← Beranda
7 Kepribadian Orang yang Membiarkan Ratusan Email Belum Terbaca di Kotak Masuknya, Menurut Psikologi
Vindi Rayinda AyudyaSabtu, 26 April 2025 | 04.05 WIB
Ilustrasi orang yang hidup damai di tengah tumpukan pesan belum terbaca. (Freepik)

 

JawaPos.Com - Setiap kali kamu membuka aplikasi email, angka merah kecil di sudut ikon menunjukkan jumlah pesan belum terbaca. 

Angka itu bukan dua digit, tapi sudah mencapai ratusan, bahkan mungkin ribuan. 

Aneh rasanya, bukan? Sementara sebagian orang merasa gelisah hanya karena melihat notifikasi bertumpuk, kamu bisa hidup berdampingan dengan “500+ unread emails” tanpa merasa terintimidasi sedikit pun. 

Mungkin kamu sudah terbiasa, atau mungkin kamu tidak terlalu memusingkannya. 

Tapi tahukah kamu, dari sudut pandang psikologi, kebiasaan ini bisa mengungkap banyak hal tentang cara kerja otak, gaya hidup, hingga kepribadian seseorang? 

Tidak selalu buruk, tidak juga sepenuhnya positif, tapi pasti menarik untuk ditelusuri. 

Dilansir dari Geediting, inilah tujuh kepribadian atau ciri khas dari orang-orang yang hidup damai di tengah tumpukan pesan belum terbaca.

1. Cenderung Menunda-Nunda Pekerjaan

Salah satu penyebab paling umum dari menumpuknya email yang belum dibaca adalah kebiasaan menunda, dalam psikologi dikenal sebagai procrastination. 

Ini adalah kecenderungan untuk menghindari tugas-tugas yang dianggap membosankan, menyita waktu, atau menimbulkan stres, meskipun tahu konsekuensinya bisa negatif.

Membaca dan merespons email, terutama yang panjang atau penuh tuntutan, sering kali dianggap sebagai tugas kecil yang melelahkan. 

Maka, otak lebih memilih mencari aktivitas lain yang lebih menyenangkan atau menenangkan. 

Anehnya, penundaan ini sering disertai dengan rasa bersalah atau gelisah, tapi tetap dilakukan berulang. 

Ini karena secara psikologis, otak ingin menghindari ketidaknyamanan jangka pendek, meski harus menanggung kerugian jangka panjang. 

Prokrastinasi ini sering kali berakar dari perfeksionisme, rasa takut gagal, atau kecemasan sosial yang tidak disadari.

2. Punya Gaya Berantakan yang Kreatif

Banyak orang berpikir bahwa ketertiban adalah tanda profesionalisme, tapi bagi sebagian lainnya, kekacauan adalah bagian dari proses kreatif. 

Dalam dunia psikologi, ini dikenal dengan istilah creative disorder. Orang-orang dengan gaya ini mungkin tampak berantakan dari luar.

Meja kerja yang penuh, file berserakan, dan inbox yang tak pernah kosong. Tapi di balik itu semua, mereka bisa sangat produktif dan inovatif.

Email yang menumpuk bukan karena tidak mampu mengelola, melainkan karena mereka lebih memilih menghabiskan waktu dan energi untuk hal-hal yang lebih penting menurut mereka seperti menciptakan ide, menyelesaikan proyek, atau mengekspresikan diri dalam bentuk yang unik. 

Banyak seniman, penulis, dan entrepreneur kreatif yang justru tumbuh subur dalam kondisi yang bagi orang lain terlihat tidak terorganisir.

3. Memiliki Daya Tahan Stres yang Tinggi

Bagi sebagian orang, notifikasi email yang masuk terus-menerus bisa memicu stres atau bahkan kepanikan. 

Tapi ada pula yang tetap tenang, bahkan ketika inbox sudah seperti hutan belantara digital. 

Orang-orang seperti ini biasanya memiliki high stress tolerance, kemampuan untuk tetap tenang, fokus, dan produktif meski berada di bawah tekanan atau beban informasi yang berat.

