← Beranda

Orang yang Tidak Dewasa Secara Emosional Meski Sudah Bertambah Usia Biasanya Menunjukkan 7 Perilaku Ini

Faidyah Nur AininaSabtu, 10 Mei 2025 | 21.42 WIB
Ilustrasi orang yang sulit untuk berkompromi (Freepik)

JawaPos.com – Seiring bertambahnya usia, seharusnya tingkat kedewasaan emosional dalam diri manusia akan semakin matang. Namun terkadang tingkat kematangan emosional tidak sejalan dengan bertambahnya usia seseorang, hal ini sering kali tidak disadari.

Mungkin kita pernah berpikir bahwa kita telah tumbuh dewasa ketika telah mencapai tujuan atau menyelesaikan hal yang biasa dilakukan oleh orang dewasa.

Seperti halnya, menyelesaikan studi, mendapatkan pekerjaan yang diinginkan, atau akan memulai kehidupan pernikahan.

Namun kedewasaan atau kematangan emosional adalah hal yang berbeda dengan pencapaian tertentu yang sudah diraih. Banyak orang dewasa yang masih kekanakan secara emosional meskipun dari segi usia mereka sudah sangat matang.

Dilansir dari parent from heart, kedewasaan emosional bukan tentang meninggalkan kesenangan dan keajaiban yang ada di masa kanak-kanak. Melainkan tentang bagaimana cara mengelola emosi dan merespon orang lain dengan cara yang sehat dan dewasa.

Namun, beberapa perilaku yang ada di masa kanak-kanak atau masa muda masih terjebak di dalam diri tanpa menyadarinya. Perilaku-perilaku ini yang akan menghambat hubungan kita dengan diri sendiri, diri sendiri dengan orang lain, bahkan memengaruhi rutinitas yang ada.

Berikut 7 perilaku orang yang tidak dewasa secara emosional meski sudah bertambah usia.

1. Menyalahkan orang lain

Orang-orang yang punya kecenderungan menyalahkan orang lain adalah salah satu tanda tidak dewasa secara emosional. Mengakui ketika berbuat salah adalah bagian dari menjadi dewasa.

Namun, orang yang tidak dewasa secara emosional akan mengambil langkah untuk menyalahkan orang lain ketika terjadi kesalahan. Menurut mereka, menghadapi konsekuensi itu terlalu berat untuk dilakukan.

Untuk menjadi dewasa, kita harus memahami bahwa kita pasti tidak luput dari kesalahan, tidak ada kesempurnaan dalam diri manusia. Jika kita tidak mau mengakui kesalahan yang telah diperbuat, maka kita tidak akan pernah bisa tumbuh.

Tanpa pertumbuhan, kita akan terus terjebak dalam emosi masa kanak-kanak dan tidak menyadari dampak perilaku kita terhadap orang lain.

2. Kesulitan dengan empati

Empati merupakan hal utama dan terpenting untuk menuju kedewasaan emosional.

Memposisikan diri di posisi orang lain, memahami perasaan mereka, dan menanggapinya dengan penuh perhatian, itu akan dilakukan oleh orang yang sudah dewasa secara emosional.

Orang-orang yang tidak dewasa secara emosional akan kesulitan melakukan hal tersebut. Ada orang yang sangat asyik diajak bergaul atau bermain, meeka memiliki energi dan rasa antusias yang tinggi, tetapi mereka kesulitan ketika memahami perasaan orang lain.

Kurangnya empati akan membuat hubungan menjadi penuh kelakar dan akan kesulitan membangun hubungan dengan orang lain.

3. Mengalami kesulitan dalam mengelola emosi

Regulasi emosi pada hakikatnya adalah kemampuan untuk mengelola dan menanggapi pengalaman emosional dengan cara yang dapat diterima. Ini merupakan aspek penting dari kedewasaan emosional.

Namun, mereka yang masih kekanak-kanakan secara emosional akan merasa kesulitan dalam mengendalikan perasaan dan emosinya.

