← Beranda

Psikologi Mengungkapkan, Ini 8 Alasan Mengapa Seseorang Menjauh Walau Masih Mencintaimu

Vindi Rayinda AyudyaSelasa, 13 Mei 2025 | 03.30 WIB
Ilustrasi pasangan kekasih. (Freepik)

 

JawaPos.Com - Tidak semua yang menjauh darimu telah berhenti mencintai. Ada kalanya cinta tetap tinggal dalam hati, namun langkah kaki memilih arah berlawanan. 

Ini adalah perilaku paradoks yang sering kali membingungkan, dan sering kali menimbulkan tanya mengapa seseorang yang mencintai kita justru menjauh? 

Mengapa perasaan hangat di masa lalu berubah menjadi dingin tanpa penjelasan?  Jawabannya tidak sesederhana "rasa itu hilang".

Dalam dunia psikologi, cinta adalah emosi yang kompleks, dan cara seseorang mengekspresikannya sangat dipengaruhi oleh pengalaman hidup, luka batin, serta kondisi mental yang kadang tak terucap. 

Dilansir dari Geediting, inilah delapan alasan psikologis mengapa seseorang bisa tetap mencintai, namun memilih menjauh, bukan karena benci, tapi karena berbagai bentuk ketakutan dan luka yang belum pulih.

1. Takut Terlalu Rentan dan Terbuka

Banyak orang mengira cinta adalah tentang kedekatan dan keintiman, padahal bagi sebagian orang, justru kedekatan itulah yang menakutkan. 

Ketika seseorang mencintai, ia membuka hatinya, menunjukkan sisi terdalam dari dirinya. 

Namun, bagi mereka yang pernah terluka atau merasa lemah saat mencintai, hal ini bisa memicu rasa takut akan kerentanan. 

Mereka khawatir jika terlalu dekat, mereka akan kehilangan kontrol atas emosi atau disakiti kembali. 

Maka, menjauh menjadi mekanisme pertahanan untuk menjaga diri tetap “aman”, walau harus mengorbankan hubungan yang indah.

 

2. Takut Akan Komitmen dan Segala Tanggung Jawabnya

Meskipun cinta ada, tak semua orang siap dengan komitmen. Komitmen tidak hanya tentang janji setia, tapi juga tentang kesiapan mental dan emosional untuk berbagi hidup bersama. 

Bagi sebagian orang, ide komitmen terasa mengikat dan menakutkan. 

Mungkin karena masa lalu yang penuh tekanan atau contoh hubungan orang tua yang toksik. 

Rasa cinta mungkin masih kuat, tapi ketakutan akan “terjebak” membuat mereka perlahan mundur sebelum semuanya terlalu dalam.

3. Cemas Menghadapi Perubahan yang Tidak Terelakkan

Setiap hubungan pasti membawa perubahan: rutinitas, prioritas, bahkan gaya hidup. 

Dan tidak semua orang siap untuk itu. Ada yang merasa kehilangan identitas saat menjalin hubungan, atau takut kehilangan kebebasan pribadi. 

Psikologi menyebut ini sebagai resistance to change. Mereka mencintaimu, tapi tak sanggup menghadapi versi baru dari hidup mereka yang melibatkan kamu di dalamnya. 

Akhirnya, mereka memilih menjauh sebelum harus menghadapi perubahan yang mereka tak siap terima.

4. Merasa Tidak Pantas Karena Harga Diri yang Rendah

Saat seseorang merasa tidak cukup baik, tidak layak dicintai, atau terus-menerus meragukan nilainya sendiri, ia akan sulit menerima cinta dari orang lain. 

Bukan karena cinta itu tidak nyata, tapi karena ia merasa tidak pantas menerimanya. 

Dalam psikologi, kondisi ini sering terjadi pada mereka yang memiliki low self-esteem

Mereka mencintaimu, tapi merasa kamu pantas mendapatkan yang lebih baik. 

Maka, menjauh terasa seperti “pengorbanan mulia” padahal itu adalah cerminan luka harga diri yang dalam.

5. Membawa Luka Lama yang Belum Sembuh

Cinta tidak selalu tumbuh dari hati yang utuh. Terkadang, ia tumbuh dari hati yang masih dipenuhi serpihan masa lalu, pengkhianatan, penolakan, atau hubungan traumatis. 

Jika luka itu belum disembuhkan, hubungan baru bisa memunculkan kembali rasa sakit lama. 

Bahkan ketika kamu tidak bersalah, keberadaanmu bisa memicu rasa takut yang sudah ada sebelumnya. 

Maka, mereka mundur bukan karena kamu, tapi karena mereka belum berdamai dengan masa lalu mereka.

6. Takut Mengulangi Kesalahan Hubungan Sebelumnya

Bagi mereka yang pernah mengalami hubungan gagal, terutama yang menyakitkan, langkah ke depan seringkali terasa seperti medan ranjau. 

Meski cinta hadir kembali, bayangan kesalahan dan kegagalan masa lalu terus menghantui. 

Mereka khawatir akan merusak segalanya lagi, menyakiti orang yang mereka cintai, atau mengalami luka yang sama. 

Maka, menjauh terasa lebih “aman” daripada mencoba dan gagal lagi. 

Ini adalah bentuk emotional avoidance yang sayangnya bisa membuat mereka kehilangan sesuatu yang berharga.

7. Ketakutan Akan Kehilangan Kendali dalam Hidup

Cinta sering membawa kita pada situasi yang tak terduga, emosi yang tidak bisa kita kendalikan, dan keputusan yang sulit. 

Bagi sebagian orang, perasaan seperti itu menimbulkan kecemasan besar. 

Mereka lebih nyaman hidup dalam struktur dan kontrol, dan ketika cinta mulai mengambil alih arah hidup mereka, rasa takut pun muncul. 

Menjauh menjadi cara untuk “mengambil kembali kendali”, walau di dalam hati, mereka masih mencintai dengan tulus.

8. Cemas Menghadapi Hal-Hal yang Belum Pasti

Hubungan masa depan, masa depan bersama, dan segala kemungkinan yang datang bersamanya seringkali tidak pasti. Ketidakpastian ini, bagi beberapa orang, lebih menakutkan daripada kesendirian. 

Mereka ingin segalanya jelas, aman, dan bisa diprediksi. Sedangkan cinta sering datang dengan kebalikannya. Maka, mereka memilih mundur, bahkan ketika cinta masih tumbuh. 

Dalam psikologi, ini dikenal sebagai fear of the unknown, ketakutan yang membuat mereka memilih diam atau pergi daripada menjelajah hal-hal yang belum mereka pahami.

 

***

EDITOR: Novia Tri Astuti