Mereka tahu bahwa tidak semua email harus langsung dibaca, apalagi dibalas. 

Mereka bisa dengan cepat memilah mana yang penting dan mana yang bisa ditunda. 

Mereka jarang terburu-buru dan cenderung tidak mudah terbawa arus kecemasan digital yang dialami banyak orang lain. 

Kekuatan ini biasanya dibangun dari pengalaman, kepercayaan diri, dan pemahaman mendalam tentang prioritas hidup.

4. Jago Melakukan Banyak Hal Sekaligus

Punya inbox penuh bisa juga menjadi tanda bahwa seseorang sedang sangat sibuk, bukan ceroboh. 

Dalam psikologi, orang seperti ini disebut high-functioning multitaskers.

Mereka mampu menjalankan banyak tanggung jawab secara bersamaan, meski tidak selalu tampak tertib dari luar.

Mereka bisa sedang mengurus proyek kerja, mengelola tim, merancang ide bisnis baru, atau bahkan mengurus kehidupan pribadi yang kompleks. 

Di tengah semua itu, email sering kali bukan prioritas. Bukan karena tidak penting, tapi karena waktu dan energi sudah habis untuk hal-hal yang lebih mendesak. 

Orang tipe ini biasanya tahu mana yang harus diutamakan, walau kadang terlihat ‘berantakan’ bagi orang lain.

5. Punya Sisi Optimis yang Kuat

Orang yang membiarkan email menumpuk juga bisa jadi adalah tipe yang optimis. 

Mereka percaya bahwa semua akan baik-baik saja, dan jika ada sesuatu yang benar-benar penting, pasti akan muncul kembali atau diingatkan oleh pengirim.

Ini dikenal sebagai optimistic bias atau kecenderungan untuk melihat masa depan dengan kacamata positif, bahkan saat realita tidak selalu seindah itu.

Optimisme ini membuat mereka tidak mudah stres dan bisa menjalani hari-hari dengan lebih ringan. 

Namun sisi lainnya, kadang mereka bisa melewatkan hal-hal penting karena terlalu mengandalkan ‘nanti juga beres sendiri’. 

Ini bisa menjadi kekuatan jika dikombinasikan dengan kewaspadaan, tapi juga bisa menjadi jebakan jika tidak dikendalikan dengan bijak.

 

6. Fokus Hanya pada Hal yang Dianggap Penting

Banyak orang membaca setiap email yang masuk karena merasa itu bagian dari tanggung jawab. 

Tapi ada juga yang punya kemampuan selective attention, yaitu fokus hanya pada hal yang benar-benar dianggap penting dan relevan. 

Mereka bisa langsung membedakan mana informasi yang berharga dan mana yang hanya gangguan digital.

Dalam dunia yang banjir informasi seperti sekarang, kemampuan ini sebenarnya sangat bernilai. 

Mereka tidak mudah terdistraksi dan bisa menjaga fokus pada hal-hal prioritas. 

Sayangnya, ini bisa juga membuat mereka melewatkan pesan-pesan penting yang tersembunyi di antara banyak spam atau email yang tampak tidak mendesak, padahal berisi peluang.

7. Tidak Takut Jadi Beda dari Orang Lain

Di zaman sekarang, ada tekanan sosial tak tertulis bahwa inbox harus selalu nol, semua pesan harus dijawab cepat, dan kita harus selalu ‘responsif’. 

Tapi tidak semua orang setuju dengan standar ini. Mereka yang nonconformist cenderung mengikuti nilai dan kenyamanan pribadinya, bukan apa yang dianggap normal oleh kebanyakan orang.

Mereka tidak panik saat notifikasi berdatangan, tidak merasa bersalah karena tidak langsung membalas, dan tidak takut dianggap ‘tidak profesional’ selama mereka tahu apa yang mereka lakukan. 

Ini menunjukkan tingkat kemandirian berpikir yang tinggi dan keberanian untuk hidup sesuai dengan prinsip pribadi, bukan tekanan luar.

 

***

EDITOR: Novia Tri Astuti