JawaPos.com - Sebelum kita tidak peduli tentang pikiran orang lain, pasti pernah mengalami fase stres karena ingin menjadi yang orang lain pikirkan. Tapi semua itu tentang proses pengembangan diri.
Dikutip dari laman Identitias Unhas pada Kamis (13/03) sikap tidak peduli ini juga kerap disebut dengan masa bodoh, efek berkelanjutan dari sikap ini akan membuka berbagai pintu untuk menjadi individu yang sehat secara mental.
Melansir dari laman Blog Herald pada Kamis (13/03) inilah 8 tanda yang pada akhirnya kamu sudah tidak peduli lagi tentang pikiran orang lain tentangmu :
1. Lebih percaya diri dalam mengambil keputusan
Secara bertahap, kamu te;ah menyadari adanya perubahan pola. Jika suatu keputusan terasa benar, kamu akan melakukannya, terlepas dari omongan orang lain.
Terjebak dalam lingkaran membandingkan kehidupan nyata dengan momen-momen penting orang lain merupakan tanda utama bahwa kamu tidak puas dengan jalan hidup saat ini.
Seperti yang pernah dikatakan Michelle Obama, "Salah satu pelajaran yang saya peroleh saat tumbuh dewasa adalah untuk selalu jujur pada diri sendiri."
Mungkin kedengarannya sederhana, tetapi keberanian untuk mengutamakan pendapat sendiri daripada pendapat orang lain adalah ciri khas pertumbuhan pribadi yang sesungguhnya.
2. Tidak terlalu khawatir tentang "seharusnya"
"Kamu harus berpakaian seperti ini," "Kamu seharusnya sudah menikah sekarang," "Kamu seharusnya sudah punya anak" kita semua tahu suara-suara dari luar.
Ketika tidak lagi terlalu peduli dengan pikiran orang lain, "seharusnya" akan kehilangan kekuatannya. Alih-alih berfokus pada hal yang menurut orang lain, kamu berfokus pada apa yang benar-benar sejalan dengan nilai-nilai sendiri.
3. Dapat menangani kritik dengan tenang
Jujur saja bahwa tidak ada yang kebal terhadap sengatan kritik. Saat kamu berada di jalan untuk tidak terlalu peduli dengan pikiran orang lain, akan menyadari bahwa kritik sering kali hanyalah perspektif orang lain, yang dipengaruhi oleh bias dan pengalaman sendiri.
Kritik tidak selalu tentang sesuatu yang dikatakan orang, tapi kritik adalah tentang alasan mereka mengatakannya. Jika kamu sudah mengetahui perbedaan tersebut, dapat menangani umpan balik tanpa membiarkannya merusak seluruh jati diri.
4. Memupuk hubungan yang tulus
Saat tidak terlalu disibukkan dengan persetujuan publik, hubungan menjadi lebih autentik karena kamu tidak lagi berubah bentuk agar diterima atau menyenangkan semua orang.
Tony Robbins memiliki perspektif hebat tentang hal ini, dengan menyatakan, "Kualitas hidupmu adalah kualitas hubunganmu." Hubungan yang bermakna membutuhkan kejujuran dan keterbukaan.
5. Sudah menetapkan batasan
Orang yang saling bergantung sering kali mengarahkan hidup mereka pada persetujuan atau kebutuhan orang lain, sehingga hanya menyisakan sedikit ruang untuk kebutuhan sendiri.
Namun, ketika kamu menguasai seni untuk tidak terlalu peduli dengan pikiran orang lain, akan menyadari betapa pentingnya menetapkan dan menghormati batasan.
Daniel Goleman, yang dikenal karena karyanya tentang kecerdasan emosional, menekankan bahwa kesadaran diri dan pengelolaan diri adalah landasan hubungan yang sehat.
6. Kamu dibimbing oleh nilai-nilai, bukan keinginan untuk menyenangkan orang lain
Tidak peduli dengan penilaian orang lain tidak berarti menjadi egois atau acuh tak acuh terhadap kesejahteraan orang lain. Itu berarti kamu berhenti membiarkan tekanan eksternal membayangi nilai-nilai pribadimu.
Nilai-nilai adalah kompas moral yang membimbing kita menuju apa yang kita yakini benar atau salah, memuaskan atau melelahkan, berharga atau sia-sia. Brené Brown pernah berkata, "Integritas adalah memilih keberanian daripada kenyamanan."
Alih-alih mencari pujian sesaat, kamu sudah fokus menjalani hidup yang selaras dengan jati diri yang sebenarnya.
7. Menerima perbedaan
Seperti yang pernah dikatakan Maya Angelou, "Jika kamu selalu berusaha menjadi normal, kamu tidak akan pernah tahu betapa menakjubkannya dirimu." Normal dapat dinilai terlalu tinggi jika itu berarti menekan kualitas yang membuatmu menonjol.
8. Merasa nyaman dengan diri sendiri
Merasa nyaman dengan diri sendiri adalah tonggak penting, kamu tidak akan terjebak dalam siklus menyenangkan orang lain dan terlalu banyak berpikir. Sebaliknya, akan mengingatkan diri sendiri tentang siapa dirimu sebenarnya dan terus melangkah maju dengan rasa percaya diri yang tenang.