← Beranda

Gengsi Lebih Besar dari Isi Dompet? Ini 8 Kebiasaan Orang yang Bangkrut tapi Masih Berusaha Tampak Kaya

Vindi Rayinda AyudyaSelasa, 18 Maret 2025 | 04.17 WIB
Ilustrasi orang yang sebenarnya bangkrut tetapi masih berusaha tampil kaya. (astrotalk.com)

 

Jawapos.Com - Di era media sosial dan gaya hidup serba glamor, banyak orang yang rela melakukan apa saja demi terlihat sukses dan kaya, meskipun kenyataannya mereka sedang mengalami kesulitan keuangan. 

Mereka yang memiliki gengsi lebih besar daripada isi dompet cenderung mempertahankan gaya hidup mewah yang tidak sesuai dengan kondisi keuangan mereka. 

Alih-alih membangun stabilitas finansial, mereka justru semakin terjebak dalam utang dan ilusi kemewahan yang semu. 

Dilansir dari DMNews, inilah delapan kebiasaan yang sering dilakukan oleh orang yang sebenarnya bangkrut tetapi masih berusaha tampil kaya.

1. Hidup di Luar Kemampuan

Salah satu ciri paling mencolok dari orang yang lebih mementingkan gengsi adalah gaya hidup yang tidak sesuai dengan penghasilan mereka. 

Mereka gemar membeli barang-barang mewah seperti pakaian bermerek, gadget terbaru, atau mobil mahal, meskipun kondisi finansial mereka tidak memadai. 

Demi memenuhi standar gaya hidup tinggi ini, mereka sering kali menggunakan kartu kredit secara berlebihan, mengambil pinjaman konsumtif, atau bahkan berhutang kepada teman dan keluarga. 

Akibatnya, mereka terus terjebak dalam lingkaran utang tanpa akhir, hanya demi mempertahankan penampilan yang sebenarnya semu.

Mereka mungkin memiliki rumah mewah yang sebenarnya masih dalam cicilan panjang atau sering makan di restoran mahal meskipun sebenarnya sulit untuk menutupi pengeluaran sehari-hari. 

Prioritas mereka bukanlah kesejahteraan finansial jangka panjang, tetapi bagaimana orang lain melihat mereka dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga: Jika Anda Sering Melakukan 7 Hal Ini, Bisa Jadi Anda Sedang Mengalami Kebosanan Berat dalam Hidup

2. Terus-Menerus Mengejar Validasi Orang Lain

Orang yang berusaha tampak kaya sering kali memiliki kebutuhan tinggi akan pengakuan dari orang lain. 

Mereka sangat peduli dengan bagaimana mereka dilihat oleh teman, rekan kerja, dan bahkan orang asing di media sosial. 

Setiap keputusan finansial yang mereka buat bukan didasarkan pada kebijaksanaan atau kebutuhan, melainkan pada keinginan untuk memperoleh pengakuan sosial.

Mereka merasa bahwa harga diri mereka bergantung pada seberapa mewah kehidupan yang mereka tunjukkan. 

Oleh karena itu, mereka kerap membeli barang-barang mahal bukan karena butuh, tetapi karena ingin dilihat sebagai orang sukses. 

Mereka akan lebih memilih membeli pakaian mahal meskipun harus berhemat dalam hal-hal lain yang lebih penting, seperti investasi atau tabungan untuk masa depan.

3. Mengutamakan Citra daripada Realitas

Demi menjaga citra sebagai orang kaya, mereka rela mengorbankan hal-hal yang lebih penting seperti tabungan, investasi, atau pendidikan finansial. 

Mereka lebih suka menghabiskan uang untuk nongkrong di tempat mahal, menghadiri pesta eksklusif, atau traveling ke destinasi mewah agar bisa mendapatkan foto yang tampak glamor di media sosial.

Realitas keuangan mereka mungkin jauh dari stabil, tetapi selama orang lain melihat mereka sebagai individu yang sukses, itu sudah cukup bagi mereka. 

Padahal, gaya hidup semacam ini sering kali hanya memberikan kebahagiaan semu yang tidak bertahan lama. 

Ketika mereka menghadapi kesulitan finansial yang nyata, citra yang telah mereka bangun tidak akan membantu mereka keluar dari masalah.