Orang-orang yang tidak bisa mengelola emosinya dengan baik, biasanya akan menganggap sebuah kegagalan adalah bencana dan sebuah keberhasilan adalah kemenangan. Ketika merasakan sesuatu akan meledak-ledak, tidak ada ketenangan.

Hidup memang penuh dengan pasang dan surut, tetapi menghadapinya dengan tenang tapi tegas adalah bagian dari pertumbuhan emosional.

4. Terus-menerus membutuhkan validasi

Seiring bertumbuhnya seseorang menjadi dewasa, mereka akan perlahan belajar untuk menemukan validasi dari dalam. Berusaha untuk tidak terpengaruh akan komentar buruk atau persetujuan orang lain.

Mereka membutuhkan pujian, sanjungan, kepastian, dan validasi dari eksternal untuk menenangkan dirinya sendiri.

Menikmati tepukan di punggung dan pujian dari orang lain adalah hal yang menyenangkan. Namun ketika segala keputusan yang kita ambil dalam hidup bergantung pada validasi orang lain, itu berarti membiarkan mereka untuk menentukan kehidupan kita.

Jika ada orang yang terus-menerus mencari pujian dan validasi dari orang lain, barangkali mereka masih terjebak dalam keadaan yang menjadikan mereka belum dewasa secara emosional.

5. Menghindari pembicaraan yang sulit

Topik yang sulit pasti ada dalam percakapan, ini sudah termasuk bagian dari kehidupan. Seperti mengatasi masalah di tempat kerja, mendiskusikan topik sensitif dengan teman, atau berbicara dari hati ke hati dengan anggota keluarga.

Pembicaraan atau percakapan tersebut akan menyelesaikan masalah yang ada dan dapat menjaga hubungan yang sehat.

Namun bagi mereka yang tidak dewasa secara emosional, pembicaraan tersebut akan menjadi hal yang menakutkan. Maka mereka akan sering menghindar dan mengabaikan agar tidak terlibat dalam pembicaraan sulit. Kemudian berharap tidak masalah tersebut akan hilang dengan sendirinya.

Padahal tidak ada masalah yang hilang jika kita juga tidak menyelesaikan masalah tersebut. Sebaliknya, jika masalah akan terus diabaikan, justru akan semakin memburuk bahkan menumpuk dengan masalah yang baru.

Memberanikan diri untuk melangkah maju dan membiasakan diri untuk mengatasi masalah secara langsung itulah tanda kedewasaan emosional.

6. Kesulitan Berkompromi

Banyak dari kita pasti memahami bahwa hidup itu penuh dengan kompromi. Menerima sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan adalah salah satu proses belajar dari hidup.

Namun, bagi orang yang masih belum dewasa secara emosional, kompromi bisa jadi hal yang sulit diterima.

Mereka menginginkan segala sesuatu terus berpihak pada mereka dan segala apa yang diinginkannya terpenuhi. Perilaku ini bukan hanya tentang keras kepala, tetapi juga kegagalan memahami cara kerja hidup yang bukan hanya tentang hitam dan putih. Karena terkadang perlu bertemu di tengah-tengah, meskipun abu-abu.

7. Bertindak Impulsif

Bertindak terlebih dahulu daripada berpikir seringkali dikaitkan dengan masa kanak-kanak. Itu adalah bagian dari proses pembelajaran mereka.

Namun, seiring bertambahnya usia dan kedewasaan emosional. Mereka akan perlahan belajar untuk mengontrol dorongan bertindak impulsif.

Belajar tentang pentingnya berpikir terlebih dahulu sebelum bertindak sebagai bentuk pertimbangan konsekuensi tindakan yang telah dilakukan.

Orang-orang yang masih belum dewasa secara emosional, akan tetap melakukan tindakan impulsif. Mereka akan tetap membuat keputusan sesuai dengan apa yang mereka inginkan tanpa mempertimbangkan dampak yang akan terjadi di kemudian hari.

Ini adalah tanda bahwa seseorang masih belum mampu mengembangkan kemampuan untuk memikirkan tindakannya dan membuat keputusan yang bijaksana.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho