visual. Dengan begitu, ada ruang berpikir yang lebih luas untuk mencerna, merespons, bahkan mencari solusi.
Pilihan untuk menelepon menunjukkan adanya kesadaran untuk menjaga kejernihan pikiran dan efisiensi energi dalam berkomunikasi.
4. Lebih Nyaman Menjalin Kedekatan Lewat Suara
Sebagian orang merasa lebih terhubung secara emosional saat berbicara lewat telepon dibandingkan video call. Suara manusia menyimpan banyak kehangatan dan emosi yang tidak bisa ditampilkan oleh teks atau gambar di layar.
Setiap perubahan intonasi, ritme bicara, hingga napas yang terdengar dapat memberikan rasa kehadiran yang nyata. Itulah mengapa menelepon terasa lebih menyentuh, karena bukan hanya isi kata yang diterima, tetapi juga perasaan yang tersirat di dalamnya.
Dalam psikologi, hal ini disebut vocal immediacy, yaitu kedekatan emosional yang tercipta hanya melalui suara. Komunikasi seperti ini sering kali menjadi jalan tercepat untuk membangun hubungan yang lebih dalam dan hangat.
5. Mampu Mendengarkan dengan Perhatian Penuh
Orang yang lebih menyukai telepon daripada video call biasanya memiliki kemampuan untuk mendengarkan yang sangat baik. Mereka bisa menangkap pesan emosional dari nada suara, jeda bicara, atau bahkan dari keheningan yang singkat.
Kemampuan ini tidak hanya membuat percakapan jadi lebih bermakna, tetapi juga membantu menghindari kesalahpahaman. Sering kali, mereka bisa membaca suasana hati lawan bicara hanya dari perubahan kecil dalam suara.
Kepekaan seperti ini sangat berharga dalam menjalin hubungan sosial yang saling memahami dan penuh empati.
6. Lebih Mudah Menangkap Perasaan Orang Lain Lewat Suara
Orang yang mendengarkan percakapan lewat telepon sering kali bisa lebih jeli dalam mengenali emosi.
Ketika tidak ada gambar yang mengalihkan perhatian, fokus sepenuhnya tertuju pada suara. Dari sana, berbagai perasaan seperti sedih, gugup, marah, atau gembira dapat terbaca lebih akurat.
Menurut penelitian, mereka yang hanya mendengarkan suara justru lebih tepat dalam menebak perasaan lawan bicaranya dibanding mereka yang menonton sekaligus mendengar.
Kemampuan ini sangat membantu dalam menyelesaikan konflik, menjaga hubungan tetap harmonis, dan menjadi pendengar yang bijak dalam sebuah tim atau lingkungan sosial.
7. Lebih Fokus pada Tujuan daripada Sekadar Ikut Tren
Tidak semua orang tertarik menggunakan teknologi terbaru hanya karena sedang populer. Orang yang lebih memilih telepon daripada video call biasanya lebih realistis dalam memilih cara berkomunikasi.
Mereka tidak ragu melewatkan pertemuan video yang dirasa tidak perlu, dan lebih memilih metode yang sederhana namun efektif, seperti catatan suara atau dokumen kolaboratif.
Pilihan ini mencerminkan kemampuan beradaptasi dengan situasi tanpa kehilangan arah. Dalam psikologi, hal ini disebut sebagai media multiplexity adaptedness, yakni kemampuan untuk memilih alat komunikasi berdasarkan kebutuhan, bukan berdasarkan kebaruan.
Sikap seperti ini sering kali berhubungan dengan ketenangan batin, kemampuan menyelesaikan masalah secara kreatif, serta hubungan yang lebih sehat dengan teknologi.