4. Tidak Memiliki Perencanaan Keuangan yang Jelas

Salah satu faktor utama yang menyebabkan seseorang terjebak dalam ilusi kemewahan adalah kurangnya perencanaan keuangan yang matang. 

Mereka tidak memiliki anggaran bulanan, tidak menyisihkan dana darurat, dan tidak memikirkan investasi untuk masa depan. 

Setiap penghasilan yang mereka peroleh langsung dihabiskan untuk memenuhi gaya hidup tanpa mempertimbangkan dampaknya dalam jangka panjang.

Mereka juga sering mengabaikan pentingnya memiliki dana darurat, sehingga ketika menghadapi situasi tak terduga seperti kehilangan pekerjaan atau kondisi darurat medis, mereka tidak memiliki cadangan finansial untuk bertahan. 

Alih-alih mencari cara untuk mengelola keuangan dengan lebih bijak, mereka malah terus mempertahankan kebiasaan boros dan hidup di luar kemampuan mereka.

5. Mengabaikan Pengembangan Diri dan Pendidikan Finansial

Alih-alih berinvestasi dalam pengembangan diri atau belajar tentang keuangan, mereka lebih memilih menghabiskan uang untuk hal-hal yang memberikan kepuasan instan. 

Mereka jarang meluangkan waktu untuk membaca buku tentang investasi, menghadiri seminar keuangan, atau mengembangkan keterampilan yang dapat meningkatkan penghasilan mereka.

Akibatnya, mereka terus terjebak dalam siklus utang dan kesulitan finansial tanpa tahu bagaimana cara keluar dari masalah tersebut. 

Mereka lebih peduli dengan tren terbaru daripada membangun fondasi keuangan yang kuat. 

Sayangnya, tanpa pendidikan finansial yang memadai, mereka akan terus mengulang kesalahan yang sama dan sulit mencapai kestabilan keuangan yang sebenarnya.

6. Hubungan Sosial Hanya Berdasarkan Status dan Materi

Orang yang lebih mementingkan gengsi sering kali membangun hubungan berdasarkan status sosial dan materi. 

Mereka hanya ingin bergaul dengan orang-orang yang mereka anggap berada di level sosial yang sama atau lebih tinggi. 

Mereka mengabaikan hubungan yang bermakna dan hanya fokus pada pergaulan yang bisa meningkatkan citra mereka.

Mereka cenderung menghindari orang-orang yang dianggap tidak "selevel" dengan mereka, meskipun sebenarnya hubungan tersebut bisa lebih tulus dan jujur. 

Akibatnya, mereka kehilangan kesempatan untuk menjalin pertemanan yang berkualitas dan mendukung pertumbuhan pribadi mereka.

7. Mengabaikan Kenyataan Finansial yang Sebenarnya

Meskipun sadar bahwa kondisi keuangan mereka buruk, mereka tetap memilih untuk mengabaikannya. 

Mereka menolak menghadapi kenyataan bahwa utang semakin menumpuk atau bahwa penghasilan mereka tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan dasar. 

Alih-alih mencari solusi, mereka terus menutupi masalah dengan ilusi kemewahan yang semakin memperburuk kondisi mereka.

Mereka mungkin menunda membayar tagihan atau terus meminjam uang tanpa memikirkan bagaimana cara melunasinya. 

Sayangnya, semakin lama mereka menunda menghadapi kenyataan, semakin besar pula masalah yang harus mereka hadapi di kemudian hari.

8. Ketakutan Akan Kegagalan dan Penilaian Orang Lain

Ketakutan akan kegagalan dan penilaian orang lain membuat mereka terus mempertahankan gaya hidup yang sebenarnya tidak bisa mereka tanggung. 

Mereka takut dicap sebagai orang gagal atau mengalami penurunan status sosial jika mulai hidup sesuai dengan kemampuan mereka yang sebenarnya.

Padahal, menerima kenyataan dan mengambil langkah untuk memperbaiki kondisi keuangan adalah hal yang jauh lebih penting daripada mempertahankan citra palsu. 

Mengubah kebiasaan buruk, mulai mengelola keuangan dengan bijak, dan membangun fondasi finansial yang kuat jauh lebih bernilai daripada sekadar tampil kaya di mata orang lain.

***

EDITOR: Novia Tri Astuti