← Beranda

Mengapa Beberapa Orang Sering Sekali Meminta Maaf Meskipun Mereka Tidak Salah? Ternyata Ini Alasan dari Sisi Psikologisnya

Elista Ita YustikaSenin, 14 April 2025 | 18.00 WIB
Ilustrasi orang yang meminta maaf. (Freepik)

JawaPos.com - Pernahkah kamu bertemu dengan seseorang yang mudah sekali meminta maaf, bahkan saat mereka tak melakukan kesalahan? Atau mungkin kamu sendiri seperti itu?

Orang-orang ini sering tanpa sadar memiliki kebiasaan refleks untuk mengucap “maaf” dalam berbagai situasi, bahkan yang tak perlu.

Ternyata, perilaku ini bukan hanya soal kepribadian. Biasanya, ada pengalaman masa kecil yang berperan besar dalam membentuk kebiasaan ini.

Melalui artikel yang dikutip dari geediting.com, Minggu (13/4) ini, mari kita bahas beberapa penyebab umumnya.

1. Tumbuh di Lingkungan yang Tidak Mentolerir Kesalahan

Jika sejak kecil seseorang hidup di lingkungan yang keras terhadap kesalahan, mereka akan tumbuh dengan rasa takut bersalah dan merasa perlu terus meminta maaf, bahkan untuk hal kecil yang bukan kesalahan mereka. Kebiasaan ini terbawa hingga dewasa dan muncul dalam berbagai situasi sosial.

2. Pernah Merasa Diabaikan

Anak-anak yang merasa tak diperhatikan atau kurang mendapatkan kasih sayang sering mengembangkan perilaku minta maaf berlebihan sebagai bentuk penyesuaian diri.

Mereka merasa keberadaan mereka mengganggu, sehingga meminta maaf menjadi cara untuk “memperkecil diri”.

3. Terpapar Manipulasi Emosional

Di lingkungan yang penuh manipulasi emosional, anak belajar menggunakan permintaan maaf sebagai mekanisme bertahan, untuk meredakan konflik dan menghindari masalah. Pola ini bisa menetap hingga dewasa, meski situasinya sudah berbeda.

4. Selalu Dibandingkan dengan Orang Lain

Dibesarkan dengan perbandingan yang terus-menerus dapat menanamkan rasa tidak percaya diri. Anak tumbuh merasa tak pernah cukup baik, dan sebagai respons, mereka jadi terbiasa minta maaf, meski tak tahu pasti kenapa.

5. Tumbuh di Lingkungan Penuh Tekanan

Ketegangan di rumah, seperti konflik orang tua atau tekanan akademis, bisa membuat anak menggunakan “maaf” sebagai pelindung emosional.

Ini berkembang menjadi kebiasaan untuk meredakan stres, bahkan saat stres itu bukan berasal dari dirinya.

6. Dibesarkan oleh Orang Tua yang Tak Hadir Secara Emosional

Jika orang tua tidak responsif terhadap kebutuhan emosional anak, anak bisa merasa tak terlihat. Permintaan maaf berulang menjadi cara untuk menarik perhatian dan merasa diakui keberadaannya.

7. Pernah Jadi Korban Bullying

Pengalaman dibully membuat seseorang merasa dirinya adalah masalah. Akibatnya, mereka tumbuh dengan kecenderungan meminta maaf terus-menerus, bahkan sebelum melakukan sesuatu, sebagai cara untuk menghindari konflik.

EDITOR: Hanny Suwindari